Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ancaman Kekeringan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?

Saturday, July 01, 2023 | Saturday, July 01, 2023 WIB Last Updated 2023-07-01T16:02:25Z

Oleh : Ummu Mirza

kekeringan kerap melanda negeri ini,  apalagi ketika musim kemarau panjang melanda hingga masyarakat mengalami kekurangan air dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Indonesia akan mengalami kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang kemungkinan terjadi pada Juli hingga akhir 2023. Prakirawan BBMKG Wilayah I Medan Aryo Prasetyo mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air dan memaksimalkan cadangan air.  "Kalau untuk wilayah Sumatera Utara mungkin tidak terlalu berdampak, hanya wilayah Sumatera Utara bagian Selatan dan Timur saja. Kekeringan tidak serta merta terjadi, tetapi bertahap dan terus hingga akhir tahun," ujarnya seperti dikutip dari Antara, Minggu (11/6).

Ia menjelaskan fenomena El Nino dipengaruhi oleh suhu muka air laut di Samudra Pasifik, dan Indian Ocean Dipole yang dipengaruhi suhu di Samudra Hindia, di mana keduanya terjadi bersamaan pada musim kemarau tahun ini. Fenomena ini akan menyebabkan semakin berkurangnya curah hujan di sebagian wilayan Indonesia selama periode musim kemarau pada semester kedua tahun ini. Sebagian wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori di bawah normal, atau lebih kering dari kondisi normalnya.

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Curah hujan yang turun selama musim kemarau diprediksi akan normal hingga lebih kering dibandingkan biasanya, sehingga bencana kekeringan bisa mengancam sejumlah sektor kehidupan, seperti pertanian, kebakaran hutan, krisis air, hingga sejumlah penyakit yang muncul akibat perubahan cuaca ekstrem.

BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun 2023  tiba lebih awal dari sebelumnya. Maka berdasarkan analisis BMKG, saat ini sebesar 28 persen atau 194 zona musim wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Jika tiga tahun terakhir (2020-2022) kerap didapati hujan di musim kemarau, maka diprediksi hal tersebut tidak akan terjadi pada 2023 ini.

Berdasarkan laman resmi BMKG, turunnya hujan di musim kemarau tiga tahun terakhir dipicu peristiwa La Nina yang mengakibatkan iklim basah. Namun pemantauan terbaru, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menunjukkan bahwa saat ini intensitas La Nina terus melemah, dengan indeks pada awal Februari 2023 sebesar -0,61.

Suhu muka air laut di Samudra Pasifik yang terus melemah mengarah pada El Nino pada Juni 2023 yang berakibat semakin menghangat kawasan tersebut. Peristiwa El Nino ini berlawanan dengan La Nina.

Ancaman kekeringan adalah satu keniscayaan di tengahnya adanya perubahan iklim dengan segala konsekuensinya.  Di sisi lain, ada perilaku manusia juga kebijakan negara  yang  menimbulkan dampak  buruk seperti pembabatan hutan dan konsesi hutan.   Demikian juga kebijakan lain yang  berpihak pada para pemilik modal, namun abai terhadap kepentingan rakyat.  
Sudahkan negara mengantisipasi dampaknya, mulai dari kekurangan air bersih dan juga ketersediaan pangan?


Akar permasalahan sebenarnya ada pada ideologi yang diemban sebuah negara. Melalui tangan pengusaha atau pemilik modal liberalisasi sumber daya alam kehutanan, pertambangan, hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan, tak pelak berpengaruh besar dalam merusak siklus air.

Eksploitasi alam merusak cadangan air. Penebangan dan pembakaran hutan, membuat CO2 menumpuk di atmosfer. Akibatnya panas matahari yang dipantulkan bumi terjebak sehingga temperatur bumi dan atmosfer akan meningkat. Inilah yang disebut pemanasan global atau global warming. Pemanasan global dapat memperlambat proses evaporasi dan kondensasi.

Islam mewajibkan negara untuk mengurus rakyat dengan baik dan menjamin kesejahteraannya.  Negara juga wajib membuat kebijakan yang  memperhatikan dan berpihak pada rakyat. Hal ini mustahil dapat terwujud jika kita kembali pada sistem Islam. 
Wallahu a'lam bisshawabh

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update