Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perundingan Damai Untuk Mengakhiri Kebiadaban Israel?

Friday, June 18, 2021 | Friday, June 18, 2021 WIB

Oleh: Pilar Bela Persada (Mahasiswi, Komunitas Annisaa Ganesha)

Naftali Bennett, resmi dilantik sebagai perdana menteri Israel yang baru pada hari Minggu (13/6) kemarin. Atas pelantikan ini Mohammad shtayyeh, perdana menteri Palestina berkomentar bahwa Bennet sama buruknya dengan Netanyahu, perdana menteri Israel sebelumnya (theguardian.com). Bahkan lebih buruk lagi, Bennett terang-terangan mengaku bahwa ia sama sekali tidak setuju dengan gagasan tentang keberadaan negara Palestina. Pada tahun 2013 lalu, dalam pertemuan Dewan Yesha, organisasi payung komunitas Yahudi di Tepi Barat, ia mengatakan “Gagasan untuk membentuk negara Palestina di Israel telah mencapai jalan buntu,”. Ia juga melanjutkan “Masalah terbesar adalah bahwa para pemimpin Israel tidak siap untuk mengatakan dengan jelas bahwa Tanah Israel adalah milik orang-orang Yahudi,” (timeofisrael.com). Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Danny Danon pada 2013 yang kala itu menjabat sebagai wakil menteri pertahanan, Danon mengklaim bahwa mayoritas internal pemerintahan Israel menentang keras pembentukan negara Palestina. "Jika akan ada langkah untuk mempromosikan solusi dua negara, Anda akan melihat kekuatan menghalanginya di dalam partai dan pemerintah," katanya dalam sebuah wawancara (theguardian.com). 

Hingga saat ini pun, Israel sebenarnya tidak pernah mendukung gagasan solusi dua negara. Israel berkeinginan menelan seluruh tanah Palestina yang bersejarah. Solusi dua negara merupakan gagasan milik AS untuk menahan ambisi para Zionis, sehingga Israel terus bergantung pada dukungan AS dan akan memungkinkan AS menggunakan Israel untuk mencapai kepentingan regionalnya sendiri di kawasan Timur Tengah. AS tidak pernah ingin berbagi wilayah dengan Israel. Meskipun Israel dan AS tampak memiliki hubungan erat dan sering berkoordinasi dalam banyak hal, namun sesungguhnya kepentingan keduanya tidaklah identik. Maka pada tahun 1978 melalui Camp David, Israel terpaksa mengembalikan kendali atas tanah yang telah diambilnya selama perang 1967 dan 1973 serta mengizinkan pembentukan negara Palestina, sebagai imbalan atas pengakuan formal dan penerimaan keberadaannya (thegeopolity.com).

Sementara di sisi lain, para penguasa Arab di Timur Tengah, PLO, dan Hamas telah lama menerima solusi dua negara. Padahal sebagai muslim, seharusnya kita memahami bahwa tanah Palestina merupakan tanah dengan status tanah kharajiyah. Tanah ini milik kaum muslim di seluruh dunia. Tanah tersebut tetap berstatus tanah kharajiyah hingga hari kiamat. Tidak ada yang berhak menyerahkan tanah ini kepada pihak lain, terlebih lagi kepada para kolonialis Israel. Hal inilah yang sangat dipahami oleh Khalifah Abdul Hamid II pada masa itu. Beliau benar-benar menjadi perisai yang menlindungi umat muslim dan dengan tegas tidak mau memberikan tanah palestina sama sekali kepada para Zionis. 
Analogi solusi dua negara ialah ibarat ada seorang yang hartanya dirampas oleh perampok, kemudian polisi datang. Polisi tersebut memutuskan harta yang dirampok tadi sebagian dikembalikan kepada pemilik dan sebagian yang lain diberikan untuk perampok. Opsi yang bodoh tentu jika diambil. Lantas mengapa para penguasa muslim setuju dengan solusi bodoh tadi? Karena mereka tidak lagi menjadikan islam sebagai pijakan. Sehingga mereka tidak lagi memperhatikan umat dalam keputusan yang mereka ambil. Mereka lebih memilih untuk terfragmentasi dalam sekat-sekat regional pada tatanan negara sekuler saat ini dan menjadi media untuk mewujudkan ambisi kolonial barat dengan imbalan sedikit kekuasaan untuk mereka, daripada bersatu dalam sebuah kepemimpinan berlandaskan akidah islam. 
Internal negeri-negeri muslim sungguh sedang terpolarisasi, ada gap antara para penguasanya dengan umat muslim itu sendiri. Di satu sisi umat sangat berempati dan di sisi lain para penguasa negeri muslim tersebut pasif dan tidak benar-benar peduli atas kondisi yang menimpa Palestina. Pernyataan seperti mengutuk atau mengecam hanyalah formalitas belaka. 

Otoritas kecil seperti Palestina  tidak akan bisa melawan Israel yang didukung kekuatan lintas batas utama, yakni negara-negara adidaya dan PBB. Jadi, seharusnya kita memahami bahwa permasalahan Palestina hanya bisa dituntaskan dengan persatuan umat muslim dibawah sebuah kepemimpinan dalam bingkai negara khilafah. Negara khilafah adalah satu-satunya metode yang shahih untuk menerapkan konsep Islam sebagai perwujudan kewajiban untuk taat kepada Allah SWT bagi umat muslim di seluruh dunia. 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّققُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّككُمْ تَهْتَدُوْنَ 
Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.  (QS. Ali Imran 3: Ayat 103)
Di bawah khilafah, pasukan jihad Islam akan membebaskan tanah Palestina dari para penjajah Israel. Berikutnya di bawah khilafah pula, umat islam di seluruh dunia termasuk di Palestina, akan hidup dibawah perisai yang senantiasa menjaganya, yakni seorang khalifah. Ia akan melindungi umat dan tidak akan menyerahkan sejengkal tanah umat pun kepada pihak lain. Bahkan ia lebih rela mati dari pada harus mengkhianati umat Islam. Hal tersebutlah yang telah dibuktikan oleh Khalifah Abdul Hamid II.

“. . . Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai perpisahan tubuh kami selagi kami masih hidup” – Khalifah Abdul Hamid II, 1902-

Wallahu a’lam bish showwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update