Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Semerbak Pluralisme Akhir Tahun

Thursday, December 29, 2022 | Thursday, December 29, 2022 WIB Last Updated 2022-12-29T02:40:31Z

Oleh Eti Setyawati
(Pemerhati Umat)

Malam pergantian tahun baru tinggal menghitung hari. Tak sedikit masyarakat mulai merencanakan berbagai acara. Mulai dari plesiran ke puncak, pantai, menginap di villa sampai yang sekedar 
duduk-duduk di depan rumah sambil bakar jagung. Menanti jam menunjukkan pukul 00.00 dan tahun pun berganti.

Seolah tak mau ketinggalan, pengelola obyek wisata Ancol mengumumkan akan mengadakan acara pergantian tahun dengan menyelenggarakan pesta kembang api untuk kemeriahan Tahun Baru nanti.

Seperti diungkapkan oleh Direktur Operasional Taman Impian Jaya Ancol, Eddy Prasetyo. Tidak hanya itu, untuk menunjang kelancaran acara, pihaknya juga telah melakukan berbagai persiapan serta koordinasi dengan TNI dan Polri.  (BeritaSoloRaya.com, 23/12/2022).

Apa istimewanya malam tahun baru hingga orang-orang sibuk merayakannya? Adakah bulan tampak lebih besar, langit tampak lebih indah atau ada angin sepoi-sepoi pada malam itu?

Jika menilik dari sejarah, tanggal satu Januari ditetapkan sebagai awal tahun tak lepas kaitannya dengan Julius Caesar, pemimpin militer dan politik jaman Romawi Kuno. Yang menamai bulan pertama kalender Masehi dengan nama Janus. Diambil dari nama dewa dengan dua muka mengarah ke depan dan ke belakang. 

Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada dewa Janus. Tak hanya itu berbagai pengorbanan pun  dilakukan dengan cara tukar menukar hadiah, mendekorasi rumah dan menghadiri berbagai pesta. 

Kebiasaan ini pun berkembang di pelbagai belahan dunia dengan tradisinya masing-masing. Seperti;
Di Spanyol, dirayakan dengan memakan selusin buah anggur, menunjukkan harapan mereka setahun ke depan.
Di Kuba, Austria, Hongaria dan Portugal merayakannya dengan menyantap babi yang mereka anggap sebagai lambang kemajuan dan kemakmuran.
Di Swedia dan Norwegia, merayakan dengan menyajikan puding nasi dengan kacang almond sebagai lambang keberuntungan.
 
Dan kini perayaan tahun baru di penjuru dunia lebih banyak dimeriahkan dengan pesta kembang api. Namun pada saat yang sama banyak terjadi kemaksiatan. Mulai dari mabuk-mabukan, perzinahan, bercampurnya antara laki-laki dan wanita dan perbuatan unfaedah lainnya. Parahnya hal itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah saja.

Yang menjadi permasalahan tatkala pelaku perbuatan ini sebagian besar kaum muslim. Sungguh, sesuatu yang keluar dari koridor aturan agamanya sendiri.

Tanpa disadari manusia pada malam itu bisa menjadi penganut 3 agama sekaligus. Pasalnya,
- Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama'ahnya.
-Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama'ahnya.
-Majusi menggunakan api untuk memanggil Jama'ahnya

Manakala terompet, lonceng dan kembang api digunakan oleh sebagian umat Islam dalam satu waktu. Maka pada malam itu kaum muslim telah mengikuti tiga agama yaitu Nasrani, Yahudi dan Majusi. Na'udzubillah.

Maka benar sabda Rasulullah Saw 14 abad silam.
Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata:
Rasulullah bersabda:

"Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian pun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya. 

Mereka (para sahabat) bertanya:
Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum 
Yahudi dan Nasrani?

Lalu beliau berkata, "Siapa lagi kalau bukan mereka". (HR. Bukhαri dαn Muslim)

Dαri Ibnu 'Umαr, Nαbi ﷺ bersαbdα :
"Bαrαngsiαpα yαng menyerupαi suαtu kαum, mαkα diα termαsuk bαgiαn dαri merekα". (HR.Ahmαd dαn Abu Dαud)

Rαsulullαh ﷺ bersαbdα : 
"Bukαn termαsuk golongαn kαmi siαpα sαjα yαng menyerupαi selain kαmi". (HR.Tirmidzi )

Minimnya pemahaman aqidah Islam telah menjauhkan kaum Muslim dari ajarannya sendiri. Ditambah gaya hidup hedonis membuat masyarakat tak kuasa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak terbawa arus kaum kuffar.

Di sisi lain negara dengan sistem sekuler, yang dalam penyelenggaraan negaranya memisahkan agama dari kehidupan memberi kebebasan bagi setiap individu. Hingga tak ada ruang untuk mengedukasi rakyatnya manakala aqidah dicampuradukkan.

Berbeda dengan sistem Islam, negara berperan dalam riayah syuunil ummah, bertanggung jawab dalam mengatur dan melindungi aqidah umat. Sistem Islam juga akan menutup celah masuknya ide pluralisme. Ide yang merusak aqidah karena memandang semua agama sama dan menganggap kebenaran itu relatif.

Islam tetap memberi ruang dan kebebasan bagi non muslim untuk beribadah sesuai kepercayaannya masing-masing, namun semuanya hanya boleh dilakukan di lingkungan dan komunitas mereka sendiri.

Islam juga senantiasa mengedukasi rakyatnya agar keimanan tertancap kuat dan menyadari bahwa Islam harus dijalankan secara kafah hingga timbul kesadaran untuk beramar ma'ruf nahi munkar. Dengan demikian aqidah setiap individu bisa terjaga dan terhindar dari gempuran ide-ide yang menyesatkan.

Waallahua'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update