Menemukan Jati Diri Yang Sesungguhnya


Oleh; Zahratul Wardiah, 
Remaja Peduli Generasi 

   Ketika kita membahas tentang jati diri, di ibaratkan seperti orang yang melakukan sebuah perjalanan. Sebelum orang itu melakukan perjalanan mesti ada hal yang harus di perhatikan seperti halnya tujuannya mau kemana, untuk apa, jalan mana yang harus kita lewati, naik apa, berangkat dari mana dulu. Coba halnya misalkan kita tidak tau tujuannya kemana, naik apa gak jelas jalannya gak tau lewat mana, mungkin yang ada hanya capek, buang-buang waktu, dan sia-sia.

     Sama dengan halnya kita yang sedang menjalani hidup di dunia, kalau kita tidak tau tujuan hidup kita, dan nggak tau juga caranya agar segera sampai ke tujuannya, maka pasti hidupnya itu gak jelas, dan gampang ngikutin arus orang-orang yang disekitarnya, misalkan orang yang disekitarnya pergi ke Mall juga ikut pergi ke mall, yang lain mabuk ehhh dia malah ikut mabuk juga...yang lainnya LGBT ehhh malah ngikutin juga, astaghfirullah hal adzim. Dan seterusnya, begitulah gambaran orang yang tidak punya jati diri, yang penting dia itu hidup, happy, dan semua yang dia inginkan terpenuhi sudah cukup.

     Coba kita ambil pelajaran dari sungai, apa saja yang ada di sungai?, misalkan:ikan, batu, sampah, daun kering,dll. Coba kita perhatikan ikan meskipun dia kecil tapi dia mampu untuk melawan arus, dan coba kita perhatikan batu apa yang terjadi dengan batu?. Ketika batu di hantam oleh arus batu tetap diam di tempatnya, dan coba kita perhatikan dengan daun-daun kering dan sampah-sampah yang ada di sungai, apakah daun-daun kering dan sampah itu bisa melawan arus, atau hanya diam?. Mereka hanya ngikutin arus sungai kemana arus sungai membawanya maka sampah dan daun-daun kering itu pun mengikuti. Begitupula ketika kita hidup didunia janganlah mengikuti arus yang ada tetapi harus melawan arus sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kita sebagai hamba.


Ketidak jelasan tentang jati diri gak pernah lepas dari para remaja dan ABG. Banyak berita-berita yang menyampaikan tentang kondisi remaja saat ini, mulai dari tawuran, narkoba, hamil diluar nikah, aborsi, zina dll. Kasus Ini bukti bahwa kebanyakan remaja saat ini, belum tau atau belum mengerti tentang jati diri kita itu sesungguhnya siapa? apa tujuan hidup kita, bagaimana cara kita agar mencapai tujuan kita..

Oleh karena itu menjawab pencarian jati diri kita adalah suatu  keharusan, agar kita sukses dalam menjalani kehidupan ini. Karena, menemukan jati diri adalah suatu langkah awal yang harus kita lakuin sebelum kita menentukan kapan kita akan melangkah, kenapa kita harus melangkah, sebab kejelasan jati diri kita adalah langkah awal bagi kejelasan masa depan hidup kita.


Dimanakah Kita Bisa Menemukan Jadi Diri Kita?

Tidak ada yang lebih mengetahui diri kita selain yang menciptakan kita Allah Yang Maha Mengetahui. Mengapa kita harus mencari makna jati diri dari selain Allah? Mengapa hidup kita dikendalikan oleh konsep-konsep jati diri yang bukan dari Allah? Ini sangat penting, sebab dari Allahlah kita akan menemukan jawaban yang tepat, dijamin tidak akan salah sehingga hidup kita akan lebih berarti. Tentu saja, Anda tetap boleh (bahkan harus) untuk terus menggali bakat dan potensi Anda. Yang ingin saya tekankan disini, bahwa jati diri itu bukan sebatas itu. Itu adalah keunikan Anda, bukan jati diri Anda.

Jati Diri Manusia Sesungguhnya

Siapa Aku?

Manusia adalah mahluq Allah yang terbuat dari tanah dan berikan ruh olah Allah. Kemudian manusia dilengkapi dengan potensi hati, akal, dan jasad. Hati dan akal adalah potensi yang menyebabkan manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan makhluq lainnya.

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As Sajdah:7-9)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, (QS. Al Hijr:28)

Untuk Apa Aku Ada?

Ada dua tujuan penciptaan manusia yang saling terkait yaitu dijadikan khalifah dimuka bumi dan untuk beribadah kepada Allah. Tidak ada tujuan lain! Semua aktivitas, semuanya harus dalam rangka kedua peran kita ini. Sebagai khalifah dan sebagai hamba Allah.

Untuk itu, Allah sudah membeli kita semua dengan potensi yaitu hati, akal, dan jasa yang cukup untuk memikul dua tugas ini. Selama kita memanfaatkan semua potensi yang kita miliki, kedua tugas ini akan terlaksana dengan baik.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat:56)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqarah:30)

Akan Kemana Aku?


Bukan hanya menuju anak-anak bagi bayi. Bukan hanya menuju remaja


bagi anak-anak. Bukan hanya menuju dewasa bagi remaja. Bukan pula hanya menjadi tua bagi Anda yang sudah dewasa. Seungguhnya, tujuan pasti setiap manusia itu adalah kampung akhirat. Dan hanya ada dua pilihan kampung akhirat, yaitu syurga (Al Jannah) dan neraka (An Naar).

Kita memilih yang mana? Tentu saja, bagi kita orang yang beriman, kita berharap mendapatkan balasan syurga dari Allah. Syaratnya adalah hidup kita sesuai dengan tujuan keberadaan kita, yaitu sebagai khalifah dan beribadah kepada Allah.

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (QS As Sajdah:19-20)

Khotimah

Mudah-mudahan, setelah kita memahami siapa kita, mengapa kita ada, dan mau kemana kita nanti, pikiran kita tidak galau lagi karena bingung tentang jati diri. Kini sudah jelas, apa yang perlu kita jalani dan konsekuensinya ke depan. Dan inilah fokus kita saat ini, yaitu menjalani hidup untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok. Dengan senantiasa menjalani syariat yang telah ditetapkan Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr:18)

Wallahu A'lam Bisshowab

Post a Comment

Previous Post Next Post