Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapankah Derita Muslim Di Dunia Berakhir?

Saturday, May 29, 2021 | Saturday, May 29, 2021 WIB Last Updated 2021-05-28T23:32:43Z
Oleh Ummu Afifah
(Theraphys Bekam, Rukiyah syar'iyah Faiqoh)

 Masih teringat jelas perlakuan keji yang di terima umat muslim di Sebuah sudut kota Hotan, Xinjiang, Cina, kini berisi tumpukan puing-puing bangunan. Sudut itu, dulu adalah lokasi Masjid Heyitkah yang kemudian dirobohkan dan jadi puing di tempatnya pernah berdiri. (AFP, 08/06/2019 08:16)

Suasana akhir Ramadan dan Idulfitri bagi masyarakat muslim di kota ini tidak semeriah saudara seiman mereka yang lain di dunia. Masyarakat Muslim yang kebanyakan adalah bagian dari suku Uighur dan minoritas lainnya merayakan Idulfitri kali ini dengan tekanan, setelah puluhan masjid dihancurkan.

Di sudut lain kota, slogan "Didik Rakyat untuk Partai" terpasang dengan warna merah menyala di dinding sebuah sekolah dasar. Para murid pun haru memindai wajah mereka sebelum masuk gerbang yang dililit kawat berduri.

Sebuah kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri, mata kita tidak buta,btelinga kita tidak tuli dan hati kita merasakan derita saudara-saudara kita muslim uyghur adalah derita kita. Karena mereka muslim, karena muslim diikat dengan ikatan yang kuat yaitu ikatan aqidah Islam. Kekejian yang dilakukan Pemerintah Cina kafir laknatullah membuat kita geram karena mereka selalu membuat barbagai cara untuk menghapus pemahaman agama khususnya agama Islam.

Mulai dari pelarangan shalat di masjid, pelarangan berhijab, pelarangan puasa di bulan Ramadhan. Tidak ada lagi yang namanya toleransi agama. Inilah jika kita hidup dalam sekat-sekat negara yang membuat kita lemah. Sekat nasionalisme yang membuat setiap negara membatasi ke ikut campurannya dalam urusan dalam negeri.

Inilah sebuah konsekuensi sebuah pemahaman yang salah, pemahaman yang harus segera dicampakan. Semua harus menyadari inilah jika muslim tidak bersatu, karena sekat nationalisme yang membuat kita, sesama muslim hanya dapat melihat, mendengar dan merasakan derita saudara seiman ketika ditindas secara keji oleh orang-orang kafir laknatullah.

‘Ashabiyah itu berasal dari ‘ushbah (kelompok) dan ‘ashabah (kerabat laki-laki).  ‘Ashabiyah maknanya ikatan kelompok baik kelompok keturunan maupun yang lain. Nasionalisme, kesukuan, golongan, kedaerahan, jamaah, partai, kemadzhaban, dan lainnya, termasuk dalam makna ‘ashabiyah.

Hanya saja larangan atau keharaman ikatan ‘ashabiyah itu bukan berarti tidak boleh mencintai suku, daerah, keluarga, jamaah, kelompok, golongan, madzhab. Melainkan maknanya adalah tidak boleh atau haram menjadikan ikatan ‘ashabiyah itu di atas segalanya, di atas kebenaran dan di atas ikatan Islam dan keimanan, di atas ukhuwah islamiyah.

Oleh karenanya, dalam Islam tidak ada istilah right or wrong is my country, my nation, my madzhab, my party, my jamaah dan lainnya. Dalam Islam tidak ada slogan, “mau benar atau salah, yang penting negara saya, bangsa saya, mazhab saya, partai saya, jamaah saya, kelompok saya, guru saya, dan lainnya. Sikap ‘ashabiyah (fanatisme kelompok) itu harus ditinggalkan seperti yang diperintahkan Rasul saw.

Sikap ‘ashabiyah itulah bisa menyebabkan berbagai persoalan besar di tengah umat. ‘Ashabiyah bisa membuat orang menolak kebenaran, merendahkan orang atau pihak lain. Bisa merusak ukhuwah islamiyah. Bahkan ‘ashabiyah itu bisa menyebabkan orang atau kelompok mempersekusi orang lain atau kelompok lain. Bahkan lebih dari itu, ‘ashabiyah bisa membuat kelompok bahkan bangsa saling berperang dan saling bunuh tanpa alasan yang dibenarkan. Maka ‘ashabiyah menuntun kepada kehidupan jahiliyah.

Menghilangkan sikap ashabiyah dengan cara mempersatukan kaum muslim seluruh dunia dalam melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapakan hukum Allah Swt. secara keseluruhan. Di sinilah kita akan membangun kekuatan ukhuwah Islamiyah agar kaum muslim memiliki Junnah (pelindung) yang mampu melindungi : aqidah, jiwa, harta, akal, nasab, keamanan dan lain-lain.
Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."  (TQS. Al-Hujurat [49]: 10).

Seluruh kaum muslim akan bersatu dalam ikatan akidah Islam. Mereka akan merasakan karena mereka memiliki satu perasaan, satu pemikiran dan satu aturan yaitu Islam.

Penindasan terhadap kaum muslim tidak akan terjadi karena jiwa seseorang akan berada dalam jaminan keamanan seorang imamah/Khalifa/pemimipin karena seorang pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt. Tiada yang mampu merenggut nyawa seorang muslim, karena jiwa (nyawa) seorang muslim dalam jaminan Allah Swt.
Allah Swt. berfirman:
"Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya." (TQS. An-Nisa' [4]: 93)

Dalam sistem Islam yang menerapkan Syariah secara kafah tentunya akan memberlakukan sanksi bagi pelaku kriminal/ kemaksiatan/ bughat. Penerapan dengan menggunakan jawabir ( pencegah) dan jawazir (penebus). Pemberlakuan Jabir dan jawazir akan mampu memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat yang berada dalam naungan Sistem Islam yang diterapkan secara Kaffah. Rakyat dalam sistem Islam beragam suku dan agama namun tetap diberikan kesamaan dalam menikmati pasilitas yang diberikan negara kepada mereka.

Maka adalah suatu hal yang urgent (penting) adanya sistem Islam yang menerapkan Syariah Islam secara kaffah agar mampu melindungi dan menjaga setiap aqidah , jiwa, harta, keamanan, akal, nasab dan lain-lain.

Derita kaum muslim didunia hanya bisa diatasi jika adanya Junnah yaitu pelindung yang mampu mengusir setiap penjajahan keji kafir laknatullah. Kaum muslim butuh Junnah. Junnah itu pernah ada selama 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 dunia. Hidup sejahtera didalamnya. Wallahu'alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update