Oleh :Atik Nuryanti S.Pd
Praktisi Pendidikan
Masyaallah, Luar biasa untuk kesuksesan penayangan Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) pada 1 muharram 1442 H bertepatan 20 Agustus 2020. Film ini benar-benar mengguncang jagat maya bukan hanya filmnya yang memang di tampilkan dengan demikian apik, tapi film dengan 4 tranding topic teratas ditwiter, lebih dari 200.000 yang terdaftar memesan tiket ini mengalamani takedown tidak kurang dari tiga kali saat pemutaran film berlangsung.
Sungguh diluar dugaan, pada awal penayangan pukul 09.00 WIB para netizen sempat dibuat heboh dan terkecoh karena tidak dapat mengakses link yang telah diberikan pihak penyelenggara bahkan sempat mampir di link palsu. Namun dengan kesigapan panitia atas izin Allah subhanahu wa ta'ala semua permasalahan dapat teratasi sehingga film sukses tayang sampai akhir. Barokallohu fiikum
Bahkan sampai tulisan ini dibuat cuitan para netizen di dunia maya belum juga usai membicarakan kesuksesan atau protes terhadap takedown film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara. Benar-benar heboh.
Menurut pemantauan tim semarangku.com di kanal YouTube Khilafah yang merupakan official film tersebut, muncul tulisan “konten ini tidak tersedia di domain negara ini karena ada keluhan hukum dari pemerintah”. Sebelum diblokir, pantauan jumlah penonton film ini sudah mencapai ratusan ribu, tepatnya 276.194 views.
Tindakan pemblokiran ini mendapatkan kecaman dari beberapa pihak, bahkan Tengku Zulkarnain dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya mempertanyakan apa alasan keluhan pemerintah atas film jejak Khilafah sebagai sejarah? Apakah ada hukum negara yang dilanggar? Tentu sikap seperti ini sangat disayangkan. Semoga segera di konfirmasi oleh Pemerintah.
Film yang diinisiasi Sejarawan Nicko Pandawa bersama Literasi Islam JKDN, bercerita tentang hubungan Indonesia yang dulu disebut Nusantara yang nyatanya memiliki kaitan erat dengan Khilafah Islamiyah, terutama dengan masa Khilafah Ustmaniyah Turki, yang mana film tersebut juga berupa dokumenter yang diangkat dari data-data otentik.
Munculnya film ini sempat menimbulkan pro dan kontra karena ada beberapa sejarahwan yang tidak sependapat dengan trailer sementara daftar namanya masuk dalam launching film tersebut ramai-ramai mengklarifikasi.
Terlepas dari kontroversinya, film JKDN telah mendapat respon antusias, menyuguhkan wawasan luar biasa bagi umat Islam, bahwa ternyata Nusantara ini punya hubungan erat dengan Kekhilafahan Islam di masa lalu.
Kita yang menyaksikan film tersebut tentu punya penilaian tersendiri, kita bisa membandingan dengan referensi yang lain dan kenyataannya tidak dapat dibantah bahwa Nusantara memang punya hubungan yang kuat dengan Khilafah Islamiyah.
Jauh sebelum film JKDN tayang dilansir beritahukum.com Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Pembukaan KUII-VI dalam pidatonya mengatakan: Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.
Selain itu, dalam republika.co.id Pemerhati sejarah asal Solo, Dr Kasori Mujahid, Doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menulis disertasi tentang relasi Demak dengan Turki Utsmani ini menjelaskan, pada abad yang lebih muda, ada surat yang merekam ucapan selamat Pakubuwono X saat Sultan Abdul Hamid II selamat dari upaya pembunuhan dan kudeta. Menurut Kasori, surat tersebut ada pada arsip Turki Utsmani. Isinya menjelaskan ucapan selamat Sultan Surakarta Abdurrachman (gelar PB X). Dia pun menunjukkan isi korespondensi tersebut. Bunyinya:
"Cava Adasindaki Surakarta gehrinin rocasi Abdurrchman'in, Sultan 2. Abdulha mid suikasttan kurtulmasi uzerine Batavya Bo cehbenderligi araciligryla urz ettiyi tebrik yazisinin, sultan'a sunuldugu hakkindadir."
Menurut Nicko Film JKDN ini setidaknya akan membuka gerbang sejarah peradaban Islam di Indonesia atau Nusantara dan memberikan kunci yang hilang di masa lalu seolah dikaburkan tertutup pasir.
Setelah menyaksikan tayangan Film JKDN, khususnya dunia literasi dan para praktisi pendidikan mendapatkan referensi sejarah untuk dapat memaparkan secara detail kepada peserta didik tentang sejarah Islam dari Nabi Muhammad hingga sampai di Nusantara yang mungkin selama ini seperti potongan puzle, juga memberikan semangat baru kepada generasi muda untuk mengikuti jejak pendahulu mereka para pembangun peradaban: Muhammad Al-Fatih, Sholahuddin Al-Ayyubi dan masih banyak tokoh lain yang luar biasa kotribusinya untuk dunia.
Lebih dari itu, publik semakin tercerahkan dan tercerdaskan melalui visualisasi JKDN yang memang Khilafah sudah menjadi trend topik di tengah-tengah masyarakat. Harapannya umat semakin meyakini bahwa sistem Islam dalam intitusi Khilafahlah yang harusnya dipilih untuk mengatur dan menaungi hidup mereka karena telah jelas bersumber dari Rasululloh Shallallahu Alaihi Wasallam.
Allahu A’lam bi Ash Shawab