Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

INDONESIA DARURAT KEBOHONGAN DAN KEZALIMAN

Friday, September 02, 2022 | Friday, September 02, 2022 WIB Last Updated 2022-09-02T06:13:39Z

Oleh Mulyani
Ibu Rumah Tangga
                    
 Negeri ini sedang darurat kebohongan. Kasus pembunuhan Brigadir J oleh Ferdy Sambo (FS).   Kebohongan demi kebohongan di balik kasus tersebut satu-persatu terungkap. Bahkan kasus ini mengungkap banyak fakta lain. Di antaranya judi online yang konon bernilai puluhan triliun rupiah. Tak jarang judi online ini melibatkan sejumlah oknum aparat, bahkan pejabat tinggi Kepolisian, FS diduga salah satu orang sebelumnya. Sejak awal publik sudah curiga atas banyaknya kejanggalan dalam kasus pembantaian 6 syuhada ini yang juga—menurut keterangan sepihak dari Kepolisian—diawali dengan tembak-menembak. Berkaca pada kasus pembunuhan Brigadir J, publik makin percaya bahwa pembantaian terhadap 6 orang laskar FPI pun penuh kebohongan dan rekayasa.

Bohong/dusta termasuk perbuatan tercela. Umat telah sepakat bahwa bohong/dusta itu haram. Banyak dalil atas keharaman berbohong/berdusta ini (An-Nawawi, Al-Adzkâr, hlm. 324).

Di antara dalilnya: Pertama, firman Allah SWT: 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا 

Janganlah kamu mengikuti apa saja yang tidak kamu ketahui. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban (TQS al-Isra’ [17: 36).

Menurut Imam asy-Syinqithi, dalam ayat ini Allah SWT telah melarang manusia agar mengikuti apa yang tidak dia ketahui. Di dalamnya termasuk perkataan orang, “Saya telah melihat.” Padahal dia tidak melihat. “Saya telah mendengar.” Padahal dia belum mendengar. “Aku tahu.” Padahal dia tidak tahu. Demikian pula orang yang berkata atau beramal tanpa ilmu, tercakup dalam ayat ini.” (Asy-Syinqithi, Adhwâ’ al-Bayân, 3/145).
Kedua, firman Allah SWT: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar/jujur (TQS at-Taubah [9]: 119).

Ayat ini memang memerintahkan agar kita berlaku benar/jujur. Namun demikian, ayat ini berarti melarang hal sebaliknya: berbohong/berdusta.
Ketiga, sabda Rasulullah saw.:

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

Sungguh bohong/dusta itu mengantarkan pada dosa dan dosa itu mengantarkan ke dalam neraka (HR al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, sabda Rasulullah saw.: Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang laki-laki. Lalu keduanya membawaku ke sebuah tempat yang suci. Di tempat itu aku melihat dua orang yang sedang duduk dan ada dua orang yang sedang berdiri. Di tangan mereka ada sebatang besi. Besi itu ditusukkan ke tulang rahangnya sampai tembus ke tengkuknya. Kemudian ditusukkan besi itu pada tulang rahangnya yang lain semisal itu juga hingga penuh dengan besi.” Akhirnya, Nabi saw. bertanya, “Kalian telah mengajakku berkeliling. Sekarang kabarkan kepadaku peristiwa demi peristiwa yang telah aku lihat.” Keduanya berkata, “Orang yang engkau lihat menusuk rahangnya dengan besi adalah seorang pendusta, suka berkata bohong hingga dosanya itu memenuhi penjuru langit. Apa yang engkau lihat akan terus demikian hingga Hari Kiamat.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Itu adalah bohong/dusta secara umum kepada sesama manusia. Apalagi jika bohong/dusta itu dilakukan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya. Dosanya pasti lebih besar. 

Bohong/dusta sangat dekat dengan kezaliman. Bahkan bohong/dusta termasuk salah satu tindakan zalim. Yang lebih zalim adalah membuat kedustaan/kebohongan terhadap agama ini, yakni mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. 

Sangat banyak ayat Allah SWT yang mengancam orang yang mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Di antaranya firman Allah SWT: 

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lisan kalian secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sungguh orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiada beruntung (TQS an-Nahl [16]: 116).

Adapun Hadis Nabi saw. di antaranya sabda beliau:

لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجْ النَّارَ

Janganlah kalian berbuat dusta terhadapku. Sungguh orang yang berdusta terhadapku pasti masuk ke dalam neraka (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dengan seluruh paparan singkat di atas, orang-orang yang berakal tentu akan takut untuk berbohong/berdusta. Apalagi mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Azab di akhirat amat besar bagi pelakunya. Apalagi jika pelakunya seorang pemimpin.


Selain darurat kebohongan, negeri ini pun sesungguhnya sedang darurat kezaliman dan ketidakadilan. Dari kasus FS pula kita bisa melihat betapa sulitnya memberlakukan hukum yang tegas dan adil kepada aparat yang melanggar, pejabat yang korup atau mereka yang berduit. Sudah tak terhitung orang-orang besar bebas dari hukuman, atau dihukum ringan, atau bahkan seolah dibiarkan kabur ke luar negeri. Padahal mereka adalah koruptor dan ‘maling’ kelas kakap. Sebaliknya, betapa banyak orang kecil yang begitu mudahnya dihukum dengan sangat cepat, dengan hukuman yang kadang cukup berat untuk sebuah kejahatan yang sangat ringan, seperti kasus pencurian beberapa batang pohon/kayu oleh seorang nenek-nenek beberapa waktu lalu. Bahkan betapa banyak mereka yang baru terduga—kebanyakan baru terduga sebagai teroris—langsung dieksekusi alias dibunuh oleh aparat tanpa diadili. 

Itulah pengadilan di dunia. Sebuah pengadilan semu. Bahkan palsu. Pengadilan dunia sering menjadi alat untuk sekadar menghukum rakyat kecil. Hukumannya pun tidak akan mampu menghapus dosa-dosa para kriminal. Para penegak hukumnya acapkali bermental bobrok. Tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT/mudah dibeli. Gampang tergoda oleh rayuan uang, harta, wanita dan kenikmatan dunia lainnya. Mereka seolah lupa, bahwa meski mereka lihai mempermainkan hukum di dunia, dan meski mereka sering lepas dari pengadilan manusia di dunia, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari hukuman di Pengadilan Akhirat. 

Mereka lupa bahwa di dunia boleh saja mereka bisa lepas dari jeratan hukum. Namun, di akhirat mereka mustahil bisa lari dari hukuman dan azab Allah SWT. Tentu karena di Pengadilan Akhirat, dengan Allah sebagai Hakimnya, tidak akan ada sogok-menyogok, beking-membekingi atau kongkalingkong. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan Keperkasaan-Nya. Di Pengadilan Akhirat semua ucapan dan perbuatan ditimbang seadil-adilnya. Tak ada yang terlewatkan, kendati hanya sebesar biji sawi (TQS az-Zalzalah [99]: 7-8).

Siapapun tidak akan bisa lolos dari hukuman. Mereka tidak akan bisa berbohong dan berkelit. Sebabnya, sebagaimana firman Allah SWT:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari itu Kami mengunci mulut-mulut mereka, sementara tangan-tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki-kaki mereka menjadi saksi atas apa saja yang pernah mereka lakukan (di dunia) (TQS Yasin [36]: 65).

WalLahu a’lam bi ash-shawwab. []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update