Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Eucalyptus VS Covid 19

Sunday, July 12, 2020 | Sunday, July 12, 2020 WIB Last Updated 2020-07-12T12:57:56Z
Oleh : Noviyanti Dewi Astini, S.Pd

Kementerian Pertanian (Kementan) berencana memproduksi massal produk antivirus berbasis tanaman atsiri (eucalyptus) yang dikemas dalam bentuk kalung Bulan Agustus mendatang. Kalung dengan eucalyptus tersebut diklaim mampu menjadi antivirus corona. Berbagai respon pun bermunculan dari berbagai kalangan. Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meyebut bahwa produk ini telah melalui uji lab peneliti pertanian terhadap virus influenza, beta, dan gamma corona.

Menanggapi hal itu, pakar kesehatan sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, mengatakan belum ada bentuk pengobatan untuk membasmi virus itu. Menurut Prof Ari, kandungan daun eukaliptus lebih dikenal sebagai kayu putih, sehingga memang terbukti bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Sementara, belum ada bukti lebih detail terkait kandungan eukaliptus di kalung tersebut yang berfungsi melawan virus.

"Memang produk yang berasal dari salah satu herbal kita, minyak kayu putih atau ekaliptus, yang sebenarnya memang ini produk yang sejak nenek moyang kita dan dipergunakan untuk menghangatkan badan," terang dia. (viva.co.id). Tanggapan lain pun juga datang dari public figure Sherina Munaf, dalam akun twitternya mantan artis cilik ini mencuitkan “Ditunggu jurnal ilmiah kalung eucalyptus vs COVID-19,” tulis Sherina dalam akun Twitter miliknya, Minggu (5/7). Sherina juga menuliskan kalung tersebut adalah takhayul yang diilmiahkan. Dalam cuitannya, Sherina Munaf mengaku akan menerima dengan legawa apabila pernyataannya menjadi blunder untuknya. Namun, ia lebih berharap berharap tidak ada korban jiwa karena klaim soal kalung antivirus itu. Cuitan Sherina tersebut sebenarnya mewakili isi hati rakyat yang masih mempertanyakan penelitan yang akurat secara ilmiah terkait kalung eucalyptus yang diklaim mampu menangkal virus corona tersebut. 

Hal ini pun juga didukung dari pernyataan beberapa ahli seperti  Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio, menyebut antivirus berbahan dasar eucalyptus ini lebih tepat disebut sebagai terapi herbal. Untuk bisa diklaim membunuh virus tertenty, menurut Prof Amin, produk tersebut harus diuji dengan virus yang spesifik. Termasuk pada virus Corona yang memicu wabah COVID-19 saat ini yakni SARS-CoV-2. "Kalau toh dia punya misalnya dia pernah mencoba itu sebagai antivirus, misalnya digunakan untuk virus apa? Tapi yang saya yakin itu bukan virus Corona (COVID-19), karena yang mempunyai isolat virus SARS-COV-2 hingga saat ini di Indonesia belum ada," tegas Prof Amin. (health.detik.com) Dari berbagai pernyataan para Pakar tersebut masih banyak yang meragukan klaim kementan tersebut. Belum ada bukti akurat terkait eucalyptus mampu menyembuhkan virus corona. Dan akhirnya fungsi eucalpyptus atau minyak kayu putih sendiri tidak ada bedanya dengan minyak kayu putih yang biasa digunakan. Ia hanya berfungsi sebagai penghangat tubuh dan terapi saja. Untuk membuktikan klaim tersebut harus dilakukan penelitian lebih lanjut. 

Menjawab keraguan berbagai kalangan soal khasiat kalung tersebut, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementan, Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa produk antivirus berbahan eucalyptus itu sudah diuji coba. “Dari uji testimoni terhadap beberapa orang yang menderita pilek dan influenza, dalam beberapa hari kondisinya sudah membaik. Dengan konsentrasi formula satu persen, dapat menonaktifkan virus 80-100 persen,” kata Indi seperti dilansir Antara, Sabtu (4/7). Menurutnya, kalung antivirus ini efektif digunakan setiap hari, sekitar 5 menit per hari. Indi juga menyatakan, kalung eucalyptus bukanlah obat COVID-19, melainkan ekstrak dengan metode destilasi untuk membunuh virus. Pernyataan Kemenpan ini justru malah membuat semakin bingung dan menimbulkan pertanyaan besar. Saat ini kita sedang berperang melawan covid 19, artinya focus kita adalah bagaimana virus covid 19 itu bisa ditangani. Bukan virus secara umum. Jika eucalyptus disebutkan bukanlah obat covid 19,  lantas untuk apa kalung antivirus tersebut diproduksi? Bukankah akhirnya memproduksi masal kalung ini hanya akan membuang-buang anggaran jika jelas sudah dipastikan kalung ini bukanlah obat covid 19? Lantas untuk apa kalung tersebut diproduksi? 
 
Kontroversi terkait kalung ini justru malah membuat kecurigaan bahwa ada kepentingan di dalamnya. Mengutip dari radarbanyumas.co.id Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna menduga, bahwa antivirus Covid-19 yang ditemukan Kementan hanya untuk mencari keuntungan di tengah pandemi Covid-19. “Itu saya khawatir ada kepentingan bisnis untuk kalung itu. Pemerintah harus hati-hati dalam mengeluarkan produk-produk untuk mengatasi Covid-19,” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), 5/7). 
  
Bagaimana tidak? Di tengah pandemic yang melanda dunia saat ini, penderitaan rakyat semakin bertambah-tambah dengan kebijakan pemerintah yang mencla mencle. Pemerintah seharusnya lebih fokus kepada masalah yang jauh  lebih penting dan jelas harus segera ditangani. Seperti memberikan kebutuhan pokok secara merata kepada masyarakat yang terdampak,  memberikan fasilitas kesehatan yang memadai di rumah sakit-rumah sakit, atau memberikan APD yang layak serta intensif yang besar untuk para tenaga kesehatan yang sudah berjuang dalam menangani virus ini.  Mengapa malah disibukan dengan kalung yang bahkan belum jelas bukti ilmiahnya. Bukankah pada faktanya di lapangan rakyat banyak yang menderita? Mengapa tidak fokus memberikan bantuan kepada rakyat saja? 

Berbagai kebijakan pemerintah ini membuat rakyat makin bingung. Alih-alih memberikan solusi pemerintah justru menambah beban rakyat dengan solusi-solusi yang tidak tepat dan terkesan hanya menguntungkan beberapa pihak saja.  Karena itulah umat saat ini sangat memerlukan solusi yang benar-benar solutif dan tuntas. Solusi tersebut tidak bisa lahir dari sistem yang fasad atau rusak seperti sistem kapitalis sekuler saat ini. Solusi yang tepat dan solutif hanya akan lahir dari sistem yang shohih yaitu sistem islam yang bersumber dari Alquran dan As-Sunnah. 
Di dalam islam nyawa satu manusia sangatlah berharga. Oleh karena itu berbagai kebijakan dalam sistem islam akan berorientasi pada keselamatan umat manusia.  Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa akan menjadi pertimbangan utama negara. Hal ini dijelaskan dalam hadist Rasulullah saw. 

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Dalam sejarah islam, Pemerintahan Khalifah Umar pernah diuji Allah dengan dua musibah. Pertama, bencana kekeringan yang terjadi di Madinah. Ujian yang kedua adalah wabah ‘Thaūn Amwās yang menyerang wilayah Syam. Wabah ini dikabarkan telah menghantarkan kematian tidak kurang dari 30 ribu rakyat. Namun khalifah Umar ra tidak kehilangan arah dalam menangani musibah itu. Hingga beliau akhirnya sukses dalam menangani wabah tersebut. Beliau bahkan pernah rela membatalkan kunjungannya ke Syam dan memutuskan kembali ke Madinah guna menghindarkan paparan wabah yang sedang merajalela di negeri itu menyebar kepada penduduk di tempat lain. 

Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa akan menjadi pertimbangan utama negara. “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Selain memahami bahwa musibah ini adalah ujian dari Allah, bersabar atas ujian yang Allah timpakan, dan menyadari bahwa ternyata manusia begitu lemah di hadapan Allah. Hingga tidak mampu menghadapi virus yang bahkan tak terlihat oleh mata. Kusuksesan sistem islam dalam menangani wabah, tidak lepas dari kehadiran negara yang benar-benar hadir untuk memprioritaskan keselamatan rakyat. Dalam mengurusi umat, pemimpin di dalam islam tidak terlepas dari penerapan syariat islam.  

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).”

“Siapa saja yang dijadikan Allah mengurusi suatu urusan kaum muslimin lalu ia tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinannya.”

Di bawah ri’ayah pemerintahan seperti inilah kesejahteraan dan masa depan rakyat akan terselamatkan sekalipun didera berbagai musibah dan ujian. Mereka percaya bahwa pemimpinnya tidak akan berlepas tangan. Pemerintahnya tidak mungkin mengorbankan nasib mereka atas dasar pertimbangan ekonomi, apalagi menukarnya demi kepentingan segelintir pengusaha. (wallahualam bishowab)
×
Berita Terbaru Update