Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Satu Abad Khilafah Runtuh, Nestapa Bergemuruh

Monday, March 08, 2021 | Monday, March 08, 2021 WIB Last Updated 2021-03-07T23:05:51Z

Oleh: Ummu Almahira (Aktivis Muslimah) 

Satu abad kaum muslimin hidup tanpa khilafah, Seratus tahun pula umat manusia terjatuh dalam nestapa. Tanggal 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342 Hijriyah) negara Islam khilafah yang telah berpusat di Turki dihapus dan dijatuhkan oleh Kamal Attaturk dan para penjajah Inggris. Turki berubah menjadi negara sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Negeri-negeri Islam pun dipecah belah menjadi negara–negara bangsa (nation state), baik berbentuk kerajaan, republik, dan sebagainya. 

Khilafah yang sejatinya merupakan kepemimpinan umum bagi umat Islam di seluruh dunia pun telah lenyap. Tidak ada lagi persatuan umat. Keadaan kaum muslimin tercabik-cabik, tidak ada yang mengurus dan melindunginya. Di berbagai daerah negeri Islam, tindak kedzaliman, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, beragam fitnah, perampokan kekayaan alam, kemaksiyatan merajalela serta kemiskinan merata di seluruh penjuru dunia. Harga diri kaum muslimin dihinakan dan darah kaum muslimin tertumpah. 

Dakwah Islam yang seharusnya dilakukan negara pun terhenti. Akhirnya pemahaman terhadap Islam semakin mandul. Ajaran Islam kaffah terasa asing. Umat Islam hidup bersama sistem sekulerisme yang mengajarkan bahwa agama hanya pada tataran di ibadah ritual saja, namun tidak diterapkan dalam kehidupan keseharian.

Kapitalisme pun mengajarkan umat dengan fasih bahwa ukuran perbuatan manusia hanya ditimbang berdasarkan asas manfaat, atau berhitung sebatas untung rugi, mengajarkan keserakahan, tidak mampu lagi melihat perkara halal atau haram. 

Seratus tahun tanpa khilafah seharusnya menjadi momen pematik semangat bagi umat islam untuk merenungi dan mewujudkan kembali kebangkitan Islam. Khilafah adalah satu-satunya solusi atas setiap nestapa umat. Khilafah pula yang mampu menjamin keberkahan dan kesejahteraan dunia. Sayangnya khilafah tidak akan terwujud jika umat enggan bersatu menegakkannya. 

Rasulullah bersabda:
“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak mengakhirinya. Kemudian akan ada fase khilafah berdasarkan metode Kenabian. Dengan kehendak Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengakhirinya jika Dia berkehendak mengakhirinya. Kemudian akan ada fase kepemimpinan yang zalim. Dengan kehendak Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengakhirinya jika Dia berkehendak mengakhirinya. Kemudian akan ada penguasa diktator. Dengan kehendak Allah ia akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengakhirinya jika Dia berkehendak mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian Nabi saw. diam.” (HR. Ahmad)

Hadist tersebut merupakan kabar gembira (bisyarah) yang dijanjikan oleh Allah. Datangnya khilafah yang kedua kalinya adalah suatu kepastian. Bagi kaum muslim, hadist ini merupakan penyemangat, penguat dan motivasi tak berujung yang harus terpatri menancap kokoh dalam benak . Hadist ini pula yang dapat mengembalikan harapan di tengah keputusasaan dan memberi energi yang besar sampai kapan pun bahwa nestapa umat pasti akan berakhir. 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya tentang surah an-Nur ayat 55 bahwa umat Muhammad (kaum muslim yang beriman dan beramal saleh) akan memimpin umat manusia (dunia). Dunia akan tunduk di bawah genggaman tangan umat Rasulullah saw. Bisyarah ini seharusnya menguatkan langkah umat muslim untuk bergerak menyebarkan ajaran Islam kaffah ke muka bumi. Bisyarah ini seharusnya membawa kaum muslim untuk terus berdakwah hingga sejarah peradaban dunia berubah.

Suatu hal berdosa bila umat muslim menjadi bagian yang turut mengerdilkan ajaran Islam yang sempurna. Umat justru harus dibukakan matanya, dibukakan telinganya bahwa Islam ajaran syamil dan kamil. Mampu menyelesaikan segala problematika umat dari akar sampai daun. Tiada satu dalil pun yang pantas diragukan. Apalagi dipilah-pilah mana yang menguntungkan atau tidak, mana yang berat atau ringan. Tiada keunggulan dan kesempurnaan selain Islam. Dimana setiap masalah kehidupan Islam punya solusi.

Menyebarkan pemahaman Islam kaffah tidak harus bergelar ustadz dan ustadzah, tidak juga harus dilakukan di gemerlap panggung atau mimbar. Seluruh kaum muslim mempunyai beban yang sama di pundaknya, yakni berdakwah untuk menjemput bisyarah (kabar gembira) atas janji Allah. Di kehidupan modern ini, berdakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui lisan atau tulisan, memanfaatkan media sosial untuk beropini, melakukan diskusi individu atau kelompok, dan sebagainya. Secara bersama-sama kita bergerak untuk meraih kemenangan. Ya, kemenangan itu berwujud tegaknya khilafah yang mewarnai dunia dengan kesejahteraan dan kedamaian, bukan dengan peradaban anyir kapitalis sekularisme. 
Wallahua’lam bi shawab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update