Oleh : Hikmatul Mutaqina
(Praktisi Pendidikan)
Viral, ratusan ribu netizen menonton live film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Antusiasme luar biasa dari kaum muslimin di Indonesia membuncah, menguak kebenaran sejarah hubungan nusantara dengan khilafah islam. Sejarah yang belum pernah terungkap. Membuat umat islam semakin tersadar masa depan akan terukir di tangan mereka. Seperti yang telah ditorehkan pahlawan negeri ini tatkala melawan penjajah dengan semangat jihad yang membara.
Film tesebut diputar bertepatan pada tahun baru islam 1 Muharram yang bertepatan pada tanggal 20 Agustus 2020. Mengangkat sebuah topik untuk menjawab tantangan zaman. Hubungan nusantara dengan khilafah islam. Tentu menjadi pembahasan yang menarik karena khilafah tengah menjadi trending topic dunia. Dari timur hingga barat, khilafah sedang hangat diperbincangkan. Pro kontra juga mewarnai pembahasannya. Kesesuaiannya dengan perkembangan zaman juga menjadi wacana yang terus diperdebatkan.
Sutradara film JKDN, Nicko Pandawa mengungkapkan salah satu latar belakang adanya film ini adalah menjawab tatangan zaman yg sering digulirkan bahwa propaganda khilafah menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Disajikan melalui bentuk yang mudah diterima oleh masyarakat luas, tetapi juga tidak menghilangkan nilai akademik dan ilmiahnya. Bahkan juga bisa dipertanggungjawabkan secara yuristik. Hadir untuk membuka cakrawala umat islam akan hubungan nusantara dengan khilafah islam. Menguak sejarah tonggak peradaban tersebarnya islam di nusantara.
Masa lalu adalah kunci memahami masa depan. Salah satu pernyataan tokoh literasi islam Ustadz Ismail Yusanto dalam wawancara di pembukaan film tersebut. Beliau menegaskan bahwa sejarah merupakan bagian penting dari frase kehidupan. Di dalam sejarah ada ibroh atau pelajaran yang bisa didapatkan untuk menjalani masa depan. Penting untuk menghadirkan sejarah yang dibungkus kebenaran agar bisa menguatkan pemahaman.
Khilafah sebagai negara adidaya di masanya, selama 13 abad lamanya berkuasa. Menebarkan rahmatnya ke seantero dunia termasuk nusantara. Menjadikan umat islam di nusantara menjadi satu kesatuan muslim dunia. Sejarah mencatat hubungan nusantara sejak awal abad ke VII, tatkala para ulama sang utusan khilafah singgah ke Samudra Pasai. Dakwah pun berkembang hingga samudra pasai menjelma menjadi Kesultanan Pasai dan berbaiat taat kepada khilafah bani Abassiyah kala itu.
Hingga dakwah islam terus berkembang pesat di nusantara, memenuhi jiwa manusia dengan cahayanya. Malaka, Sriwijaya, hingga Jawa dengan Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Hingga hadirnya para utusan yang terkenal dengan sebutan Wali Songo di tanah Jawa.
Selanjutnya bukti keterkaitan nusantara dengan khilafah dapat dilihat dari Aceh Darussalam yang mengikatkan diri dengan Kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai Kekhalifahan Islam. Kala itu, Armada Salib Portugis sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya. Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah. Sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmaniyah mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis). Hingga akhirnya Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat 1566 M, digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Di Aceh, kehadiran armada Turki disambut meriah. Sultan Aceh menganugerahkan Laksamana Kurtoglu Hizir Reis sebagai gubernur (wali) Nanggroe Aceh Darussalam, utusan resmi Sultan Selim II yang ditempatkan di wilayah itu.
Demikianlah sejarah yang mencoba ditutupi. Angan yang ditepis oleh pemikiran utopis mencoba diwacanakan di tengah kaum muslim. Khilafah hanya sejarah masa lalu yang tak kan terulang kembali. Bahkan materinya pun sudah direduksi dari kurikulum pendidikan.
Namun umat islam yang tersadar tidak akan pernah diam hidup dalam kedzaliman dan kebodohan. Kesadaran itu menularkan semangat membara, membangkitkan pemikiran, membangun kekuatan. Siap meruntuhkan tabir kebobrokan sistem dzalim buatan manusia. Sistem rakus yang memangsa kemanusiaan demi kepuasan. Sistem rusak yang menghasilkan aturan sesat yang makin menyengsarakan. Tak ada lagi harapan keadilan dan kesejahteraan kecuali dalam haribaan islam. Apa yang kau tunggu wahai umat Muhammad??
Saatnya buka mata, buka telinga, buka pikiran, jangan terbelenggu dalam kebodohan. Saatnya umat islam bersatu, bangkit melawan penjajahan pemikiran. Saatnya umat islam kembali berkuasa dengan penuh kewibawaan. Hidup sejahtera dalam naungan sistem islam, khilafah islam yang membawa kerahmatan.
