Penulis Akademi Menulis Kreatif
Istilah moderasi beragama kembali booming tahun ini. Setelah dalam berbagai kesempatan Menteri Agama Yaqut Cholil mendengung-dengungkan tentang spirit moderasi beragama sebagai paradigma pembangunan nasional. Kemenag menekankan pentingnya cara berpikir, bersikap dan berperilaku moderat dalam beragama yang digadang-gadang dapat menjadi solusi permasalahan negeri yang sarat dengan keberagaman.
Ibarat lagu lawas yang diputar ulang dalam kemasan berbeda. Jika diperhatikan kembali, ide moderasi ini sebenarnya adalah anak dari sekumpulan idealisme Barat. Pada tahun 2006-2007 melalui lembaga Rand Corporation bertajuk Building Moderate Muslim Network dijelaskan bahwa kemenangan tertinggi Amerika serikat akan dicapai jika ideologi Islam terus-menerus dicitrakan buruk, antara lain dengan labelisasi radikalis, ekstremis, fundamentalis, teroris dan lain sebagainya.
Dalam kurun waktu tertentu istilah- istilah yang ditempelkan pada umat Islam ini seolah menguap tanpa adanya fakta konkret. Sejauh ini pun sebenarnya masyarakat masih gamang dan dibuat rancu dengan anggapan ekstrem dan radikal yang sesungguhnya. Lebih jelasnya lagi, umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran agama Islam yang benar itulah yang kemudian disebut sebagai golongan radikal dan ekstrem. Pada akhirnya dipakailah istilah moderasi beragama sebagai istilah baru yang dikemas secara apik untuk mengecoh khalayak. Jika tidak ditelusuri dengan seksama, maka moderasi akan dianggap benar. Padahal hal ini sangat membahayakan umat Islam.
Apakah Moderasi Itu?
Moderasi beragama adalah paham keagamaan yang moderat atau melakukan dengan setengah-setengah hingga mereduksi ajaran Islam itu sendiri. Moderasi dianggap sebagai jalan tengah yang tetap konsisten pada komitmen kebangsaan, mengedepankan toleransi, anti kekerasan, dan lebih menerima tradisi budaya.
Moderasi beragama mengacu pada konsep washathiyah addin yang mendorong para pemeluknya untuk berada di garis tengah, tidak ekstrem, sempit, simplisit, kaku, formil dan semacamnya. Tentu sebagian umat yang mempunyai kepentingan pribadi akan merasa nyaman dengan moderasi beragama ini. Apatah lagi sang pengusung mengetengahkan dalil dengan tafsir mandiri. Kata-kata wasathan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 143 dibawa-bawa sebagai dalil yang tepat dalam membawakan moderasi. Sungguh merupakan suatu pemikiran yang dangkal dan terlalu berani mempermainkan makna dari firman Allah.
Asal Mula Moderasi
Sejenak mari kita tengok kembali sejarah Islam. Sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan Khulafaur Rasyidin, Bani Abbasiyah, dan Bani Umayyah tidak ada istilah kata moderasi. Pada saat itu syari'at Islam masih menjadi pedoman, tidak dipilih-pilih ajarannya dan diterapkan secara kafah. Namun setelah kekhilafahan Usmani runtuh, umat Islam mulai terpecah belah, semakin lama semakin terkotak-kotak.
Sesungguhnya pemahaman kafir Baratlah yang telah meracuni pemikiran seluruh umat Islam. Siapa pun yang mempunyai pemahaman sama dengan kafir Barat akan diiming-imingi kesejahteraan, sedangkan yang berseberangan akan dicap sebagai teroris. Menurut Barat, liberalisme harus tetap diopinikan guna mencegah tegaknya Islam kembali. Mulailah berbagai propaganda atas umat Islam digencarkan dengan berbagai istilah ekstremis, teroris, fundamentalis hingga moderasi.
Bahaya Moderasi Bagi Generasi
Setelah mengetahui asal mula istilah moderasi, tentu menjadi jelas bahwa moderasi bukan bersumber dari ajaran Islam, melainkan dari kafir Barat yang mengadopsi paham liberalisme-sekular. Keberadaannya justru membahayakan umat di dunia baik muslim maupun kafir. Moderasi yang sarat dengan pluralisme dan sinkretisme akan merusak kemurnian akidah Islam. Generasi terancam ragu atas keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Generasi juga dibuat takut untuk mengkaji Islam secara mendalam, menunjukkan identitas sebagai muslim, terlebih lagi untuk berdakwah dan memperjuangkan syari'at Islam. Alhasil generasi menjadi jauh dari pemahaman Islam yang lurus dan menyeluruh karena ajaran Islam direduksi maknanya, bahkan pengertian jihad dan khilafah telah dikriminalisasi.
Peran Kaum Muslim Menolak Moderasi
Sebagai orang yang beriman, tentunya kita harus waspada terhadap serangan-serangan Barat yang menyasar pemikiran umat Islam. Dalam hal ini moderasi menurut pandangan Islam adalah batil. Tafsir istilah washathiyah dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 tidak sama maknanya dengan toleransi ala moderasi, sehingga dapat diambil kesimpulan jika moderasi berbahaya dan wajib ditolak. Saatnya seluruh umat Islam dunia menyadari akan pentingnya persatuan Islam dalam satu institusi warisan Rasulullah Saw. Jangan pernah ragu untuk mempelajari Islam kafah dan memperjuangkannya bersama para pengemban dakwah ideologis.
Wallahua'lam.
No comments:
Post a Comment