Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ironis Bersuka Cita Di Tengah Penderitaan Rakyat Gempa Cianjur

Thursday, December 29, 2022 | Thursday, December 29, 2022 WIB Last Updated 2022-12-29T02:10:43Z

Penulis: Nurhidayati Hamzah
Mahasiswi

Indonesia dirundung duka atas kejadian gempa bumi yang dialami warga kabupaten Cianjur, provinsi Jawa Barat tepat pada tanggal 21 November 2022 kemarin. Pasal lain yang mungkin menyebabkan tenggelamnya berita saudara kita disana sebab masih banyak orang lebih membicarakan piala dunia sepakbola. Naasnya lagi, korban jiwa hingga ratusan tak dapat dielakan sebab gempa berkekuatan 5,6 magnitudo itu terjadi diantara perumahan warga yang berada di daerah pegunungan. Dikutip dari BBC News Indonesia sebanyak 526 infrastruktur warga, 144 tempat ibadah serta 56.320 unit rumah warga rusak dari tingkat sedang hingga tingkat berat. Akibat gempa itu pula, banyak anggota keluarga yang mengaku kehilangan kerabat dan saudaranya hingga mengalami kerugian material yang amat besar. Atas dasar ini patutnya sangat penting bagi pemerintah untuk memerhatikan keadaan korban gempa dengan seksama dan penuh tanggung jawab. 

Korban tewas paling banyak berasal dari kecamatan Cugenang yang memakan korban hingga lebih dari 400 jiwa. Warga yang terkena musibah ditempatkan di 110 tenda yang tersebar di 15 kecamatan. Kondisi area terjadi gempa yang berada di pegunungan mengakibatkan banyak warga yang mengeluh ketersediaan air. Selain itu, banyaknya pengungsi membuat kebutuhan pokok pakan masih susah dijangkau. Terlebih ada beberapa pengungsi merupakan ibu hamil dan penyandang disabilitas. Banyaknya rumah warga yang hancur, kini menjadi titik fokus pemerintah agar bisa mengelola dan mencari jalan keluar agar warga kembali memiliki rumah dan tinggal dengan keluarga seperti sediakala. Dana yang dikeluarkan mencapai Rp.50.000.000 dijanjikan akan diberikan pada korban gempa yang tertimpa musibah yang ditinggal anggota keluarganya serta rumah yang ditinggali rusak berat. Syarat yang wajib ada untuk penerima dana sosial masih sama seperti sebelumnya yaitu adanya surat kematian dan kartu tanda penduduk.

Pemerintah tidak boleh diam atau beralih fokus ke masalah lain, apalagi masalah yang bukan datang dari kategori darurat, area pengungsian mestinya menjadi tempat seorang pemimpin negara untuk senantiasa memantau secara langsung dan mencari apa saja yang kurang dan dibutuhkan warga pengungsi. Bukan tanpa sebab, hal ini merupakan tanggung jawab yang harusnya diperketat pemerintah bukannya beralih ke titik fokus lain misalnya agenda yang bisa dibilang tidak penting seperti salah satu acara yang diadakan pada tanggal 26 November 2022 tepat lima hari setelah kejadian gempa bumi di cianjur. Dikutip dari tempo.com acara yang dihadiri ribuan relawan itu diadakan secara antusias serta turut dimeriahkan dengan datangnya Presiden Jokowi sendiri. Acara yang dinamakan Nusantara Bersatu ini digadang-gadang merupakan serangkaian acara yang dari awal hingga akhir membicarakan perihal korban gempa di Cianjur, jawa barat. Pasalnya, selain diadakan diwaktu yang berdekatan dengan peristiwa setelah gempa, acara Nusantara Bersatu ini juga dihadiri salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di Indonesia. Sedangkan yang terjadi dilapangan tidaklah sesuai dengan ekspetasi warga dan media kebanyakan. Usut diusut, selain membicarakan kejadian gempa di Cianjur, Presiden Jokowi sempat menyempilkan singgungan perihal Pilpres 2024. Namun, dengan lebih terbuka presiden Jokowi menyatakan langsung  sinyal dukungannya pada Gubernur Jawa Tengah saat ini. Akibat hal itu banyak dari warga merasa tidak puas dengan agenda acara, mereka menyangka bahwa akan digelar doa serta shalawat bersama untuk korban gempa di Cianjur.

Kepemimpinan Islam Dalam Menangani Persolan Bencana

Secara geografis, Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api (Ring of Fire) Pasifik dan berada diatas tiga tumbukan lempeng benua. Gempa Indonesia tergolong sangat tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat. Banyaknya bencana yang tergolong terjadi di Indonesia, nyatanya tidak membuat pemerintah siap siaga, belum cukup pengalaman bertahun-tahun. Kesiapan memadai mulai dari pencegahan hingga kebutuhan pengungsian tiap bencana yang terjadi tidaklah matang.

Timbul pertanyaan, pihak manakah yang wajib disalahkan sejauh ini. Apakah pemerintah seratus persen pelakunya atau adakah opini lain yang menggiring masyarakat menjadi pelaku?. Beribu pertanyaan yang dilontarkan sekalipun, tidak akan menyelesaikan akar dari masalah yang ada, sebab akan hanya ada satu pertanyaan yang terjawab dengan jelas, bagaimana solusinya?. Islam adalah jawaban terakhir dan terpercaya jika kita mengaku beriman dan hanya dapat dijangkau orang yang berpikiran cerdas.

Sistem kepemimpinan Islam lah yang hanya bisa diharapkan mampu menyelesaikan problem kebencanaan dengan solusi yang mendasar dan tuntas. Dalam penerapan aturan Islam, permasalahan seperti bencana yang terjadi pada warga Cianjur Jawa barat ditangani secara serius dengan mengeluarkan berbagai kemampuan finansial dan materi untuk diserahkan pada korban yang ditimpa musibah. Dana yang dikeluarkan juga tidak main-main, bagi seorang khilafah, kewajiban menolong masyarakatnya yang sedang ditimpa musibah adalah sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang harus dijalankan secara sempurna. Dengan berlandas tauhidullah, dan pastinya ditonggak oleh penerapan syariat Islam secara kaffah.

Negara yang menerapkan sistem Islam sangat jauh berbeda pandangan serta pedomannya dari yang diterapkan penguasa kapitalisme sekularisme. Dalam Islam fungsi kepemimpinan berdasarkan keimanan dan ketakwaan pada Allah, dalam arti lain rasa takut terhadap tanggung jawab seorang pemimpin di akhirat kelak lebih besar dibandingkan rasa takut kehilangan harta. Seorang khalifah atau pemimpin tertinggi dalam sistem Islam menetapkan bahwa fungsi kepemimpinan adalah mengurusi urusan umat(rain)dan menjaga mereka(junnah). 

Pembahasan disini melingkupi konteks kebencanaan dimana para pemimpin Islam dituntut untuk melakukan berbagai hal demi mencegah bencana, sekaligus menghindarkan masyarakat dari risiko bencana. Hal ini bisa kita kaitkan dengan turunnya azab Allah SWT. yang datang sebab undangan dari kemaksiatan manusia yang memaksa bencana datang silih berganti, jadi dalam sistem Islam bukan hanya alokasi lingkungan saja yang menjadi fokus perhatian perbaikan, melainkan sikap dan perilaku manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

Dasar perintah ini, turun dari firman Allah SWT. dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 11 yang artinya:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, janganlah berbuat kerusakan di bumi!. Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan’.(QS.Al-Baqarah:11)
Juga hadis Nabi Muhammad SAW,
“Jika zina dan riba tersebar luas di suatu tempat, sungguh mereka telah menghalalkan atas diri mereka sendiri azab Allah.”(HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ath-Thabrani).

Dan satu yang perlu kita yakini bahwa bencana adalah sebuah ketetapan Allah SWT. atau sebuah Qada dimana bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir dan lain-lain adalah bukan kekuasaan dan kendali manusia. Sehingga diperlukannya persiapan yang matang sekalipun sebagai bentuk ikhtiar, kita tetap harus belajar mengikhlaskan apa yang menimpa kita terlebih bencana yang besar dan merengut nyawa orang yang kita sayangi.

Islam akan menangani masalah secara kompleks dimulai dari kebijakan berdasarkan syariat Islam, mulai dari penataan lingkungan dikaitkan dengan starategi politik ekonomi islam yang menjamin kesejahteraan orang per orang. Sehingga harapannya Islam akan menjadi satu-satunya jalan terakhir yang ditempuh dan dicari manusia atas segala permasalahan kehidupan saat ini.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update