(Aktivis muslimah deli Serdang)
Ratusan infrastruktur dan fasilitas publik terdampak gempa dengan magnitudo 5,6 yang melanda cianjur Jawa Barat.
Badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 526 infrastruktur rusak, yakni 363 bangunan sekolah, 144 tempat ibadah, 16 gedung perkantoran, dan 3 fasilitas kesehatan.
Sedangkan jumlah rumah warga yang rusak sebanyak 56,320 unit, 318 orang meninggal dunia, korban hilang 14 jiwa, warga terdampak mengungsi di 110 yang tersebar di 15 wilayah kecamatan, sehingga membutuhkan strategi tenaga dan kekuatan yang extra dalam distribusi logistik. Jumlah jiwa di masing-masing pengungsian atau tenda darurat kisaran 200 hingga 500 orang, ujar SUHARYANTO, kepala BNPB di pendopo Bupati cianjur, Jum at (25-11-22) malam. Dari jumlah pengungsi yang ada, 650 orang di antara nya ibu hamil, dan ada 34 orang penyandang disabilitas.
Sungguh sangat memprihatinkan, ditengah duka warga cianjur akibat gempa bumi yang melanda wilayah mereka, Mata kita pun dibuat terbelalak melihat pemerintah menggelar acara besar demi eskalasi politik nya. Acara "NUSANTARA BERSATU" Yang di gelar relawan JOKOWI di gelora bung Karno (GBK). Yang akhirnya menyisakan sampah yang berserakan, yang mengotori gelora bung Karno, senayan,jakarta pusat, sabtu-26-11-22. Penampakan lautan sampah di GBK tersebut menjadi viral di media sosial. Total 31 tonton sampah berserakan di GBK usai acara"NUSANTARA BERSATU " Yang di selenggarakan relawan jokowi.
Selain menghasilkan tumpukan sampah, acara ini juga gambaran empati yang terkikis. Di tengah duka lara bencana gempa cianjur penguasa justru mengadakan pertemuan besar, padahal pertemuan itu pasti nya juga menghabiskan biaya besar. Apalagi di tengah suasana politik menjelang pemilu 2024.acara tersebut semakin menguatkan hal bahwa sudah menjadi tabiat penguasa dalam sistem kapitalisme Demokrasi yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi di bandingkan urusan rakyatnya. Paham ini muncul karena sistem kapitalisme Demokrasi yang di terapkan. Sistem kapitalisme membuat penguasa hanya formalitas saat mengunjungi korban bencana. Karena nya dapat kita saksikan bagaimana penguasa masih mengadakan acara besar dengan biaya yang besar sementara rakyat nya sedang di timpa musibah dan hidup dalam penderitaan karena kehilangan harta bahkan kehilangan nyawa. Mereka para penguasa hari ini rela melakukan kampanye di tengah himpitan ekonomi.
Berbeda dengan pemimpin di dalam sistem islam yang di sebut khilafah.
Dalam sistem islam penguasa dan rakyat harus saling menguatkan. Ibnu qutaibah mengutip perkataan Ka'ab Al akbar ra,: perumpamaan antara islam kekuasaan dan rakyat adalah laksana tenda besar tiang dan tali pengikat serta pasaknya tenda besarnya adalah islam, tiang nya adalah kekuasaan tali pengikat dan pasaknya adalah rakyat, satu bagian tidak akan baik tanpa bagian yang lainnya. Hubungan seperti ini bisa terjalin sebagai bentuk ketaatan pada sabda Rasulullah SAW: tidak seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin kemudian tidak sungguh-sungguh untuk mengurusi mereka dan tidak menasehati mereka kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka. Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda: imam yakni kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia di minta pertanggung jawaban tentang rakyat nya Hadist riwayat Al-bukhari. Dalam pandangan islam jabatan adalah amanah dan seorang pemimpin wajib mewujudkan kemaslahatan atau kebaikan kepada setiap rakyat nya yang berada di bawah kepemimpinanan nya. Baik muslim maupun non muslim.
Ini lah yang menjadi cara pandang penguasa atau kholifah dalam mengurusi rakyat nya. Penguasa dalam sistem islam begitu perhatian terhadap urusan rakyatnya. Seperti saat kepemimpinan kholifah umar bin khattab, pada masa kekuasaan beliau pernah terjadi bencana paceklik pada akhir tahun ke 18 Hijriah tepatnya pada bulan Dzulhijjah dan berlangsung selama 9 bulan. Masyarakat sudah mulai kesulitan, kekeringan melanda seluruh bumi dan orang orang mulai merasakan sangat kelaparan banyak dari mereka yang berbondong-bondong ke madinah untuk mencari bantuan kepada kholifah umar, sikap amirul mukminin pun sigap dan tanggapan, beliau mendirikan tungku tungku dan posko posko bantuan makanan yang dana nya di ambil dari Baitul mall. Pada saat itu bantuan tersebut bisa mencukupi 6000 penduduk. Di tengah usaha keras beliau untuk tetap mencukupi kebutuhan rakyat nya kholifah umar juga sangat tegas dengan dirinya sendiri, dengan berkata "Akulah sejelek jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyat ku kelaparan. Pada masa itu kholifah umar hanya makan roti dan minyak sehingga kulit ny berubah menjadi hitam. Kholifah umar rela untuk ikut menanggung rasa lapar, bahkan menolak makanan berupa daging dan hati unta yang di siapkan untuk beliau. Justru beliau memerintahkan aslam untuk membagikan makanan tersebut kepada rakyat nya. Inilah penguasa dalam sistem islam. Mereka mengurus rakyat nya dengan sepenuh hati, bukan untuk kepentingan eksistensi kekuasaannya, melainkan demi menjalankan kewajiban yang di berikan.

No comments:
Post a Comment