Aktivis dakwah dan Pendidik
Genosida yang dilakukan oleh Israel kepada rakyat sipil Palestina di Gaza telah membuat mata dunia geram. Hal ini terbukti dengan banyaknya aksi bela Palestina di berbagai negara termasuk di Indonesia.
Namun aksi bela Palestina ini ternodai dengan kericuhan, seperti yang terjadi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Kericuhan aksi damai bela Palestina oleh umat Islam di Bitung telah menelan satu korban jiwa dari pihak penggelar aksi damai. Menurut informasi, korban tewas lantaran sempat dikeroyok oleh masa Ormas Adat Pasukan Manguni Makasiouw. Video pengeroyokan peserta aksi yang diketahui bernama Anto itu pun beredar di media sosial X. (gelora.co.id, 26/11/2023)
Awal mula bentrokan ini terjadi, karena ada Ormas Adat Minahasa yang sedang melaksanakan HUT yang ke-12 bertema kedaulatan pangan dan kebangkitan ekonomi lokal. Kemudian masa aksi bela Palestina yang diadakan oleh ormas Barisan Solidaritas Muslim melintas di lokasi yang sama. Hingga akhirnya diduga terjadi kesalahpahaman dan bentrok pun tak terhindarkan.
Lalu Bagaimana Pemerintah Menangani Hal Ini?
Sampai saat ini banyak pihak yang meminta pemerintah untuk mengusut tuntas bentrokan yang terjadi, sebab bentrokan ini sudah sampai merenggut nyawa manusia. Pemerintah tentunya masih berusaha untuk mengusut penyelesaian masalah ini. Sejauh ini Polisi telah menangkap sembilan orang tersangka pada saat itu.
kemudian pemerintah juga meminta masyarakat menjaga diri dari penyebaran informasi yang akan memicu bentrokan kembali terulang. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi meminta masyarakat tidak terhasut oleh hoaks terkait bentrokan antardua kelompok masa yang terjadi di Bitung, Sulawesi Utara. Menurut Wali Kota Bitung Maurits Mantiri, kondisi Bitung sudah aman terkendali. (republika.co.id, 26/11/2023)
Tentunya respon pemerintah dinilai lamban dalam mengatasi setiap kasus, termasuk bentrokan ini. Selalu harus sampai jatuh korban terlebih dahulu baru bergerak untuk menindak. Hal ini tentu semakin memanaskan suasana, karena berkaitan dengan nyawa manusia. Sebetulnya hal ini bisa dicegah apabila pemerintah serius dalam penjagaan keamanan juga pengaturan tatkala ada dua acara secara bersamaan terjadi.
Lalu Apa Sebenarnya yang Menyebabkan Bentrokan ini Terjadi?
Terdapat perbedaan persepsi di masyarakat dalam memahami dan menyikapi persoalan Palestina. Disatu sisi masyarakat banyak yang menunjukkan dukungannya terhadap rakyat Palestina dalam bentuk aksi bela Palestina, dan ada juga masyarakat yang berpihak kepada Israel. Terbukti terdapat beberapa bendera Israel yang dikibarkan tatkala bentrokan itu terjadi.
Bentrokan massa terjadi karena sebagian masyarakat tidak memahami bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan. Sudah seharusnya semua orang apalagi muslim sepakat bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dari muka bumi ini, sesuai dengan isi pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Negara berperan besar dalam memahamkan umat terkait penjajahan, mana yang termasuk penjajah dan mana yang termasuk pihak yang terjajah. Hanya saja penerapan sistem kapitalisme-sekuler telah menjadikan negara berlepas tangan dalam membangun pemahaman yang benar di tengah-tengah umat.
Sistem sekuler yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam aspek pendidikan, justru membuat kebenaran semakin kabur. Kebenaran dipandang kebatilan, sebaliknya kebatilan dipandang kebenaran.
Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, telah memberi masyarakat kebebasan penuh dalam berekspresi dan mengemukakan pendapat, tanpa harus memperhatikan aturan agama. Atas dasar inilah, kurikulum Pendidikan di negeri ini dibentuk.
Gagalnya negara dalam menetapkan benar-salah, haq-batil, terpuji-tercela dan baik-buruk di tengah masyarakat telah memicu munculnya konflik antar individu atau kelompok masyarakat.
Negara dalam sistem kapitalisme hanya berorientasi pada keuntungan, alhasil Ketika negara melihat pembodohan yang masif di sosial media, khususnya yang menyangkut perang Palestina dan zionis Yahudi, negara tidak melakukan apa pun.
Rakyat dibiarkan mengonsumsi tayangan-tayangan yang mengaburkan penjajahan hakiki atas nama kebebasan (liberalisme) dan HAM (Hak Asasi Manusia). Pasalnya tidak sedikit di negeri ini yang masih melakukan pembelaan terhadap pihak Zionis Yahudi Israel laknatullah. Padahal seharusnya negara mampu mencegah peristiwa tersebut melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkannya.
Bagaimana Gambaran Islam dalam Menyelesaikan Konflik Ini?
Konflik yang terjadi di tengah-tengah umat baik di Palestina dan negeri muslim lainnya termasuk Indonesia, disebabkan penjajahan yang dilakukan orang-orang kafir salah satunya zionis Israel yang ingin menguasai tanah negeri muslim Palestina. Masalah penjajahan ini akan berhenti melalui penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Sistem Islam akan menghapuskan segala bentuk penjajahan di atas dunia, khususnya di negeri-negeri muslim, dan akan menyatukan kaum muslim di bawah satu kepemimpinan, yakni kepemimpinan Islam.
Syariat Islam telah menempatkan Khalifah sebagai perisai dan pelindung kaum muslimin. Rasulullah salallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Selain melindungi kaum muslim dari serangan musuh, negara yang menerapkan sistem Islam juga akan mewujudkan hubungan yang harmonis antar anggota masyarakatnya. Hal ini ditempuh dengan penerapan Pendidikan Islam berkualitas dan mampu membangun kekuatan mental anak didik, baik pada level keluarga, masyarakat dan negara.
Negara Islam akan menjauhkan lingkungan dari pemikiran buruk yang bertentangan dengan Islam, sehingga masyarakat akan mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Budaya amar ma’ruf nahi munkar yang terbentuk di tengah masyarakat akan menjadikan konflik dalam negeri bisa terhindarkan, sebab antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain tidak akan membiarkan ada masyarakat yang mengemban pemikiran yang batil.
Negara Islam akan membentuk masyarakatnya menjadi masyarakat yang peduli serta bersatu padu dalam menghalau kebatilan. Hal ini akan menghilangkan sekecil apa pun peluang adanya penjajahan diatas muka bumi. Masyarakat akan bersatu padu menghalaunya karena memiliki perasaan, pemikiran dan aturan yang sama juga sohih, yakni Islam.
Telah jelas bagaimana Islam mampu menghapuskan penjajahan dimuka bumi dan mampu menempatkan masyarakat agar bersatu padu menghalau kebatilan dan jauh dari konflik. Semua ini tidak akan terwujud tanpa penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah.
Wallahu'alam bishshawaab.

No comments:
Post a Comment