By : Sari Setawati
Sebutan yang tepat dilontarkan untuk negara zionis Yahudi yang tepat ialah brutal dan biadab. Hingga saat ini, entitas Yahudi terus melancarkan serangan brutal dan membabi buta terhadap warga Gaza, bahkan mereka menyerang Rafah yang menjadi tempat pengungsian/penampungan terakhir warga Gaza yang di perkirakan 1,5 juta jiwa. Zionis juga memblokade bantuan kemanusiaan dan menyerang berbagai suplai logistik untuk para korban, membunuh, membiarkan warga Gaza kelaparan dan kekurangan fasilitas medis, itulah siasat keji zionis Israel sampai pekan ini jumlah korban akibat kekejian zionis yahudi diperkirakan 35 ribu juta jiwa hampir separuh korban perempuan dan anak-anak. Negara zionis juga tidak menggubris kecaman dari berbagai pihak dan negara lainnya. Penduduk dunia banyak yang mengecam kebrutalan zionis Yahudi.
Di berbagai negara, orang berbondong-bondong berdemonstrasi mengutuk kejahatan zionis. Di Amerika Serikat ribuan mahasiswa berdemo di berbagai kampus seperti Universitas Colombia, UCLA, George Washington, dsb. Selain berdemo mereka juga menyerukan, “Free Palestina”. Demo juga terjadi di berbagai negara seperti Kanada, Jerman, Perancis, Inggris, Jepang dan Korea Selatan. Fenomena ini menunjukkan kebencian terhadap negara zionis semakin meluas.
Pada hakikatnya, zionis Yahudi adalah negara yang rapuh serapuh sarang laba-laba, bukan negara yang besar, apalagi adidaya. Kerapuhannya negara zionis sudah terlihat tanda-tandanya antara lain:
Pertama: Militer Yahudi sebenarnya mengalami kekalahan fisik maupun mental sejak 7 Oktober tahun lalu. Militer zionis Melaporkan banyak kendaraan- kendaraan tempur mereka rusak berat yaitu tank lapis baja, tank Merkava, dan buldoser mereka juga hancur. Itu dari sektor darat, belum lagi dalam sektor udara seperti helikopter dan drone pengintal. Begitu juga dengan prajuritnya, juga banyak yang luka – luka bahkan tewas yang mencapai 3.600 personil. Tragisnya lagi adalah, banyak anggota pasukan yang mengalami gangguan jiwa dan tingginya angka bunuh diri tentara mereka akibat stess karena perang.
Kedua: Terancamnya Ekonomi yang mulai resesi yang mengalami kerugian akibat perang yang tidak ada hentinya di perkirakan mencapai sekitar US$ 67 miliar atau Rp 1.061 triliun. Banyak sektor usaha yang tutup, seperti pariwisata dan kekurangan tenaga kerja akibat ketegangan di Gaza.
Ketiga: Hilangnya kepercayaan rakyat Israel atas pemerintahan yang di pimpin oleh PM Netanyahu hingga berdemo supaya Netanyahu mundur dari jabatannya karena mengalami krisis akibat perang.
Kelima: Entitas Yahudi semakin terkucil di dunia internasional, ICC, Mahkamah pidana internasional memutuskan bahwa mereka memiliki yurisdiksi atas kekejaman terhadap warga Palestina yang terus-menerus. Palestina juga mendapat dukungan 143 dari 193 di negara Majelis Umum Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) pada Jumat ( 10/5/2024) untuk menjadi anggota penuh PBB. Hal itu membuat negara zionis terkucilkan di pentas dunia.
Sudah sedemikian rapuhnya entitas Yahudi tapi belum bisa mengatasi masalah krisis Palestina. Solusinya bukan pada PBB ataupun ICC, tetapi persoalan Gaza ada di tangan umat Muslim sendiri dengan tuntas dengan hukum Islam, bukan dengan undang-undang buatan manusia. Sedangkan Two – state solution (solusi dua negara) bertentangan dengan hukum Islam, solusi tersebut justru menjadi perangkap untuk umat Muslim khususnya rakyat Palestina.
Mirisnya, musibah besar yang menimpa umat hari ini justru adalah keberadaan penguasa muslim, terutama pemimpin Arab dan Turki, yang menghalangi penyelesaian krisis Gaza. Penguasa Mesir juga meninggikan tembok penghalang dan menutup rapat-rapat perbatasan dengan Gaza agar warganya tidak bisa melihat dan memberikan pertolongan. Bahkan sejumlah penguasa Arab memfasilitasi pasukan dan persenjataan dari AS yang akan digunakan untuk membantu militer zionis.Karena itu krisis Gaza ini tidak akan selesai selama para penguasa Dunia Islam masih menjadi antek Barat dan kepentingan nasionalisme mereka. Sesungguhnya, negara-negara Arab dan Turki itulah penjaga eksistensi negara zionis di jantung kaum muslim.
Maka, tidak ada yang dapat menyelesaikan persoalan kaum muslim selain dengan Islam. Islam adalah satu-satunya solusi untuk menghentikan genosida terhadap Gaza dengan cara jihad fi sabilillah dan mengerahkan pasukan muslim untuk menolong warga Gaza dan mengusir entitas Yahudi dari tanah Palestina selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.
Solusi ini hanya bisa di lakukan ketika semua kaum Muslim bersatu di bawah institusi negara yang menerapkan Islam secara kaffah. Itulah satu-satunya solusi yang harus dipikirkan dan diperjuangkan umat supaya tidak ada lagi kaum-kaum muslim yang terdzolimi seperti muslim Uighur, Rohingya, Palestina yang masih tertindas sampai saat ini. Maka, jangan lupa berdoa kepada pemilik semesta yaitu Allah Swt karena hanya dengan ijinNya-lah semua itu akan terwujud.
No comments:
Post a Comment