Hari Cuti Untuk Ayah, Solusikah ?


Oleh Picomm 


Di lansir dari Jakarta IDN Times Pemerintah kini sedang merancang aturan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pria agar bisa ikut menikmati 'cuti ayah' untuk mendampingi istrinya melahirkan dan mengasuh bayi. Hal itu nantinya termuat di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai manajemen ASN. Saat ini RPP tersebut sedang digodok bersama Komisi II DPR. 


Hak 'cuti ayah', kata Azwar (Menpan) sudah jamak diberlakukan di sejumlah perusahaan multinasional dan telah diterapkan di beberapa negara. Lama cuti yang diberikan bervariasi mulai dari 15 hari, 30 hari, 40 hari hingga 60 hari. Tetapi, untuk lama cuti ASN di Indonesia masih terus dibahas di parlemen. 

Mantan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) tersebut menambahkan, dengan adanya pemberian hak cuti itu, diharapkan kualitas proses kelahiran anak bisa berjalan dengan baik. Apalagi fase itu penting untuk menyiapkan sumber daya manusia terbaik penerus bangsa. 


Namun disisi lain, potret ayah hari ini justru belum menunjukan seorang ayah yang bertanggung jawab dalam mendidik serta mengurusi anak dan istrinya. Kasus KDRT, perselingkuhan, pembunuhan hingga pemerkosaan terhadap anak kandung sendiri banyak dilakukan oleh sosok ayah. Belum lagi dengan gambaran generasi hari ini yang sangat buram, kerusakan moral dan sosial mulai dari pergaulan bebas, tawuran, mabuk-mabukan, narkoba, judi online, pinjaman online dan masih banyak lagi.


Jika melihat tujuan dari ada nya hari cuti bagi ayah ini adalah untuk menyiapkan sumber daya manusia, lalu apakah hal ini menjadi solusi atas berbagai permasalahan tadi ?? 


Semua terjadi secara sistematis, yakni ada nya aturan sekuler kapitalis yang melahirkan para ayah yang tidak bertanggung jawab. Aturan ini telah membebani para ayah dalam menjalani kehidupan. Mulai dari memenuhi hajat hidup keluarga (sandang, pangan dan papan), mendidik istri dan anak, kesehatan, pendidikan serta keamanan. Sehingga ayah ayah berfungsi sebagai pencari uang saja dalam keluarga. Itu pun jika ada pekerjaan, jika belum punya pekerjaan, tak jarang para ayah akhirnya melakukan tindak kejahatan dan kriminalitas. 


Kesejahteraan keluarga, khususnya para ayah hanya bisa di penuhi dalam Daulah Islam saja. Karna Negara akan membantu memenuhi hajat hidup per individu. Ayah akan di bantu untuk mencari pekerjaan, sedangkan urusan kesehatan, pendidikan dan keamanan akan di gratiskan oleh Negara. Islam akan menjadikan ayah sesuai dengan peran dan fungsi nya yaitu sebagai kepala keluarga dan pemimpin keluarga. 


Hal itu tentu butuh peran Negara dalam menciptakan ayah yang ideal dan sesuai dengan peran nya. Mulai dari pendidikan pada anak laki-laki sejak dini dalam kepemimpinan. Wallahu a'lam bii ashawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post