Hampir di seluruh dunia terancam resesi tanpa terkecuali Indonesia. Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia memprediksi bahwa ekonomi dunia jatuh ke jurang resesi pada tahun depan. Perkiraan itu ia buat berdasarkan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral di sejumlah negara seperti AS dan Inggris demi meredam lonjakan inflasi.
Sri Mulyani juga memastikan kebijakan itu akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi sehingga ancaman resesi kian sulit dihindari. "Dengan kenaikan suku bunga yang cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti akan mengalami resesi pada 2023," Ungkap Ani, sapaan akrabnya, dalam sebuah konferensi pers (cnnindonesia.com, 27/08/2022).
Penyebab Resesi Ekonomi
Resesi ekonomi yang terjadi saat ini, disebabkan oleh :
1. Inflasi
Inflasi merupakan proses meningkatnya harga secara terus-menerus.
2. Deflasi Berlebihan
Deflasi membuat harga-harga turun dari waktu ke waktu dan yang menyebabkan upah menyusut, kemudian menekan harga-harga.
3. Penggelembungan Aset
Ketika para investor panik maka akan segera menjual sahamnya yang kemudian hal itu memicu resesi.
4. Guncangan Ekonomi yang Mendadak
Banyaknya hutang yang dimiliki oleh negara, perusahaan maupun individu, maka otomatis biaya pelunasannya juga ikut meninggi. Sehingga biaya pelunasan hutang tersebut semakin lama akan meningkat ke titik dimana mereka tidak dapat melunasinya lagi.
5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Revolusi Industri membuat seluruh profesi menjadi usang. Saat ini beberapa ekonom khawatir bahwa banyak para pekerja yang akan kehilang mata pencahariannya karena di gantikan oleh robot.
6. Ketidakseimbangan Produksi dan Konsumsi
Tingkat produksi yang tinggi tidak dibarengi dengan konsumsi yang tinggi maka akan berakibat pada penumpukan stok persediaan barang. Ini akan mendorong terjadinya impor.
7. Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor
Jika nilai impor lebih besar dari nilai ekspor maka berdampak pada perekonomian yaitu defisitnya anggaran negara.
8. Tingkat Pengangguran Tinggi
Ketika negara tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi para tenaga kerja lokal, maka tingkat pengangguran meningkat, ini memicu tingginya tingkat kriminal.
Dampak Resesi Ekonomi
Dampak pertama bagi masyarakat menengah ke bawah akan sulit memperoleh barang-barang karena harga-harga yang melambung tinggi. Dampak kedua apabila terjadi resesi yaitu banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) karena kenaikan harga bahan baku di tingkat produsen. Dari segi lain, permintaan atau konsumsi dari masyarakat akan menurun, sehingga omset pun menjadi turun. Hal ini cenderung membuat produsen akan menahan atau menekan biaya produksi, dan salah satunya adalah menekan upah buruh juga menekan penyerapan tenaga kerja.
Dan dampak dari hal itu pastinya akan berkesinambungan. Pada saat PHK besar-besaran terjadi, maka otomatis pengangguran dan jumlah masyarakat miskin menjadi bertambah, dan akan menghantarkan pada peningkatan kriminalitas.
Di balik ancaman resesi ekonomi dunia, sikap pemerintah sungguh aneh, mereka justru ingin meningkatkan dana parpol. Hal ini menunjukkan bahwa abainya negara atas nasib rakyat yang terancam hidup dalam kesulitan namun peduli dengan parpol yang akan menjadi kendaraan politik meraih kursi kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa bobroknya sistem kapitalis demokrasi yang lebih berpihak kepada parpol bukan kepada rakyat. Dan saat ini yang dibutuhkan rakyat adalah sosok penguasa yang Peduli dan tidak abai dalam mengurusi kebutuhan rakyatnya.
Antara Resesi, Dana Parpol dan Islam.
Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan kesejahteraan, mampu mengurusi dan mengayomi rakyat. Di dalam sistem Islam SDA (Sumber Daya Alam) haruslah dimiliki, dikuasai dan dikelola oleh negara sehingga keuntungan dan manfaat dari SDA tersebut dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Jika SDA di kuasai oleh individu, asing dan aseng maka manfaat dan keuntungan yang didapat hanya dirasakan oleh segelintir orang saja.
Sabda Rasulullah saw. :
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api."
(HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Hal ini berarti, bahwa padang rumput, air, dan api atau sumber energi keberadaannya tidak boleh dikuasai oleh individu. Dikatakan berserikat mengindikasikan bahwa kepemilikan ketiganya adalah milik umum yang dikelola oleh negara demi keaejahteraan rakyat.
Selain itu jaminan ketersediaanya lapangan pekerjaan oleh negara, khususnya untuk para lelaki yang nantinya akan menjadi kepala rumah tangga akan menurunkan tingkat kriminal di masyarakat.
Negara juga tidak boleh mengekspor barang-barang yang masih sangat dibutuhkan di dalam negeri. Negara harus memastikan terlebih dahulu kebutuhan dalam negeri apabila semua kebutuhan rakyat sudah terpenuhi maka kelebihan boleh untuk diekspor.
Kemudian sistem Islam melarang perbuatan praktik riba yang dilakukan oleh individu maupun negara. Negara akan menutup usaha-usaha yang mengandung riba, baik itu milik individu maupun negara. Negara tidak akan melakukan hutang luar negeri yang mengandung riba. Sehingga hal ini akan mencegah dari ancaman resesi ekonomi. Allah Swt. telah mengharamkan secara tegas praktik riba, firman-Nya:
وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (QS. Al-Baqarah: 275).
Sementara itu di tengah-tengah resesi ekonomi yang sekarat, dana parpol justru meningkat, hal ini sangat wajar terjadi di sistem kapitalis karena pesta demokrasi memang membutuhkan banyak dana untuk kampanye demi mendapatkan suara terbanyak. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka menghalalkan berbagai cara agar menang kompetisi, dari melakukan serangan fajar, sampai memanipulasi suara.
Setelah mereka berhasil menjadi pemimpin, mereka akan berlomba-lomba untuk melakukan balik modal saat kampanye, mereka tidak malu atau tidak segan untuk melakukan korupsi demi partainya, karena pesta demokrasi yang sangat mahal dan agar partainya tetap bisa eksis di parlemen pemerintahan.
Lalu bagaimana proses pemilihan pemimpin/khalifah di dalam sistem Islam. Pertama memilih calon kandidat yang akan menjadi seorang pemimpin/khalifah sebanyak enam orang dengan syarat haruslah memenuhi tujuh syarat In’iqad (syarat legal) yaitu: muslim, laki-laki, sudah balig, berakal, seseorang yang adil, merdeka dan mampu. Dari enam orang di pilih lagi menjadi empat orang kandidat saja kemudian menjadi hanya satu orang kandidat yang akan menjadi seorang pemimpin/khalifah.
Proses kedua yaitu dengan cara membaiatnya dengan baiat in’ iqad dan baiat taat. Hal ini sesuai dengan kitabullah, sunah dan ijmak sahabat.
Allah Swt telah berfirman:
Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan yang mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai‘at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Mumtahanah: 12).
Kemudian imam Al-Bukhari juga telah menuturkan riwayat: Kami telah membaiat Rasulullah saw, agar senantiasa mendengar dan mentaatinya, baik dalam keadaan yang kami senangi; agar kami tidak merebut kekuasaan dari orang yang berhak; dan agar kami senantiasa mengerjakan atau mengatakan yang haq di mana saja kami berada tanpa takut karena Allah kepada celaan orang-orang yang suka mencela.
Dalam riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash di sebutkan bahwa Rasulullah saw, pernah bersabda yang artinya: Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah, lalu ia telah memberikan kepadanya genggaman tangannya dan buah hatinya, makan hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuan. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka penggallah orang itu.
Batas waktu dalam memilih pemimpin/khalifah di dalam sistem Islam adalah dua hari tiga malam. Berbeda dengan sistem kapitalis saat ini lebih membutuhkan banyak waktu berminggu-minggu untuk sampai ke tahap menjadi seorang pemimpin/khalifah, sehingga pembiayaannya pun semakin bertambah.
Di dalam sistem kapitalis orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin atau pejabat karena dengan begitu mereka bisa memperkaya diri, mendapatkan kedudukan, disegani, mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mewah, sementara di dalam sistem Islam ketika seseorang dipilih menjadi seorang pemimpin/khalifah mereka menangis karena beratnya tanggung jawab di hadapan Allah Swt, mereka takut akan hisabnya Allah Swt di akhirat kelak.
Pada masa Umar bin Abdul Aziz menjadi seorang khalifah beliau berkata kepada penduduk Yaman “wahai penduduk Yaman ini kendaraanku, di dalamnya ada mushaf dan pedang. Jika aku nanti keluar dari sini dengan membawa yang lebih banyak dari yang aku bawa (ketika masuk kesini) maka aku adalah pencuri". Beliau menjabat di Yaman selama 20 tahun. Dan ketika masa jabatannya selesai dan ia meninggalkan Yaman, yang dibawa oleh kendaraannya hanya pedang dan mushaf Al-Qur’an. Banyak sejarah mencatat bagaimana zuhudnya seorang pemimpin/khalifah di masa-masa kekhilafahan. Wallahu a'lam bish showab.[]

No comments:
Post a Comment