Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyoal Dampak Negatif Pengembangan Pariwisata di IKN

Monday, December 05, 2022 | Monday, December 05, 2022 WIB Last Updated 2022-12-05T15:32:38Z

Oleh : Siti Subaidah
(Pemerhati Lingkungan dan Generasi) 

Indonesia dengan potensi keindahan alamnya memang akan selalu menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Tak terkecuali di wilayah Ibu kota Negara Baru (IKN). Diketahui dari data Dinas Pariwisata Kaltim tahun 2018, kunjungan wisatawan di objek wisata naik 300 persen karena adanya IKN. Khusus di objek wisata Titik Nol IKN Nusantara di Sepaku, Penajam Paser Utara, tercatat ada 21 ribu orang yang berwisata. Bahkan kunjungan wisatawan Kaltim di tahun 2021 mencapai 4 juta. Tahun ini, hingga Oktober kunjungan sudah berada di atas 4 juta kunjungan.

Potensi tersebut dilihat sebagai sebuah peluang untuk menambah pendapatan daerah. Oleh karenanya, Kaltim akan fokus pada ekowisata. Benua Etam memang memfokuskan diri menjadi ekowisata, karena potensinya yang cukup besar. Ekowisata mampu menaungi berbagai sektor wisata, seperti wisata bahari, alam, karst, seni, dan budaya, serta buatan.
Branding itu pun sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2018-2023. Di dalam RPJMD menyebut, bahwa arah kebijakan destinasi wisata Kaltim adalah pariwisata berbasis masyarakat, berbasis kerakyatan, dan potensi daerah (Kaltim.procal.co).

Ekowisata juga digadang-gadang akan meningkatkan ekonomi rakyat sekitar. Diharapkan dengan begitu pertumbuhan ekonomi akan meningkat yang nantinya akan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga masalah kemiskinan  pengangguran, kriminalitas, pendidikan dan lain-lain yang disebabkan karena ekonomi dapat terselesaikan dengan adanya wacana ini. 

Berbahaya! 

Dalam sebuah kebijakan tentu kita tidak hanya memperhatikan hanya dari satu sudut pandang saja. Namun tentu harus dari berbagai sisi. Ibarat dua sisi mata uang, eksploitasi wisata juga memiliki dampak negatif yang akan sangat mungkin terjadi. Tingginya intensitas wisatawan yang masuk dari berbagai daerah dan negara akan sangat mempengaruhi  kultur budaya yang ada. Mereka datang dengan berbagai latar belakang budaya masing-masing yang dikhawatirkan akan memberikan efek buruk  terhadap warga sekitar terutama budaya luar seperti gaya hidup bebas, hedonis, konsumtif, percampuran agama dan lain-lain. 

Selain itu masuknya budaya permisif yakni serba boleh atau pemakluman terhadap budaya asing yang masuk pasti akan terjadi. Pelegalan miras dan semakin banyaknya tempat-tempat maksiat menjadi hal yang dimaknai lumrah dan mendapat pemakluman atas nama “budaya mereka”. Akhirnya masyarakat sekitar akan terbiasa bahkan terwarnai oleh budaya asing tersebut. Jika dibiarkan maka akan terjadi peleburan budaya yang akhirnya akan diadopsi dan mengakar yang akan merusak budaya kita, terutama budaya kesopanan dan adat ketimuran yang sedari dulu menjadi identitas Indonesia. Ini akan sangat berbahaya terutama bagi generasi muda yang rentan terikut budaya luar. Padahal generasi merupakan aset negara yang perlu dijaga dari segala pemikiran rusak karena ditangan merekalah nasib negeri ini akan di pertaruhkan kedepannya. 

Hanya Untuk Cari Keuntungan

Inilah yang terjadi jika negara berdiri atas asas kapitalisme, termasuk Indonesia. Kapitalisme merupakan sebuah mabda atau ideologi yang menyandarkan segala sesuatunya pada materi atau keuntungan. Maka menetapkan sebuah kebijakan pun akan mengambil dari perspektif keuntungan. Tidak memperdulikan sisi negatif yang ditimbulkan. Bahkan sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam, agama sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan. Haq dan bathil bercampur seolah sulit untuk dibedakan. Na’udzubillah min dzalik

Klaim bahwa pariwisata dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kecil ini pun tidak sepenuhnya benar. Sektor pengembangan pariwisata merupakan lahan yang menggiurkan bagi para pemilik modal atau investor. Mereka akan berlomba-lomba menanamkan modalnya demi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Pariwisata hanya akan menjadi ladang bisnis bagi negara lain, perusahaan, ataupun personal yang memiliki dana investasi. Maka dari sini jelas, yang menikmati pengembangan pariwisata ini adalah para kapital atau pemilik modal sedang masyarakat hanya akan mendapat recehnya saja.

Wisata Sarana Dakwah

Pariwisata dalam kacamata Islam merupakan sarana dakwah untuk semakin menanamkan ide-ide Islam ditengah-tengah masyarakat. Seorang muslim yang melakukan aktivitas wisata atau biasa disebut dengan istilah rihlah akan menjadikan aktivitas tersebut sebagai sarana untuk bertafakur dan menyadari kebesaran dan keagungan Allah. Dengan begitu aspek dan nilai ruhiyah menjadi poin utama yang didapat dari rihlah atau wisata. Bukan untuk gaya hidup hedonis dan meraih kesenangan tanpa batasan, atau hanya sekedar menghabiskan waktu tanpa tujuan. 

Oleh karenanya dalam hal pengembangan sektor pariwisata pun, pemerintahan harusnya  menjadikan Islam sebagai basic dalam membangun sektor pariwisata. Seperti tersedianya tempat ibadah yang layak dan memadai di tempat-tempat wisata, dibangunnya penginapan berbasis Islam, menghapus pelegalan miras, dan melakukan kontrol terhadap tempat-tempat yang disinyalir sebagai tempat maksiat. Dengan begitu, sektor pariwisata pun akan mampu berkontribusi dalam menjaga aqidah umat dan sebagai sarana dakwah untuk menyebarkan syiar Islam. Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update