By : Dian (Aktivis Muslimah)
Di tengah wabah yang masih melanda negeri ini, penyebaran covid-19 semakin mengkhawatirkan. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah justru menuai polemik, salah satunya kebijakan yang diambil yakni membuka kembali sekolah dengan dalih akan memasuki tahun ajaran baru. Kebijakan tersebut menjadi bukti negara tak berempati terhadap keselamatan rakyatnya.
Sebagaimana dilansir, Kumparan.com - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, tahun ajaran baru 2020-2021 akan tetap dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2020. Meski Indonesia sedang menghadapi pandemi, namun Kementrian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad menegaskan, Pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari.
Salah satu alasannya, dimulainya tahun ajaran baru berbeda dengan tanggal dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk tatap muka. Sejalan dengan pernyataan tersebut, ternyata di Surabaya ada sekitar 127 anak berusia 0-14 tahun yang dinyatakan positif covid-19. Fakta ini diungkapkan oleh Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, M Fikser pada tanggal (30/5/2020). Fikser mengungkapkan, bahwa terkait proses penularan virus corona pada anak sebagian tertular dari orang tuanya, begitupun terhadap balita. (https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/lapsus-tahun-ajaran-baru-akan-dimulai-127-anak-di-surabaya-positif-covid-19-1tWQP6He33B)
Mengenai kasus anak yang terinfeksi covid-19 tersebut, KPAI meminta pembukaan sekolah ditunda sampai saat sudah nol kasus. Sebagaimana dilansir, Nasional.com, Jakarta — Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementrian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada tanggal 13 Juli 2020.
Langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus corona belum menurun. Bahkan kasus covid-19 pada anak Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain. Dari data Kementrian Kesehatan terdapat sekitar 831 anak yang terinfeksi covid-19 (data 23 Mei 2020). (https://nasional.okezone.com/read/2020/05/27/337/2220225/831-anak-terinfeksi-covid-19-kpai-minta-pembukaan-sekolah-saat-sudah-nol-kasus)
Miris tentu, berbagai kebijakan yang telah diberlakukan oleh pemerintah dalam menangani wabah yang semakin menyebar. Jika dilihat dari kebijakan tersebut tentu akan berdampak buruk terhadap anak-anak. Sebab sampai saat ini diberitakan ada sekitar hampir 1000 anak yang terinfeksi terpapar covid-19, baik yang tertular dari orang tuanya atau dari lingkungannya. Maka rencana tahun ajaran baru dengan new normal akan menghadapi kerawanan masalah tersendiri.
Akan menjadi kekhawatiran dan pertanyaan bila anak-anak masuk sekolah saat pandemi, sebab bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin dan mengganti masker setiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.
Maka jika sekolah benar-benar dibuka saat pandemi, dapat dipastikan tentu akan membuat penularan virus corona semakin meluas dan jumlah kasus terinfeksi pun akan semakin bertambah. Sehingga membuat kekhawatiran terhadap orang tua dan guru.
Harapan orang tua jika kebijakan tersebut tetap diberlakukan, mereka ingin agar pemerintah memberikan perlindungan terhadap anak-anak mereka dan juga dapat memastikan lingkungan di sekitar sekolah aman dari penyebaran virus corona. Bahkan bukan hanya rasa aman di sekolah saja akan tetapi menjamin rasa aman di perjalanan dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah, sebab tidak semua siswa mempunyai kendaraan pribadi, ada yang naik angkutan umum, ada pula yang jalan kaki, dan sebagainya. Maka sebelum sekolah dibuka harus perlu persiapan yang matang, sampai virus corona betul-betul hilang.
Keputusan pemerintah dalam memberlakukan new normal saat ini tak bisa memberikan jaminan dan rasa aman kepada anak-anak baik terhadap masyarakat. Ditambah lagi seruan agar hidup berdamai dengan corona sebelum ditemukan vaksinnya. Semakin menegaskan bahwa pemerintah seakan lepas tangan dalam penanganan wabah ini. Bahkan tenaga medis pun dibiarkan maju ke medan perang, begitu pula dengan rakyat dilepaskan begitu saja ke rimba belantara tanpa perlindungan.
Sangat jelas dari kebijakan sistem kapitalis tidak akan mampu memberikan jaminan dan rasa aman kepada anak-anak dan masyarakat, di tengah kebijakan new normal berdasarkan dengan mengikuti protokol kesehatan.
Padahal jika dicermati penyebaran virus corona yang semakin meluas sangat mudah seseorang akan terinfeksi virus corona tersebut. Apalagi penyebaran virus ini sangat rentan terhadap anak-anak. Kebijakan ini semakin membuktikan bahwa sistem kapitalis telah gagal dalam memberikan perlindungan terhadap rakyatnya. Sistem ini sangat berbeda dengan sistem Islam.
Dalam Islam para pemimpin sangat serius dalam mengurusi urusan rakyatnya dan menjaga keselamatan mereka terutama saat terjadi wabah di suatu negeri. Seorang Khalifah tidak ragu melakukan lockdown demi keselamatan hidup rakyatnya. Bahkan seorang Khalifah akan menjamin kebutuhan hidup pokok rakyatnya.
Khalifah akan berupaya meminimalisir korban dengan mencari tau bagaimana penyebaran penyakit tersebut dan berupaya menemukan berbagai antisipasi agar mampu mencegah penyebaran wabah, melalui penelitian ilmia yang sudah teruji. Jika dilihat dari kepemimpin Islam dalam kebijakannya sangat mampu menangani wabah dengan sempurna.
Pada masa Kekhalifaan Turki Utsmani pada abad ke 19 dalam mengatasi pandemi yaitu vaksinasi. Cara yang dilakukan Sultan dalam mengatasi wabah smallpox atau cacar yang pernah melanda yakni melakukan ikhtiar dan menyediakan fasilitas kesehatan untuk vaksinisasi terhadap anak-anak warga muslim maupun non muslim. Bahkan sekolah tidak dibuka saat terjadi wabah, walaupun belajar dirumah seorang Khalifah juga menjamin seluruh kebutuhan yang diperlukan.
Seorang pemimpin dalam sistem Islam yakni Khalifah memberikan pelayanan terbaik terhadap rakyatnya dan tidak membiarkan rakyatnya berdamai dengan wabah tanpa adanya perlindungan apapun. Sebab satu nyawa dalam Islam sangat berharga ketimbang seisi bumi dan langit. Karena sebagai seorang pemimpin adalah perisai dan pelindung untuk rakyatnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Seorang pemimpin adalah laksana pengembala , yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pengembalanya (rakyat)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian sudah saatnya umat tersadar bahwa hanya Islamlah satu-satnya sistem yang mampu memberikan perlindungan dan keamanan yang sempurna terhadap rakyatnya. Bahkan sejarah mencatat kegemilangan Islam di masa lalu. Hanya dengan bingkai Daulah Khilafah umat akan sejahterah dan terlindungi.
Wallahu Alam Bish-shawab.
No comments:
Post a Comment