Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Biasnya Arah Pendidikan dalam Kurikulum Merdeka

Saturday, June 11, 2022 | Saturday, June 11, 2022 WIB Last Updated 2022-06-11T14:33:50Z



Oleh: Ummu 'Almahirah 

(Aktivis Muslimah)


Kemendikbud Ristek Anwar Nadiem Makarim akan menerapkan Kurikulum Merdeka kepada lebih dari 140 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan demikian maka diharapkan para pelajar akan belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan memerdekakan. Ditambah dengan adanya Pandemi Covid-19 yang pernah melanda dunia, kurikulum merdeka dianggap sebagai kurikulum yang paling ideal dalam mengatasi krisis pembelajaran.


Menteri Nadiem Makarim mengatakan bahwa anak-anak tidak perlu khawatir dengan tes kelulusan karena asesmen nasional yang sekarang digunakan tidak bertujuan untuk menghukum guru dan murid. Namun sebagai bahan refleksi agar guru terdorong untuk belajar.


Dengan penerapan kurikulum ini tidak hanya dirasakan siswa, guru, orang tua dan insan pendidikan lain tetapi juga gaungnya hingga tingkat internasional melalui Presidensi G20 Indonesia. Yang membuktikan bahwa Indonesia tidak lagi jadi pengikut akan tetap jadi pemimpin dari gerakan pemulihan dunia, dengan mewujudkan merdeka belajar (Republika.co.id, 13/5/2022).


Sulitnya Penerapan Merdeka Belajar

Sejak awal dicetuskannya kurikulum merdeka diawal pandemi, banyak pihak yang menilai bahwa kebijakan yang diambil terlalu tergesa-gesa. Komisi X DPR RI, Syaiful Huda berpendapat bahwa kebijakan yang dihadirkan melibatkan partisipasi publik dan imbasnya berujung polemik di masyarakat. Pihaknya juga berharap agar Kemendikbud Ristek membuka ruang diskusi dengan publik sebelum mengambil kebijakan. Ujung tombaknya adalah guru sehingga setiap kebijakan perlu masa transisi dan dirasakan oleh para pemangku kepentingan. Kemendikbud Ristek harus membuka ruang diskursus yang melibatkan publik yang luas agar agenda penting dalam transformasi pendidikan dibangun bersama dalam ruang publik ( medicom.id, 31/12/2021).


Sementara itu Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Said Hamid Hasan menilai kurikulum merdeka sangat sulit diterapkan. Pihaknya mendorong agar Kemenbud Ristek menyempurnakan terlebih dahulu sebelum diterapkan nasional. Kurikulum juga harus bicara tentang kebutuhan dan kualitas, sebab menyangkut masa depan generasi bangsa. Said pun mengatakan bahwa kurikulum merdeka ini adalah kurikulum yang belum matang, sebab tanpa evaluasi dan studi komprehensif, tiba-tiba menjadi kurikulum merdeka. Dikhawatirkan dengan menerapkannya akan menimbulkan masalah ( medicom.id, 10/5/2022).


Kurikulum merdeka yang disuguhkan Kemendikbud Ristek sekilas terlihat bahwa kurikulum ini akan membawa para generasi muda, baik mahasiswa atau pelajar akan mudah belajar. Hilangnya pembelajaran saat pandemi menjadi problem tersendiri bagi siswa, guru dan tenaga kependidikan. Penetapan kurikulum ini pun juga perlu ada kajian yang mendalam. Kurikulum harus memuat visi dan misi pendidikan yang berupa penguatan landasan kehidupan. Pentingnya penguatan landasan kehidupan agar tetap membekas pada diri peserta didik tentang visi dan misi pendidikan. Bukan hanya sekedar sekolah daripada tidak sekolah.


Menyoal Arah Pendidikan

Kewajiban suatu bangsa adalah menyiapkan generasi berkualitas. Menetapkan visi dan misi pendidikan yang jelas merupakan langkah strategis negara dalam membangun generasi. Hak otonomi yang diberikan kepada sekolah agar mampu membuat arah pendidikan sesuai kemampuan, berdampak tidak seragamnya arah pendidikan di negeri ini. Bahkan berpetak-petak.


Sejatinya pendidikan diharapkan menjadi problem solving untuk semua persoalan bangsa yang multidimensional. Namun, celakanya, banyak para ahli yang lulus dari perguruan tinggi tidak mampu menjadi pemecah masalah bagi persoalan umat. Karena, dunia pendidikan justru diarahkan untuk mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan industri. Potensi intelektual harus terkungkung di bawah kepentingan korporasi. Hingga menjadikan target pendidikan hanya sebatas lulusannya terserap dunia kerja.


Maka, penting untuk mengembalikan peran pendidikan sebagai pencetak generasi "problem solving". Yakni, intelektual yang tidak hanya menguasai ilmu kepakarannya, namun menyadari kemanfaatan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Negara kita membutuhkan para intelektual pemikir yang siap menjadi pemimpin terbaik di masa yang akan datang, bukan sekedar pekerja di bawah kendali negara lain.


Kegagalan pendidikan dalam mencetak generasi pemimpin, tidak lepas dari pengaruh penerapan sistem sekuler kapitalisme yang diadopsi negara kita. Sistem ini menjadikan materi sebagai orientasi pendidikan. Liberalisasi pendidikan pun tak terelakkan. Output pendidikan hedonis, individualis, liberalis dan materialistik. Oleh karena itu, perbaikan pendidikan haruslah dengan mengubah paradigma pendidikan.


Mewujudkan pendidikan yang berdaya saing tinggi, meniscayakan visi negara yang kuat, mendunia dan independen. Maka, negara harus bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan pendidikan. Mulai dari pembuatan kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana.


Islam: Solusi Pendidikan

Umat islam pernah mencapai masa kegemilangan selama 13 abad lamanya, saat negara menerapkan islam kaffah dalam kehidupan. Saat itu, sekolah-sekolah di negara islam menjadi sekolah terkemuka di dunia. Bahkan menjadi sumber rujukan literatur dunia. Pada masa pemerintahan kekhilafahan Andalusia misalnya, jika ada literatur asing yang belum bisa diselesaikan maka bertanya pada kekhilafahan di Andalusia.


Adapun rahasia keberhasilan sistem pendidikan islam karena dibangun atas dasar aqidah islam. Output pendidikan, terus menghasilkan para ahli sekaligus ulama. Sistem pendidikan Islam diarahkan untuk membangun peradaban Islam. Berbagai jenjang pendidikan dalam Negara Islam berkonstribusi dalam meninggikan peradaban Islam. Sehingga Islam menjadi mercusuar peradaban dunia.


Pendidikan dalam negara khilafah dirancang untuk mencapai tiga tujuan pokok yaitu:

Pertama, Memfokuskan dan memperdalam kepribadian Islam murid pendidikan tinggi, yang telah dibangun dengan sempurna pada level pendidikan sekolah, dan mengangkat kepribadian ini untuk menjadi pemimpin yang menjaga dan melayani persoalan vital umat.


Kedua, Membentuk gugus tugas yang mampu melayani kepentingan vital umat. Termasuk kepentingan vital umat adalah mengamankan kebutuhan pokok, seperti air, makanan, akomodasi, keamanan dan pelayanan kesehatan


Ketiga, Mempersiapkan satuan tugas yang dibutuhkan untuk melayani umat dalam urusan dengan hakim, ahli hukum, dokter, insinyur, penerjemah, akuntan, perawat dan sebagainya.


Sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Oleh karena itu, solusi untuk memajukan pendidikan dengan menerapkan sistem pendidikan islam yang telah terbukti meninggikan peradaban manusia. Wallahu a’lam bishshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update