Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

SIKAP MUSLIM DI PERGANTIAN TAHUN

Wednesday, January 10, 2024 | Wednesday, January 10, 2024 WIB
Penulis: Sri Rahmatul Aulia


Umat Islam ibarat satu tubuh. Namun, di pergantian tahun ini nampak nyata paradoks kaum Muslim dalam bersikap. Gegap gempita tahun baru menyisakan pilu. Pesta kembang api di tengah berkecamuknya perang di Gaza yang telah menelan korban nyawa sebanyak 21.822 jiwa dan yang mengalami luka sebanyak 56.000 jiwa sejak serangan 7 Oktober 2023 oleh entitas Yahudi secara membabi buta. Di Aceh, saat semarak pesta tahun baru riuh, saat itu pula pengungsi Rohingya terlunta akibat gelombang pengusiran paksa oleh ratusan mahasiswa yang menyisakan trauma dan ketakutan “Kami sangat ketakutan dan kesakitan, sehingga menangis. Karena bersaudara seiman, saya tidak menyangka mereka memperlakukan kami dengan tidak manusiawi seperti itu,” kata seorang pengungsi Rohingya (BBC, 29/12/2023).


Di sisi lain, seiring waktu, sikap umat mulai kendor dalam menyuarakan pembelaan terhadap Palestina, juga pemboikotan produk Yahudi dan sekutunya mulai melonggar. Umat juga terpecah dalam menyikapi Muslim Rohingya. Apalagi makin kuatnya pembungkaman oleh Meta pada akun yang menunjukkan pembelaan terhadap Palestina. Sikap kaum Muslim yang demikian merupakan cerminan nasionalisme yang tertancap kuat dibenak kaum Muslim.


 Ikatan nasionalisme merupakan produk pemikiran Barat yang sengaja di ekspor ke negara kaum Muslim, agar mereka mencukupkan diri untuk mencintai wilayah mereka masing-masing. Nasionalisme membuat kaum muslimin merasa aman jika tidak ada ancaman, dan merasa heroik jika gangguan datang. Jadi tidak heran jika pembelaan mereka terhadap Palestina bersifat temporer, karena pembelaan muncul dari rasa simpati dan empati. Negara Muslim hanya berani mengecam, mengancam dan basa basi. Tapi, tidak ada yang mengirimkan senjata dan lebih parahnya mereka masih bekerja sama dengan orang-orang Yahudi!


Seharusnya umat terus menyadari bahwa umat Islam adalah satu tubuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuhnya ikut merasakan tidak bisa tidur dan panas (turut merasakan sakitnya),” (HR Muslim No. 4685)


Sehingga ketika sebagian kaum Muslim mengalami penindasan dan penganiayaan di belahan bumi lain, kaum muslim juga merasakan sakitnya dan wajib menunjukkan sikap yang nyata dalam membela serta memberikan pertolongan.


Tetapi, apakah bisa dalam Sistem Kapitalisme sekarang?

Nyatanya tidak akan pernah bisa, karena sistem ini dibuat oleh orang-orang kufur dan dampaknya generasi juga terjebak dalam lingkaran budaya kufur yang merusak. Misalnya sekarang, meriahnya perayaan pergantian tahun baru kerap kali diikuti dengan kemaksiatan yang sudah dianggap “biasa” seperti; pesta miras, seks bebas, narkoba dan masih banyak kemaksiatan lainnya. Perayaan semacam itu adalah perayaan yang dilakukan oleh orang-orang kufur, dan mirisnya kaum muslim mengikuti budaya orang-orang kufur! Dan itu tidak hanya di negara Indonesia saja, tapi dilakukan di berbagai negara muslim lainnya.


Permasalahan utama dan mendasar atas berbagai problem umat Islam sesungguhnya karena ketiadaan institusi pemersatu, yakni Khilafah. Institusi yang diruntuhkan melalui konspirasi Yahudi ini sesungguhnya kunci dari kemenangan umat Islam. Untuk itu, negeri-negeri kaum muslim harus terlebih dahulu melepaskan belenggu nasionalisme yang menjerat mereka dan bersatu dalam kekhlifahan Islam. Umat butuh Khilafah untuk menjaga agar setiap Muslim tetap bersikap mengamalkan hadis Nabi. Tidak cukup hanya dengan mengganti presiden tapi ganti juga sistemnya dengan Sistem Islam. Dengan begitu, syariat Islam akan terealisasi secara sempurna bukan hanya sebagian.


Hanya Khilafah yang mampu menyelamatkan kaum Muslim yang tertindas di Bumi manapun, tempat mereka berlindung dan mendapatkan keamanan. Rasulullah SAW bersabda

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ‘Azza wa jalla dan berlaku adil, ia (Khalifah) mendapatkan pahala karenanya. Dan jika ia memerintahkan selain itu, ia akan mendapatkan siksa,” (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).


Di bawah kepemimpinan seorang Khalifah, umat akan terjaga dari kezaliman, penindasan, penjajahan dan keterpurukan. Begitu pula ketika Palestina ditindas oleh Zionis Yahudi, Khalifah akan mengutus pasukannya untuk berjihad dan membebaskan Palestina dari tangan Zionis Yahudi serta merampas kembali apa yang seharusnya menjadi milik kaum Muslim. Tidak lupa, Khalifah juga akan membantu kaum Muslim Rohingya dengan memberikan mereka tempat tinggal, sandang, pangan, pekerjaan, pendidikan dan lainnya seperti kaum muslim selayaknya. Khalifah juga akan mengirimkan sebagian pasukannya untuk berperang membalas orang-orang yang telah menzalimi kaum Muslim Rohingya yaitu rezim Myanmar.


Dengan adanya Khilafah, masyarakat hidup teratur sesuai Islam, dan pemimpinnya amanah karena melaksanakan aturan Islam dalam ketaatan, bukan berdasarkan kepentingan. Bukan hanya bagi kaum Muslim, tetapi non-Muslim pun akan merasa aman di bawah naungan Khilafah.


Fakta ini telah teruji secara empiris maupun historis. Islam pernah menguasai 2/3 dunia lebih dari 13 abad dan di dalamnya tidak hanya Muslim tetapi juga non-Muslim, tidak ada penjajahan, penindasan, pemaksaan apalagi genosida.


Kini, saatnya kita bangkit dan ikut memperjuangkan tegaknya Khilafah itu sebagai perisai hakiki. Jangan menjadikan diri sebagai figuran tapi jadilah agent of change. Mari kita wujudkan gelar sebagai umat terbaik di muka bumi ini dengan membangkitkan Islam kembali menjadi pemimpin peradaban! 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update