Jagad sosial media dihebohkan dengan tulisan berkonten SARA yang di-posting oleh salah satu akun di Facebook. Yang bikin lebih geger lagi karena penulisnya merupakan salah seorang profesor. Tak hanya bergelar profesor, Budi Santoso Purwokartiko juga menjabat sebagai rektor di Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Tulisannya yang mengundang hujatan tersebut, berkonteks mengomentari kandidat penerima beasiswa LPDP. Ia membandingkan dua kelompok kandidat yang berbeda kecondongan agama. Selain itu, kalimat-kalimat islami seperti InsyaAllah, barakallah, dan qadarullah, disinggungnya dengan nada negatif. Ia juga mengomentari mahasiswi yang memakai alat penutup kepala alias hijab sebagai manusia gurun.
Tak cukup sampai disitu, ia memuji kalangan mahasiswa yang orientasi akademiknya membumi (duniawi) sebagai orang-orang yang open mind dibandingkan dengan yang bicaranya soal langit (menyindir mahasiswa yang taat pada agama).
Ismail Fahmi , Founder dari Drone of Emprit, menilai tulisan Budi Santosa termasuk kategori rasis dan xenophobic. Ia berharap netizen tidak meniru perilaku tak patut tersebut. (www.fajar.co.id, 01-05-2022)
Gelar Mentereng Tak Jamin Maju dalam Pemikiran
Masifnya sekularisasi pendidikan di sistem demokrasi, melahirkan kaum intelektual yang jauh dari pemahaman Islam bahkan membenci dan memusuhi ajaran agama Islam, sekalipun berstatus muslim. Tak hanya mahasiswanya, banyak juga dari kalangan dosen, profesor, hingga pejabat tertingginya yang menjadi corong moderasi dan sekularisasi. Bukannya mendorong para generasi untuk cerdas secara spiritual (menjadi hamba yang taat), mereka justru mengajak agar menjauhi agama yang dianggap sebagai sumber radikalisme. Nau'dzubillah mindzalik..
Dalam dunia akademik saat ini, pemahaman liberal lebih digaungkan daripada pemikiran yang dilandasi ajaran agama. Maka tak heran, Islamophobia banyak menjangkiti kalangan intelektual.
Status kontroversial mengandung SARA yang ditulis Budi Santosa, hanyalah salah satu bukti kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem pendidikan yang salah arah. Intelektualitas yang hanya dilihat dari sisi akademik tak menjamin kemajuan dalam berpikir dan keluhuran moral. Tanpa panduan agama, dunia pendidikan didominasi oleh para intelektual angkuh yang menganggap prestasi unggul dilihat dari capaian akademik semata, bukan ketaatan pada Sang Pencipta.
Ketaatan Satu-Satunya Ukuran Kemuliaan
Kapitalisme sekuler yang hari ini diadopsi sebagai pandangan hidup, menghasilkan masyarakat yang masih melihat bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan, yang punya jabatan tinggi, gelar pendidikan tinggi dan berasal dari keturunan bangsawan.
Namun, Allah bantah anggapan itu dan menegaskan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Ayat yang patut jadi renungan saat ini adalah firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
Tak mengapa jika tak disebut open mind ala sekuleris, sebab yang layak untuk menilai kemuliaan seseorang hanyalah Sang Pencipta alam semesta. Allah-lah yang berkuasa menentukan mulia tidaknya seorang hamba. Barangsiapa yang taat, mulia-lah ia sehingga layak mendapat surga-Nya. Yang menjauhi ketaatan, akan Allah hinakan dan mendapat murka-Nya.
Dari kasus Budi, seorang intelektual namun berperilaku rasis, benarlah ajaran di dalam Islam bahwa ilmu itu harus didahului dengan ilmu. Keteladanan akhlak lebih berpengaruh dari sekedar transfer ilmu.
Lebih dari itu, intelektualitas seseorang harus dilandasi dengan keimanan dan ketaatan. Dalam sistem Islam, ulama atau para intelektual merupakan orang-orang yang paling besar ketundukkannya kepada Allah. Hal itu tentu didukung oleh sistem pendidikan yang berorientasi pada akhirat dengan landasan aqidah yang kuat. Sehingga, intelektualitas tinggi yang dimiliki peradaban Islam juga mengundang keberkahan dari Allah SWT.
Tentu saja peradaban Islam yang berintelektualitas tinggi dan mulia itu, hanya bisa terwujud saat aturan-aturan Allah diterapkan secara menyeluruh di setiap sendi kehidupan. Jaminan Allah berupa keberkahan hidup, insyaAllah bisa dirasakan oleh seluruh rakyatnya. Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment