Moderasi Beragama, Ajang Penyesatan Umat


Oleh Susci 
Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Banggai Banggai Laut, Sulteng 

Akhir bulan Desember ini, sebagian umat Islam dihebohkan dengan perayaan Natal. Aksi keterlibatan dalam menghadiri perayaan tersebut mulai direncanakan. Tampaknya umat Islam lambat laun mulai meninggalkan syariat Islam kafah. Tak dapat dimungkiri, isu yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan telah menjerat umat Islam yakni moderasi Islam yang menyesatkan.

Moderasi Islam merupakan penyerangan softpower yang digencarkan Barat untuk menyerang dan menghancurkan pemahaman Islam. Moderasi Islam memiliki beragam macam, di antaranya paham toleransi dan pluralisme yang standarisasinya berasal dari mereka. Masuknya moderasi Islam dibalut dengan dalih perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Moderasi Islam pula disampaikan sebagai sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Keterlibatan sebagian umat Islam dalam merayakan Natal adalah bagian dari moderasi yang menyesatkan. Namun, dibungkus dengan anggapan toleransi beragama. Oleh karena itu, umat Islam harus bisa memahami makna dari toleransi beragama agar tidak mudah disetir oleh pemikiran menyesatkan tersebut.

Pandangan Islam Tentang Toleransi

Makna toleransi dalam Islam adalah menghargai dan membiarkan agama lain melaksanakan dan merayakan peribadatan mereka, bukan ikut serta melibatkan diri ataupun hanya sekadar mengucapkan selamat Natal. Islam memahami bahwa melibatkan diri ataupun mengucapkan selamat Natal adalah bentuk pengakuan akan kebenaran agama mereka, dan hal itu tidak dibenarkan dalam syariat Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya agama yang diridai Allah. Sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam." (TQS. Ali-Imran:19)

Namun, hadirnya kesadaran tersebut seringkali memunculkan tuduhan sikap intoleransi. Tidak mengucapkan selamat Natal dan tidak menghadirinya disebut intoleran. Yang menjadi pertanyaannya adalah standar intoleransi seperti apa yang mereka maksud? Apakah mereka yang berusaha taat terhadap ajaran Islam disebut intoleransi?

Selain toleransi, digencarkan pula paham pluralisme ke dalam pemikiran kaum muslim. Pluralisme adalah paham yang memandang semua agama sama. Sehingga, memunculkan pemahaman bahwa keberagaman agama adalah sesuatu yang pasti, walaupun Tuhan berbeda namun memiliki nilai yang sama. Sama menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Sehingga, tidak ada salahnya jika saling menghargai dan saling melibatkan diri.

Islam tidak mengenal paham pluralisme. Islam berbeda dengan agama lainnya. Islam tetap dengan ajarannya. Sebagaimana kisah tiga orang dari kalangan Quraisy yang datang kepada Rasulullah dengan membawa tawaran. Ketiga orang tersebut menawarkan kepada Rasulullah,  “Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubi)

Namun, sebelum Rasulullah menjawab, Allah Swt. lebih dulu menurunkan ayat sebagai penolakan tegas atas tawaran tersebut.

"Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmu agamamu dan untukku agamaku" (TQS. al-Kafirun: 1-6)

Oleh karena itu, umat Islam harus sadar bahwa moderasi beragama adalah ajang penyesatan umat dan upaya pengalihan dari ajaran Islam kafah. Moderasi beragama adalah jembatan bagi Barat untuk melanggengkan hegemoni mereka atas negeri-negeri muslim. Sebab, Barat paham betul, bahwa dengan bersatunya kaum muslim, maka itu akan menjadi momen kekalahan mereka sebagai negara adidaya. Maka, cara ampuh dalam mengalahkan kaum muslim adalah dengan menghancurkan pemikiran mereka dan menggantikannya dengan pemikiran Barat yang berasaskan kapitalisme sekularisme yang jauh dari syariat Islam kafah.

Umat Islam harus memahami bahwa mereka sedang dijadikan alat dalam mempertahankan kekuasaan Barat. Moderasi beragama begitu merugikan bagi umat. Sebab, berdampak pada melemahnya akidah kaum muslim, keyakinan kepada Allah Swt. dan ajaran Islam yang mulia telah hilang. Sehingga, menyebabkan hilangnya ketundukan kepada syariat Islam. Islam tidak lagi diprioritaskan dan lebih tunduk pada paham yang bertentangan dengan Islam. 

Selain itu, moderasi beragama juga mengakibatkan hilangnya pemahaman Islam kafah. Umat Islam mulai rabun terhadap syariat dan tidak lagi dapat membedakan mana yang boleh dan yang dilarang. Alhasil, umat Islam disetir dengan pemikiran salah, yang tentu berimpak pada kepribadian individu.

Hilangnya Peran Negara dalam Menjaga Agama

Negara seharusnya mampu menjaga agama, namun tidak didapati di negeri ini. Pasalnya, agama hanya dijadikan sebagai urusan spritual menyangkut urusan pribadi. Tidak ada penerapan dari negara. Jika ada yang melanggar ajaran agamanya, individu tersebutlah yang bertanggung jawab atas perbuatannya. 

Negara dengan penerapan kapitalisme sekularisme sampai sekarang tidak menolak munculnya moderasi beragama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Berbeda halnya dengan khilafah yang menerapkan sistem pemerintahan Islam berkisar kurang lebih 13 abad lamanya. Khilafah akan menerapkan peraturan dalam kehidupan sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ajaran agama dijadikan standar keputusan dan perbuatan. Sehingga, ketika masuknya paham baru di dalam khilafah, maka khalifah sebagai pemimpin akan terlebih dahulu melakukan observasi menurut standar syariat, apakah paham tersebut aman bagi umat ataukah sebaliknya?

Alhasil, umat Islam harus berjuang demi terwujudnya kembali khilafah sebagai institusi yang mampu menjaga ajaran agama, memunculkan sikap toleransi yang benar serta memfilter segala macam paham yang bertentangan dengan syariat. Untuk itu, umat Islam harus membekali diri dengan pemahaman Islam kafah, agar mampu membedakan mana paham menyesatkan dan mana yang bukan, sebelum tegaknya institusi khilafah.

Wallahua'lam bishshawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post