Era Kapitalis Sekuler Penyebab Menurunnya Angka Pernikahan


 

Oleh: Jasmine Fahira Adelia

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

 

 

Angka pernikahan di Indonesia pada 2023 mengalami penurunan, melansir dari detik.com, BPS menjelaskan bahwa jumlah pernikahan di Indonesia pada 2023 sebanyak 1.577.255. Angka ini turun drastis sebanyak 128.000 dari angka pernikahan di 2022. Angka penurunan ini terjadi hampir di semua daerah, DKI Jakarta turun hampir di angka 4 ribu sementara di Jawa Barat penurunan terjadi hampir 29 ribu.

 

Dalam artikel detik.com, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair yakni Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi menjelaskan adanya penurunan angka pernikahan ini terjadi karena saat ini perempuan bisa memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan potensinya. Hal tersebut sudah banyak kita jumpai saat ini, banyak perempuan yang mulai masuk ke ranah ekonomi, politik dan lain sebagainya bahkan tak jarang perempuan yang kerap menjadi pemimpin di suatu perusahaan.

 

Namun Prof Bagong juga melanjutkan bahwa ada penyebab lain dari turunnya angka pernikahan saat ini adalah tidak banyaknya laki-laki yang sudah dalam kondisi ekonomi yang mapan karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan di Indonesia saat ini. Belum lagi pemikiran-pemikiran yang mulai berkembang di tengah masyarakat seperti childfree, perceraian, selingkuh, KDRT berkemungkinan menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan terkait pernikahan.

 

Era kapitalisme sekuler saat ini jelas banyak merubah pemikiran masyarakat. Menikah yang awalnya adalah suatu fitrah dan yang dianjurkan dalam agama kini menjadi suatu hal yang menakutkan bahkan sampai memutuskan untuk enggan menikah. Ditambah pengalaman rumah tangga kedua orang tua yang mungkin tidak berhasil dan banyak memberikan trauma pengasuhan kepada anak, sehingga anak merasa khawatir untuk menikah karena terbayang oleh rumah tangga orang tuanya.

 

Namun akan selalu ada solusi di balik masalah yang terjadi saat ini. Kita kembalikan pada Al-Qur’an yang sudah menjadi petunjuk bagi manusia. Islam sudah mengatur bagaimana pernikahan, bagaimana hak dan kewajiban suami dan istri. Jika kita mau mempelajari bagaimana Islam mengatur segalanya, maka insyaAllah tidak akan ada lagi kekhawatiran untuk menikah.

 

Keinginan untuk tidak menikah lahir dari pemikiran kapitalis yang akhirnya menciptakan standar kesuksesan dalam hidup seperti ekonomi. Kompleks sekali jika menjabarkan satu-satu standar keberhasilan manusia yang diatur oleh manusia. Padahal Allah SWT tidak pernah mewajibkan setiap individu sesuai dengan standar yang ada saat ini. Standar Allah adalah bagaimana kita sebagai hamba menjadi hamba yang taat kepada Allah, mengikuti seluruh aturan-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

 

Maka untuk bisa melepas pemikiran-pemikiran tersebut, yang harus kita lakukan adalah kembali kepada Allah. Kenali Allah lagi dengan mengkaji Islam, mengkaji Al-Qur’an. Juga melihat bagaimana Allah sangat memuliakan hamba-Nya, melihat bagaimana aturan yang Allah buat bukan untuk menyengsarakan kita namun justru melindungi kita.

 

Pahami bahwa Allah menciptakan manusia tidak main-main, Allah sampaikan dalam surah Az-Zariyat ayat 56 yang isinya:

 

ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”(QS az-Zariyat:56).

Maka dalam hidup tentu harus memiliki tujuan, dan Allah telah jelaskan bahwa kita diciptakan di dunia untuk beribadah kepada Allah. Maka menikah adalah salah satu ibadah, bahkan ibadah terpanjang yang kita berharap bisa sampai ke surga-Nya Allah SWT.

 

Jika kita sudah mengetahui siapa Rabb kita, apa tujuan kita diciptakan dan akan ke mana setelah kita meninggal nanti, insyaAllah kekhawatiran dan lain sebagainya tentang pernikahan akan pelan-pelan hilang selama kita mau terus komitmen untuk mempelajari Islam dengan sempurna dan ini berlaku untuk segala aspek dalam kehidupan bukan hanya pernikahan.

 

Sehingga nantinya, bagaimana kita memandang kekhawatiran akan pernikahan bukan lagi dengan menghindarinya atau menakutinya secara berlebih namun kita akan menyibukkan diri kita untuk mempersiapkannya dengan ilmu.[]

 

 

 

 

 

Post a Comment

Previous Post Next Post