Palestina di Ujung Genosida

 



Oleh. Irohima

Hampir 150 hari, serangan  Zionis Yahudi makin brutal, keji, tak berperikemanusiaan. Seolah-olah membuktikan genosida yang ditargetkan, sementara dunia khususnya dunia Islam masih saja bungkam, alih-alih memberi pertolongan, para penguasa negeri Muslim lebih memilih untuk tetap diam menyaksikan saudara seiman mengalami pembantaian dan kelaparan. Ingatlah wahai penguasa negeri-negeri Muslim, kelak Palestina akan bersaksi dan akan mengadukan kalian di hari pembalasan, betapa kalian telah berlaku zalim dan mengkhianati saudara seiman hingga titik darah penghabisan. Saat itu, hanya penyesalan yang akan kau rasakan.

Serangan pasukan Israel ke Gaza Palestine yang telah berlangsung selama hampir lima bulan  telah memakan banyak korban, selama 7 Oktober 2023 hingga 21 Februari 2024 United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs atau OCHA telah mencatat bahwa warga Gaza yang tewas telah mencapai 29.313 jiwa, dan korban yang mengalami luka sebanyak 69.333 orang. Palestina telah luluh lantak akibat pengeboman keji yang intensif dilakukan Israel di Jalur Gaza lewat udara, darat dan laut (databoks, 22/2/2024).
Hal yang lebih kejam, Israel masih saja menyerang warga sipil yang tengah menunggu bantuan kemanusiaan di kota Gaza selatan.

Dengan fakta yang begitu nyata, masih saja mereka berkilah bahwa ini bukan genosida, bersikukuh mengatakan memerangi kelompok teroris yang sebenarnya tak ada. Pendudukan Israel atas Palestina adalah penjajahan yang telah berlangsung lama, konflik Israel-Palestina telah terjadi lebih dari 100 tahun, tepat pada tanggal 2 November 1917. Bermula dari surat Arthur Balfour, menteri luar negeri Inggris kala itu yang ditujukan kepada Lionel Walter Rothschild, tokoh komunitas Yahudi Inggris. Surat yang kemudian hari dikenal sebagai Deklarasi Balfour menjanjikan gerakan zionis sebuah negara di wilayah yang 90% penduduk aslinya adalah Arab Palestina. Selama periode 1923 hingga 1948 Inggris memfasilitasi migrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina pasca mereka terusir oleh gerakan Nazi di Eropa.

Tentu saja migrasi massal kaum Yahudi mendapat perlawanan dari warga Palestina yang khawatir akan adanya perubahan demografi dan penyitaan tanah oleh Inggris untuk diserahkan kepada pemukim Yahudi. Namun perlawanan Palestina kemudian dibalas dengan perlakuan keji Inggris yang pada tahun 1939 mengerahkan sebanyak 30.000 tentara di Palestina, mereka menghancurkan rumah-rumah penduduk, membom desa-desa melalui udara, melakukan penahanan administratif serta melakukan pembunuhan massal terhadap warga Palestina. Inggris bersama zionis telah secara nyata melakukan kejahatan  besar namun karena dukungan negara-negara barat lainnya, mereka telah berhasil memutar balikkan fakta, dan membentuk opini bahwa perlawanan Palestina adalah bentuk pemberontakan teroris dan zionis Israel berhak atas tanah yang menurut mereka adalah tanah yang dijanjikan.

Sejarah mereka ubah, suara yang menyuarakan kebenaran tentang Palestina pun mereka bungkam hingga dengan bertambahnya tahun, populasi Yahudi makin membengkak, tanah hak milik Palestina makin menyusut, ditambah lagi dengan resolusi 181 yang di adopsi PBB yang menyerukan pembagian Palestina menjadi dua negara yakni Arab dan Yahudi. Warga Palestina makin tersingkir di negaranya sendiri.

Sungguh, solusi yang mereka tawarkan sangat tak masuk akal, bisa dibayangkan ketika kaum pendatang diberi hak menguasai tanah tuan rumah. Sebuah narasi yang dipaksakan agar terkesan sebagai sebuah solusi adil, padahal sejatinya melegalkan penjajahan.

Seiring waktu, kebohongan demi kebohongan zionis Israel terungkap, sejak serangan pembelaan yang dilancarkan oleh pejuang Palestina pimpinan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023, mata dunia mulai terbuka. Dampaknya pun tak main-main, gelombang protes dan kecaman terhadap Israel membludak hampir di seluruh dunia, membanjiri laman media sosial, bahkan berbagai kampanye memboikot seluruh produk mulai dari fashion hingga makanan yang terafiliasi dengan Israel menggema.

Dunia kini mulai mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Namun sayang, suara yang gemuruh itu tak cukup untuk menggedor hati para penguasa, mereka tetap diam, mereka hanya mencukupkan diri dengan mengutuk dan mengecam tanpa bereaksi memberikan pertolongan karena mereka telah tersandera oleh berbagai kepentingan.

Miris, Palestina merupakan salah satu negeri dengan mayoritas Muslim, namun saat ini para penguasa negara-negara Muslim seperti pura-pura amnesia dengan salah satu hadis yang mengatakan bahwa muslim itu ibarat satu tubuh, jika satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain akan ikut merasakan sakit. Mereka pura-pura buta untuk melihat kezaliman yang menimpa saudaranya. Terutama negeri-negeri Muslim di sekitar Palestina.

Alih -alih membantu, mereka justru mempersulit Muslim Palestina dengan membangun tembok tinggi yang dialiri listrik, tidak mengirim pasukan, bahkan mereka kerap menahan berbagai bantuan kemanusiaan yang akan disalurkan melalui negara mereka. Inilah dampak buruk dari ide nasionalisme yang diimpor dari barat, nasionalisme telah menciptakan sekat yang memisahkan kaum Muslim dengan batas teritorial wilayah.

Sebutan Muslim Indonesia, Muslim Malaysia, Muslim India  dan Muslim negara lainnya dibuat agar kita berbeda dan terlarang mencampuri urusan negara Muslim Palestina atau memberi bantuan meski kita seakidah. Ditambah lagi dengan penguasa yang mati rasa dan lebih memilih menjadi agen penjajah.

Mengingat lamanya konflik antara Palestina dan Israel yang tak kunjung selesai, maka tak heran jika perang yang terjadi antara mereka disebut juga perang yang abadi. Abainya kaum muslim, propaganda licik kaum kafir, dominasi mereka dan tiadanya kekuatan yang bisa menyaingi mereka saat ini membuat konflik di Palestina tak akan pernah selesai, selama muslim belum bersatu, nasib Palestina akan tetap sama seperti halnya nasib negara Muslim lain.

Terombang-ambing dan selalu terpuruk karena berada di bawah kendali para penjajah. Seperti yang pernah Rasulullah saw. sampaikan, di akhir zaman, umat Islam akan menjadi seperti hidangan yang diperebutkan. Keserakahan kaum penjajah akan menguliti setiap inci apapun yang kita miliki, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga lahan. Segala upaya mereka kerahkan untuk menghancurkan Islam dan menguasai Islam.

Meski saat ini kaum Muslim seperti berada di titik terendah, kita tak boleh berputus asa, karena di setiap masalah akan selalu ada solusinya.  Satu-satunya solusi Palestina dan negara Muslim lainnya agar terbebas dari penjajah adalah Khilafah.

Hanya Khilafah yang bisa menolong Palestina dan yang lainnya secara nyata, karena Khilafah adalah sebuah institusi yang menaungi umat Islam lintas bangsa, wilayah dan bahasa. Khilafah dengan Islam sebagai ideologi negara akan melindungi harta, darah dan tanah kaum Muslim. Khilafah juga akan cepat bertindak mengirim pasukan untuk melindungi dan membebaskan kaum muslim dari berbagai serangan dan ancaman. Masih ingatkah kita dengan Khalifah Al Mu’tashim Billah yang mengirimkan ribuan tentara yang banyaknya bisa terbentang dari Irak sampai Amuria hanya demi memenuhi seruan seorang muslimah yang dianiaya.

Bayangkan, hanya seruan seorang muslimah tetapi beliau dengan cepat memberikan pertolongan. Bandingkan dengan saat ini, sudah jutaan bahkan tak terhitung lagi jumlah kaum muslim yang meregang nyawa karena kita abai akan seruan mereka. Para penguasa mendadak tuli dan buta padahal jelas terpampang nyata di hadapan mereka bahwa yang terjadi di Palestina adalah genosida.

Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post