Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perempuan Sangat Bernilai Dalam Islam

Thursday, May 23, 2024 | Thursday, May 23, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:46:09Z

Oleh. Irohima
(Pegiat Literasi)

Lagi-lagi kaum perempuan kembali didorong terlibat sebagai penggerak ekonomi negara untuk menutupi kegagalan sistem kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Banyaknya persoalan yang mendera kaum perempuan saat ini tak menghentikan berbagai upaya untuk mengeksploitasi mereka dengan dalih apresiasi terhadap kaum perempuan serta mewujudkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam aspek pekerjaan. Sungguh miris, nilai perempuan dilihat dari seberapa banyak dia bisa menghasilkan cuan dan kemandirian finansial.

Dalam acara The 2nd UN Tourism Regional Conference on the Empowerment of Women in Tourism in Asia and The Pacific di Bali, konferensi tersebut membahas tentang pemberdayaan perempuan dalam bidang pariwisata. Badan khusus PBB yang memiliki misi mempromosikan pariwisata menyatakan bahwa perempuan bisa berperan besar dalam upaya memajukan pariwisata. Angela Tanoesoedibjo, selaku wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menyebutkan bahwa kaum hawa memiliki peran penting dalam bisnis pariwisata.

Hal senada juga diungkapkan oleh Director of the Regional Department for Asia and Pasiific UN Tourism, Harry Hwang yang menyebut bahwa agenda 2030 PBB untuk tujuan pembangunan berkelanjutan dan kode etik pariwisata global akan memastikan bahwa sektor pariwisata akan memberikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan dalam berkontribusi terhadap pencapain kesetaraan gender, dan Harry pun berharap dengan adanya konferensi tersebut, dapat mendobrak hambatan bagi generasi mendatang dan menginspirasi serta menarik generasi muda khususnya perempuan untuk berkarir dalam dunia pariwisata (Suara, 02/05/2024).

Kesetaraan gender kemudian menjadi isu yang penting untuk diwujudkan dengan berbagai upaya termasuk mendorong keterlibatan kaum perempuan dalam dunia pariwisata. Ini adalah bukti kegagalan sistem kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Negara diarahkan untuk mengembangkan sektor nonstrategis seperti pariwisata sementara sektor vital seperti SDA justru dikuasai oleh swasta ataupun asing. Padahal perbandingan antara keduanya sangat timpang. Pendapatan negara yang berasal dari pariwisata sangat jauh dari kata cukup. Tapi sayang, hingga kini kita selalu saja berkutat pada hal yang remeh temeh dan mengabaikan hal besar (sektor strategis) seperti SDA yang bisa menjadi sumber pendapatan negara yang hasilnya lebih dari cukup untuk membiayai segala keperluan negara dan rakyat.

Mendorong perempuan untuk terlibat dalam pergerakan perekonomian negara dengan dalih pemberdayaan perempuan ataupun upaya mewujudkan kesetaraan gender hanyalah siasat sistem kapitalisme untuk menutupi kegagalannya dalam meriayah dan mensejahterakan rakyat.

Upaya tersebut justru merusak fitrah perempuan dan akan membahayakan nasib anak-anaknya. Keluarnya perempuan untuk bekerja membuat peran dan tanggung jawab sebagai istri dan seorang ibu akan hilang. Anak-anak menjadi tak terurus, kehilangan kasih sayang dan perhatian dan tertukarnya peran antara suami dan istri.

Seorang ibu ibarat sebuah jantung dalam sebuah rumah, bisa dibayangkan kerusakan demi kerusakan yang akan terjadi jika seorang ibu lebih memilih keluar bekerja dari pada menjalankan fitrahnya sebagai perempuan. Dari maraknya tren perempuan yang bekerja di luar rumah, kemudian muncul persoalan anak-anak yang broken home, kenakalan hingga kriminalitas di kalangan anak muda, kasus perselingkuhan, kekerasan hingga perceraian, dan masih banyak lagi.

Kondisi anak-anak yang terkena dampak dari keluarnya sang Ibu dari rumah makin memprihatinkan tatkala budaya asing yang ditimbulkan dari pariwisata turut meracuni pemikiran mereka.

Situasi ini tak bisa kita biarkan terus menerus, karena akan membahayakan kelangsungan hidup kita terutama generasi. Sistem kapitalisme yang terbukti gagal harus kita tinggalkan dan ganti dengan sistem yang mampu membawa kita keluar dari penderitaan. Satu-satunya sistem yang bisa menjadi solusi atas semua persoalan ini adalah Islam, karena hanya Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali dalam mengatur peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan agar seimbang dan tidak menyalahi fitrah.

Islam memiliki sistem ekonomi yang tangguh dan mampu menjamin kesejahteraan rakyat termasuk kaum perempuan. Dalam kebijakan politik ekonomi Islam, negara adalah pihak yang bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, serta kebutuhan kolektif rakyat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

Negara wajib menjamin tercukupinya kebutuhan tiap individu termasuk perempuan. Dalam Islam, perempuan memiliki peran utama sebagai Ummu Warrabbatul bayt, yaitu pengurus rumah tangga dan suami serta berperan sebagai pendidik anak-anaknya. Meski demikian, Islam juga memberi kesempatan bagi perempuan untuk berada di ranah publik sebagai intelektual ataupun politikus. Tidak ada yang timpang dalam kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam Islam seperti yang sering dituduhkan kaum pegiat feminisme.

Islam menetapkan hukum dan perlakuan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki bukan untuk merendahkan atau meninggikan salah satunya, melainkan menempatkan mereka sesuai dengan peran dan fitrahnya.

Peran sebagai pencari nafkah yang diwajibkan pada pria, semata-mata karena Islam memuliakan bukan membatasi ruang gerak perempuan. Bukan pula menganggap bahwa perempuan sama sekali tidak memiliki peran, justru peran mereka sebagai pendidik bagi anak-anaknya lebih memerlukan tanggung jawab yang besar, karena baik dan buruknya kualitas generasi, selain negara, Ibu juga menjadi faktor penentu.

Sejatinya ide kesetaraan gender dan prinsip kebebasan berperilaku yang digaungkan oleh kaum feminis adalah ide yang merusak. Ide yang digadang-gadang sebagai ide untuk memperjuangkan hak-hak perempuan nyatanya menimbulkan berbagai kerusakan dan berbagai penderitaan yang dialami kaum perempuan. Hanya dengan sistem Islam kesejahteraan dan kemuliaan perempuan dapat terwujud, oleh karena itu, kembali pada Islam adalah satu-satunya jalan dan sebuah keharusan jika tak ingin tenggelam dalam kehancuran.

Wallahu a’lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update