Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kekuatan Dinar dan Dirham dalam Menstabilkan Ekonomi

Sunday, May 05, 2024 | Sunday, May 05, 2024 WIB Last Updated 2024-05-04T23:34:42Z


Oleh Neneng Hermawati

Pendidik Generasi Cemerlang


Beberapa minggu terakhir ini terpantau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus  melemah, sampai menebus level 16.200 rupiah per dolar AS. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi melemahnya rupiah terhadap dolar AS, di antaranya adalah: 


Pertama, meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel di Timur Tengah. Jika konflik ini berlarut-larut akan mempengaruhi rantai pasok minyak global. Kalau saja Iran bertindak memutuskan memblokade selat Hormuz yang menjadi jalur pengiriman minyak terpenting di dunia, maka akan berpengaruh terhadap meroketnya harga minyak dunia. Indonesia sebagai pengimpor minyak akan membutuhkan pengeluaran lebih banyak dan neraca perdagangan bisa mengalami defisit. Hal tersebut akan menekan rupiah lebih anjlok lagi.


Kedua, sikap The Fed-bank sentral AS-untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dengan tujuan untuk meredam laju inflasi AS. Selama suku bunga The Fed masih tinggi, investor global akan lebih tertarik menyimpan uangnya di pasar AS sehingga memicu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang seperti Indonesia. 


Saat ini, dolar AS menjadi acuan bagi transaksi global, mata uang dolar AS memiliki kekuatan mempengaruhi dan pengendali kondisi ekonomi global. Inilah eksistensi AS sebagai pengemban ideologi kapitalis dunia. 


Anjloknya nilai tukar rupiah pasti sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Harga barang-barang akan mengalami kenaikan sebagai imbas dari bahan baku impor dan lonjakan biaya produksi dan logistik. Begitu pun dengan harga BBM dan LPG akan merangkak naik mengikuti harga pasar  internasional disebabkan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Kenaikan harga BBM dan LPG secara otomatis akan diikuti dengan kenaikan produk-produk lainnya. Akhirnya, daya beli masyarakat menurun dan kegiatan ekonomi bisa mandek. Imbasnya pertumbuhan ekonomi akan melambat. 


Keterpurukan ekonomi seperti ini akan terus terjadi jika Indonesia selalu bergantung terhadap impor dan dominasi dolar AS sebagai mata uang internasional masih berlanjut. Di sisi lain, uang kertas (fiat money) sangat rentan terhadap inflasi, sehingga nilainya akan terus melemah. Hal ini karena fiat money sekarang tidak mengharuskan adanya cadangan fisik, seperti emas dan perak. Fiat money sampai kapanpun tidak akan pernah stabil. 


Berbeda dengan sistem ekonomi Islam. Islam menetapkan mata uang berbasis emas dan perak. Sistem ini lebih stabil dan adil, sehingga perekonomian tidak akan mengalami krisis ataupun inflasi. Hal tersebut terbukti sejak masa Rasulullah saw. (1400 tahun yang lalu) sampai sekarang harga seekor kambing satu dinar atau yang besar seharga dua dinar tidak mengalami perubahan. Harga kambing inflasinya adalah nol. Mata uang Islam dinar dan dirham tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif. 


Oleh karena itu, perekonomian suatu negara akan tahan terhadap krisis dan inflasi, jika emas dan perak digunakan sebagai mata uang resminya. Mata uang emas dan perak tidak bisa dipermainkan oleh mata uang kertas manapun. Walhasil, penggunaan sistem mata uang dinar dan dirham yang ditetapkan oleh suatu negara, ekonomi rakyat akan berjalan stabil, jauh dari krisis ekonomi ataupun pelemahan nilai tukar mata uang.


Sudah saatnya kita sebagai muslim mengembalikan sistem ekonomi Islam dalam sebuah sistem yang pernah dicontohkan oleh  Rasulullah saw. dan membuang sistem ekonomi kapitalis. Umat pasti akan meraih keberkahan dan kejayaannya kembali sebagaimana 1400 tahun yang lalu.


Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update