By : Yuli Ummu Fatih
"Everything has changed It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn't something we fought for"
Penggalan lirik diatas sepertinya sudah tak asing dan sering kita dengar baik di YouTube, aplikasi dan media sosial. Ya benar, lagu Lathi yang dinyanyikan Weird Genius featuring Sara Fajira berhasil menjadi trending di Google dan Twitter Indonesia.
Banyak yang merasa kagum dengan perpaduan alunan EDM modern dan budaya Jawa yang ditampilkan di lagu tersebut. Lagu ini mampu memberikan nuansa berbeda di dunia musik Tanah Air. Berkat alunan musik EDM yang kekinian dengan unsur Jawa dalam lirik dan video klipnya, lagu ini mampu diterima banyak pecinta musik. Tak ayal karena trending nya lagu tersebut banyak yang menggunakan lagu tersebut dengan membuat _"Lathi challenge"_.
Seorang beauty vloger, Bhagwani yang pertama kali mengunggah "Lathi challenge" dengan menampilkan dirinya berwajah polos kemudian menggunakan make up ala jawa, dan pada bagian reff mengubah dandanan nya menjadi seram, menyerupai setan.
Setelah viral, _"Lathi challenge"_ ini pun banyak yang latah mengikuti tak terkecuali umat muslim dengan alasan iseng dan seru seruan.
Lathi challenge bukanlah yang pertama, sebelumnya sudah banyak challenge lain yang viral dan diikuti banyak orang, termasuk muslim.
Jika kita melihat fenomena ini, sebelum mengikuti atau melakukan sesuatu hendaknya kita bertanya terlebih dulu. Apakah Allah suka saya berbuat ini? Apakah Allah senang saya melakukan ini? Apakah ini termasuk tasyabbuh? Tasyabbuh secara etimologis adalah bentuk mashdar dari (تَشَبَّهَ – يَتَشَبَّهُ) yang berarti menyerupai orang lain dalam suatu perkara.
Secara terminologis, tasyabbuh adalah menyerupai orang-orang kafir dan orang-orang yang menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal akidah, ibadah, perayaan/seremonial, hari-hari besar, kebiasaan, ciri-ciri, dan akhlak yang merupakan ciri khas bagi mereka.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
_“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031.)_
Jadi, seorang muslim seharusnya tidak latah untuk ikut suatu budaya yang bukan berasal dari Islam. Seharusnya, yang kita ikuti adalah Rasulullah. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan akan hakikat ini dengan jelas dalam sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
_“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad)_
Bila kita membaca siroh (perjalanan hidup) beliau, niscaya akan kita dapatkan wujud nyata dari sabda beliau ini, beliau benar-benar sebagai teladan terbaik dalam menerapkan akhlak karimah.
Sebagai seorang hamba, beliau adalah hamba Allah yang paling mulia akhlaknya, sebagai seorang pemimpin, beliau adalah pemimpin yang paling adil, bijak, dan sabar, sebagai seorang suami, beliau adalah suami yang paling baik terhadap istrinya. Sayiddah Aisyah juga berkata bahwa akhlak beliau adalah Al Qur'an. Maka Al-Qur'an haruslah jadi pedoman kita.
Selain tasyabbuh, seorang muslim harusnya senantiasa memperhatikan segala tindak tanduknya, lebih berhati hati apakah melanggar syari'at atau tidak. Karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban. Seorang muslim seharusnya berbeda dengan manusia pada umumnya. Dia akan pintar memilah aktivitas yang hanya bernilai pahala saja. Bukan melakukan sesuatu yg sedang tren, viral atau bisa menghasilkan pundi-pundi uang, namun didalamnya tidak ada pahala yang didapat.
_Wallahu alam bish shawab._

No comments:
Post a Comment