Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jejak khilafah di Kerajaan Demak

Sunday, August 23, 2020 | Sunday, August 23, 2020 WIB Last Updated 2020-08-23T06:30:31Z
Oleh: Sonia Soraya, S.Si, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pusat pemerintahannya terletak di Demak Bintoro, pesisir utara Jawa Tengah. Kesultanan Demak dipimpin oleh Raden Patah atas penunjukan para wali. Kerajaan Demak berdiri bersamaan dengan jatuhnya Kerajaan Majapahit yang dipimpin Prabu Kertabumi (Brawijaya V). Hal ini ditandai dengan candrasengkala sirna ilang kertaning bumi, yang berarti 1400 saka atau 1478 Masehi (kompas.com, 5/3/2020).  
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Bersama para wali, Raden Patah selaku raja Demak menyebarluaskan Islam di Jawa hingga ke pelosok daerah. Demak berkembang dan menguasai jalur perdagangan di Indonesia sejak saat itu. Sepanjang pantai utara Pulau Jawa merupakan wilayah kekuasaan Demak. Pengaruhnya juga membentang mulai daerah Palembang, Jambi, Banjar dan Maluku. 
Raden Patah memerintah Kerajaan Demak di tahun 1482-1518 M. Kemudian pada tahun 1518-1521 dilanjutkan oleh  Adipati Unus. Sepeninggal Adipati Unus, tampuk pemerintahan berada di tangan Sultan Trenggono (1521-1546) dan berlanjut pada Sunan Prawoto (1546-1549). Periode pemerintahan kerajaan Demak ini sezaman dengan periode pemerintahan Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih (1444-1446 & 1451-481), Sultan Bayazid II (1481-1512), Khalifah Utsmani Pertama: Yavuz Sultan Salim (1512-1520) dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M).
Dunia terbagi menjadi dua bagian yaitu Katolik Spanyol diberi wewenang dunia Barat sedangkan Katolik Portugal diberi wewenang dunia Timur sejak adanya perjanjian Tordesillas (1994). Kolonialisme-imperialisme Kristen Barat terhadap banyak wilayah Islam (Kesultanan) dimulai dari sini, dan mereka banyak meminta bantuan Kesultanan ataupun Khilafah Turki Utsmani (1517).

Fernao Mendez Pinto (1509-1583) pernah bertemu langsung dengan Fatahillah dan Sultan Trenggono di Jawa. Ia menulis buku Historia oriental de las Peregrinaciones de Fernand Mendez Pinto portugues. Pada bab 178 (Anarchy in Demak), halaman 392 tertulis yang artinya mereka (Minhamundy) menimpa musuh-musuh mereka yang pada saat itu sibuk membongkar kamp, menangani mereka sedemikian rupa sehingga dalam waktu setengah atau satu jam, selama kemurkaan penuh pertempuran berlangsung, dua belas ribu orang-orang ditebang di lapangan, dua raja pasir lima pate ditangkap, bersama dengan tiga ratus TURKYS, Abyssinia, dan Achinese, serta caciz Moulana mereka, pejabat tertinggi dalam sekte Muslim, yang atas nasihatnya Panguerirao datang ke sana. Selain itu, empat ratus kapal yang terdampar pada saat itu, dengan yang terluka di dalamnya, dibakar, sehingga seluruh kamp hampir hancur. Mundur dengan selamat sekali lagi, dengan barisan yang terkuras hanya oleh empat ratus orang, dia membiarkan mereka memulai hari yang sama, yaitu pada tanggal sembilan Maret .. ”Lihat: Historia oriental de las Peregrinaciones de Fernand Mendez Pinto portugues, bab 178 (Anarchy di Demak), hlm. 392.,  Fernao Mendez Pinto pada halaman 382 menyebutkan bahwa pulau Jawa, Kangean, bali, madura dan semua pulau lainnya di nusantara ini berada di bawah kekaisaran Raja Demak. 
Dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa, hlm. 89 yang ditulis oleh H.J. De Graaf & Th. Pigeaud yang bersumber dari buku Da Asia jilid VIII bab 21, menyebutkan berita dari seorang Portugis De Couto, bahwa,” Ala’u Addin Syah adalah Raja Aceh yang gagah berani. Ia telah mengirim utusan untuk meminta bantuan dari O rey de Dama, Imperador do Java (Raja Demak yang menjadi Maharaja Jawa) pada pertengahan abad ke-16. Dengan maksud untuk menyerang kafir Portugis di Malaka dengan ekspedisinya. Sunan Prawoto bertekad untuk menguasai tanah Jawa seluruhnya, meniru Sultan Turki (Sulaiman Al-Qanuny) dengan menyatakan bahwa,” Apabila usaha ini berhasil, saya akan menjadi Segundo Turco (menjadi Sultan Turki kedua).

Itulah sebagian bukti adanya hubungan Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak melalui Kesultanan Aceh abad 9-10 H (15-16 M) dan sangat berperan penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Hubungan kesultanan Demak dengan khilafah Turki Utsmani juga dibahas secara khusus dalam Film Jejak Khilafah di Nusantara yang ditayangkan pada hari kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan peringatan tahun baru hijriyah, 1 Muharram 1442 H. Tayangan langsungnya mencapai rekor 430 ribu lebih tayangan pada hari itu juga, sebagaimana disampaikan pengamat media sosial, Rizki Awal (Muslimahnews.com., 20/8/2020). Film ini memuat fakta sejarah yang diperkuat dengan bukti-bukti yang nyata. Hal ini semakin memperkuat pemahaman umat Islam bahwa khilafah adalah ajaran Islam dan keberadaannya sangat penting dalam kehidupan Islam. 

Namun saat ini Khilafah sebagai institusi negara eksistensinya telah sirna di dunia ini. Sejak runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Perjuangan untuk menegakkan sistem khilafah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dengan khilafah seluruh hukum Islam dapat dijalankan. Hanya dengan khilafah kaum muslimin terlindungi jiwanya, terjamin kebutuhan hidupnya, dan terjaga kehormatannya. Wallahu A’lam Bis Showab.
×
Berita Terbaru Update