Setiap insan yang dilahirkan di dunia memiliki kemampuan dalam dirinya. kemampuan yang sebenarnya ialah mampu mengubah kondisi yang awalnya buruk menuju kondisi yang cerdas dalam menerima hal-hal yang baru seperti yang terjadi pada era globalisasi saat ini, gaya hidup yang semakin sekuler membuat umat islam abai akan peraturan yang Allah berikan, terlebih lagi sifat munafik dalam diri umat islam mempermudah kaum kafir mengekspor pemikiran-pemikiran rusak dalam diri kaum muslimin.
Secara tak sadar kaum muslimin dijadikan sebagai boneka yang kapan saja mereka butuhkan akan dikendalikan untuk menghasilkan materi dalam ajang bisnis kaum kapitalis. Terlihat bagaimana mereka mengambil kebijakan pada aplikasi yang mereka ciptakan untuk mengekang atau membatasi aktivitas kaum muslimin dalam menggunakan sosial media.
Akhir-akhir ini dunia digegerkan dengan adanya kebijakan baru pada aplikasi WhatsApp, yaitu layanan pesan instan yang telah diumumkan pada juli 2020. Rencana awal akan dilakukan pada 8 Februari tentang kebijakan untuk berbagi data dengan facebook, pengguna tak bisa lagi menggunakan layanan jika belum setuju dengan pembaruan itu. Dengan adanya kebijakan itu mengundang banyak kritik dari para penggunanya dan bahkan sejumlah pengguna mengajak pengguna lain untuk beralih ke aplikasi lain yang aman. seperti, warganet mengajak pengguna WhatsApp untuk berlaih ke aplikasi telegram (CNNIndonesia, 16/1/2021)
Hal ini juga mengundang kekhawatiran bagi pihak WhatsApp, bagaimana tidak khawatir, sebagian besar masyarakat di seluruh dunia sebelumnya menggunakan WhatsApp sebagai aplikasi yang mempermudah untuk berkomunikasi secara privasi, namun dengan mudah mereka beralih ke aplikasi lain yang lebih aman. tentu ini akan berpengaruh pada kondisi bisnis yang mereka emban.
Dalam ilmu bisnis apabila konsumen berkurang otomatis keuntunganpun akan ikut berkurang, sehingga mereka menunda kebijakan tersebut karena khawatir para pengguna akan beralih ke aplikasi lain. WhatsApp akan meninjau ulang, meminta pendapat secara bertahap kepada pengguna sebelum opsi bisnis akan direalisasikan pada 15 mei mendatang.
Dalam sistem kapitalis sudah menjadi kebiasaan mereka menggunakan segala cara tanpa melihat halal-haram dalam mencapai target yang mereka inginkan, yang mereka prioritaskan adalah keuntungan yang bersifat materialistik semata, karena itu merupakan alat untuk menjamin kebahagiaan mereka dalam menjalani kehidupan. Terlebih lagi yang menguasai teknologi saat ini adalah penjajah kafir sehingga mereka mampu mengendalikan kaum muslimin dalam berbagai kebijakan mereka.
Umat islam memiliki potensi besar untuk menguasai dunia
Dalam menghadapi problem seperti ini, maka seharusnya kaum muslimin sadar dan bersatu untuk menghentikan tindakan kejahatan kaum kapitalis dalam memperalat kaum muslimin sebagai objek sasaran mereka dalam hal berbisnis.
Terlihat bagaimana mereka takut akan berkurangnya jumlah pengguna aplikasi mereka, seandainya kaum muslimin bersatu untuk bersama-sama meninggalkan tak hanya pada aplikasinya saja namun yang lebih penting adalah meninggalkan gaya hidup mereka yang serba bebas, gaya hidup yang menciptakan kerusakan diatas muka bumi, sehingga yang merasakan dampaknya bukan mereka saja tapi semua umat yang hidup diatas muka bumi ini.
Tercatat oleh sejarah bahwa islam mampu menguasai sebagian besar dunia dan mampu menciptakan peradaban yang sangat mulia dalam berbagai bidang, sebut saja dalam bidang teknologi sehingga keamanan bagi setiap individu terjamin tidak akan ada yang membocorkan untuk kepentingan bisnis. Namun sayang, potensi itu berhasil dikubur dalam-dalam oleh penjajah sehingga kaum muslimin tak mampu lagi mencetak potensi tersebut. Selain itu, Negara sudah tak menjamin atau memfasilitasi para generasi untuk menghasilkan potensi tersebut dan membiarkan mereka untuk bebas berekspresi sesuai dengan hawa nafsu mereka, tak ada batasan dalam berekspresi adalah salah satu ciri dari sistem kapitalis.
Seharusnya kaum muslimin sadar bahwa saat ini mereka terlepas dari identitasnya sebagai kaum muslim, dan secara perlahan mereka terlepas dari aturan yang Allah turunkan sebagai solusi atas setiap permasalahan yang dialami.
Kedudukan tertinggi seorang hamba ialah tunduk dan taat akan aturan dari sang pencipta langit dan bumi, yaitu Allah SWT, serta percaya akan janjinya untuk mengembalikan sistem yang benar yakni sistem khilafah islamiyah.
Sebagaimana firman-NYA dalam Al-qur’an:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal yang saleh dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNYA untuk mereka, dan benar-benar akan menukar( keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembahku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik” (TQS. An-nur : 55).
Dengan Negara khilafah inilah yang mampu menyatukan potensi yang dimiliki oleh umat islam diseluruh penjuru dunia. Kaum muslimin tidak akan terpecah belah walau berebeda daerah.
Wallahu A’lam bi shawwab

No comments:
Post a Comment