Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Melenyapkan Rasisme

Tuesday, June 02, 2020 | Tuesday, June 02, 2020 WIB Last Updated 2020-06-02T10:05:21Z
By : Mimin Nur Indah Sari
Dari Sedati Sidoarjo
Sungguh, apabila kita bertanya kepada setiap remaja muslim, “Siapakah bilal itu?” Mereka pasti akan menjawab, “Ia adalah muazin Rasul”. Seorang budak berkulit hitam yang menggembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma. Bahkan seorang budak yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas agar ia meninggalkan agamanya, tetapi ia menjawab, “ahad…ahad… (Allah yang Maha Esa… Allah yang Maha Esa)”. Tanpa Islam, ia tidak akan luput dari kenistaan perbudakan sampai maut merenggutnya dan setelah itu orang melupakannya. 

Rasisme

Kematian seorang pria kulit hitam tak bersenjata, George Floyd, setelah ia ditahan dan lehernya ditindih dengan lutut oleh polisi di Minnesota memicu lagi protes keras terkait kebrutalan kepolisian terhadap anggota kelompok minoritas di Amerika Serikat yang dilansir dari BBC.com (29/05/2020). 

Kebrutalan polisi ini menimbulkan reaksi antara lain berupa gerakan #BlackLivesMatter. Tagar ini sempat tranding di dunia maya bahkan Adidas dan Nike bersama-sama menentang isu rasisme di Amerika. Apa itu rasisme? Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan, bahwa perbedaan biologis (seperti warna kulit) yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Tentu isu ini semakin menguat di bawah kepemimpinan Trump yang notabenenya adalah kelompok ras berkulit putih. 

Apabila kita cermati, paham rasisme ini muncul secara alami, lahir dari dorongan naluri mempertahankan diri yang dimiliki oleh setiap manusia. Dorongan naluri inilah yang kemudian memunculkan keinginan seseorang untuk berkuasa. Bahkan dalam persoalan kharisma dan kepemimpinan, keadaan ini justru akan memunculkan rasa fanatisme golongan (ta’ashub) dalam diri anggota ikatan ras ini. Mereka dikuasai hawa nafsu sebagaimana kesombongan Iblis yang merasa golongannya lah yang lebih utama (jin berasal dari api), jika dibandingkan dengan golongan Nabi Adam yakni manusia yang berasal dari tanah. 

Di bawah penerapan sistem kapitalisme, tentu akan semakin melanggengkan tindakan rasisme ini. Kenapa? Karena dasar pijakan kapitalisme adalah sekularisme (memisahkan antara agama dengan kehidupan). Itu artinya ada kebebasan bagi manusia dalam menetapkan kebijakan sesuai dengan kepentingannya. Sehingga wajar apabila di sebuah Negara kapitalis yang kepala Negara nya adalah golongan ras tertentu (misalkan berkulit putih) maka akan tergambar kemana arah kebijakan yang akan dijalankan. Termasuk adanya isu rasisme saat ini, tidak hanya ras kulit hitam saja yang menjadi  korban. Bahkan muslim pun acap kali menjadi korban. 

Ikatan Aqidah Islam

Jelas berbeda dengan Islam, Islam memandang bahwa dasar pijakan dalam berfikir haruslah sesuai dengan firah manusia yang mana dalam pengakuannya berupa kelemahan dan kebutuhan diri manusia pada yang Maha Pencipta, Pengatur segalanya. Itu sebabnya sistem Islam (khilafah) menjadikan aqidah Islam sebagai pijakannya. Sehingga warga Negara Khilafah akan terikat satu dengan yang lainnya dengan satu ikatan yang sama yakni ikatan aqidah Islam. Yang mana mereka akan memiliki satu pemikiran, satu perasaan dan satu aturan yang sama yakni bagaimana Islam memandang dan bagaimana Islam mengatur?.

Lalu bagaimana pandangan Islam tentang rasisme? Islam dengan tegas melarang sukuisme, nasionalisma dan rasisme. Islam menilai keutamaan seseorang hanya pada level ketakwaannya dan amal sholihnya. Rasulullah SAW bersabda;
“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan ayahmu (Adam) adalah satu. Sesungguhnya tidak ada keunggulan bangsa Arab terhadap non-Arab, atau non-Arab terhadap bangsa Arab, dan tidak ada (kelebihan) orang kulit putih terhadap orang kulit hitam, atau orang kulit hitam terhadap orang kulit putih, kecuali dalam hal takwa (kebenaran) dan kesalehan. Sudahkah saya menyampaikan pesannya? Mereka berkata, Rasulullah (saw) telah menyampaikan pesan itu.” (HR. Ahmad).

Islam memandang bahwa setiap manusia adalah sama baik pemimpin maupun rakyat, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang arab maupun non arab, baik yang berkulit putih maupun yang berkulit hitam. Islam telah menghapus perbedaan-perbedaan diantara manusia yang disebabkan karena perbedaan jenis kelamin (gender), warna kulit (ras), keturunan (suku), dan status sosial. 

Hal ini telah terbukti dalam sejarah. Sebagaimana pada masa Kekhilafahan, Umar bin Khatab pernah memenangkan perkara seorang yahudi yang sedang berperkara dengan seorang warga muslim. Meskipun yahudi adalah kelompok minoritas, ia tetap mendapatkan keadilan dalam naungan kepemimpinan kaum muslimin. Bahkan Umar memberikan hukuman dengan tegas dan adil meskipun untuk anaknya sendiri. Sebut saja Abdurrahman bin Umar, putra amirul mu’minin (Khalifah Umar bin Khatab), ia pernah digiring ke sebuah lapangan di pusat kota. Amr bin Al-Ash (Gubernur Mesir) kemudian mencambuk Abdurrahman bin Umar di depan publik sebagai penegakan sanksi atas hukum (had) akibat dari tindakan Abdurrahman bin Umar yang telah meminum khamar yang dikutip dalam buku Biografi umar bin al-khathab  (karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi). 

Meski ia seorang anak Khalifah, tetaplah ia mendapatkan hukuman dengan seadil-adilnya. Keadilan inilah yang dirasakan oleh warga Negara Khilafah saat itu baik golongan minoritas (yahudi) maupun mayoritas (muslim). Tanpa memandang status sosial, kedudukan, warna kulit dan yang lainnya. Semua mendapatkan perlakukuan yang sama dalam keadilan. Sehingga, ketika aturan Allah benar-benar ditegakkan dalam sebuah institusi Negara maka tidak ada celah bagi diskriminasi, rasisme maupun ketidakadilan lainnya. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update