Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menanti Ramadhan Yang Suci Di Tengah Pandemi

Thursday, April 16, 2020 | Thursday, April 16, 2020 WIB Last Updated 2020-04-16T06:56:20Z
Oleh: Muzayyanah Binti Thahari

Tibanya Ramadhan tinggal hitungan hari. Bulan istimewa ini akan segera hadir menyapa. Menjadi obat penawar bagi hati yang merindu. Orang-orang beriman yang sejak lama sudah menunggu. Bahkan berharap andai semua bulan adalah Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan suci umat Islam. Di dalamnya begitu banyak kemuliaan Allah hadirkan. Seakan menjadi oase di tengah gersang dan panas teriknya gurun pasir. Membawa kesejukan di tengah sengatan panas yang mendera.

Ramadhan memang adalah salah satu bulan yang setiap tahun pasti akan datang berulang. Tapi ia bukan bulan biasa. Allah Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur telah menetapkannya sebagai bulan istimewa. Banyak kemuliaan Allah berikan. Menjadi harapan bagi manusia yang adalah tempatnya salah dan lupa. Manusia yang hidupnya tak bisa bersih dari dosa.

Keistimewaan Ramadhan yang pertama adalah diwajibkannya berpuasa sebulan penuh lamanya. Maka jika ada hari yang ditinggalkan walau sehari saja, wajib diganti dengan puasa di luar bulan Ramadhan sebanyak hari yang ditinggalkan itu. Atau jika tidak memungkinkan mengganti puasa, karena sakit yang diperkirakan tidak sembuh, atau keadaan yang sangat lemah, maka wajib membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan. Demikian yang diperintahkan Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 184.

Puasa adalah sebuah amal yang istimewa. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah bahwa semua amal ibadah yang dikerjakan manusia adalah untuk manusia itu sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk Allah SWT. Hanya Allah yang mengetahui puasa seseorang. Dan hanya Allah lah yang akan membalasnya. Bahkan Allah menyediakan pintu surga khusus bagi orang yang gemar berpuasa, yaitu Ar Rayyan.

Keistimewaan Ramadhan yang kedua adalah diturunkan Alqur'an di dalamnya. Ramadhan disebut juga dengan Syahrul Qur'an. Membaca dan mentadaburi Alqur'an adalah salah satu amalan yang akan menghiasi hari-hari sepanjang Ramadhan. Umat Islam mengenal aktivitas ini dengan istilah tadarus. Di negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini menjadikan tadarus di bulan Ramadhan sebagai syiar Islam. Masjid-masjid dan surau-surau mengumandangkan bacaan qur'an dengan pengeras suara sehingga lantunan kalam Ilahi memenuhi atmosfir negeri muslim terbesar ini.

Amalan istimewa pengisi Ramadhan yang lainnya adalah tarawih. Sholat sunnah yang dilaksanakan secara berjamaah di masjid-masjid atau surau-surau di seantero Nusantara. Sungguh pemandangan yang menyenangkan setiap hadirnya Ramadhan. Meskipun seolah jadi trademark budaya muslim di negeri ini, bahwa jamaah tarawih di masjid ini hanya ramai di awalnya saja. Inilah ironi di negeri muslim yang sekuler ini.

Puncak keistimewaan Ramadhan adalah adanya satu malam yang istimewa, yang lebih baik dari seribu bulan. Allah karuniakan Lailatul Qadar di sepertiga yang akhir dari bulan Ramadhan. Sungguh malam yang sangat istimewa, menjadi dambaan setiap muslim yang mendambakan kemuliaan di sisi Tuhannya. Ikhtiar maksimal untuk meraihnya dilakukan dengan i'tikaf di rumah-rumah Allah. Semarak dalam kekhusyu'an dan kesyahduan berkhalwat dengan Allah 'Azza wa Jalla.

Untuk bisa meraih semua keistimewaan Ramadhan itu, tentu harus ada bekal yang disiapkan. Semua amalan akan bernilai ibadah di hadapi Allah jika dilandasi oleh iman dan dilakukan sesuai dengan syariat Allah. Maka iman dan ilmu adalah bekal yang harus disiapkan untuk menyambut Ramadhan yang istimewa.

Terlebih tahun ini Ramadhan menjelang, saat dunia dilanda wabah coronavirus. Tak terkecuali Indonesia. Negeri muslim terbesar di dunia ini terbilang lamban dalam mengantisipasi dan mengatasi berjangkitnya wabah covid-19 ini. Sehingga penyebaran wabah ini seakan tak terkendali menyebabkan jatuh korban yang jumlahnya terus bertambah.

Sebagai orang beriman kita memahami bahwa semua kejadian di muka bumi ini terjadi atas kehendak Allah. Tak ada yang terjadi di muka bumi ini melainkan atas ijin Allah. Maka sikap pertama yang harus muncul pada diri orang beriman adalah ridha dengan semua ketetapannya. Selanjutnya melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan wabah ini.

Pandemi corona kali ini mengharuskan setiap orang mengurangi kontak fisik dengan yang lainnya. Pertemuan fisik secara langsung hanya dilakukan untuk keperluan yang mendesak saja. Kerumunan juga dibatasi dan sebisa mungkin dihindari. Jika pun harus terjadi pertemuan fisik, maka protokol keamanan dan kesehatan yang direkomendasikan oleh ahli harus dijalankan.

Kita semua berharap pandemi ini segera berakhir, agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi, kondisi serba sulit dan terbatas ini kembali normal. Sehingga kita bisa mengisi Ramadhan dengan berbagai amalan ibadah secara optimal. Masjid dan surau semarak dengan jamaah shalat fardhu, tarawih, i'tikaf, sehingga syiar Islam mewarnai masyarakat muslim di belahan bumi manapun.

Namun, bila ternyata Allah masih berkenan menguji umat ini dengan pandemi, maka kita pun harus menyiapkan strategi agar Ramadhan yang istimewa tak terlewat begitu saja. 

Sesungguhnya Islam juga telah mensyariatkan ketentuan menghadapi wabah. Isolasi kawasan yang terkena wabah adalah sebuah keniscayaan. Islam melarang manusia mendatangi kawasan yang sedang tertimpa wabah, dan melarang manusia yang tinggal di kawasan yang terkena wabah untuk keluar dari kawasan tersebut. Hal ini supaya wabah tidak menyebar semakin luas. Jadi isolasi kawasan adalah tindakan syar'i.

Jika Ramadhan harus dilalui dalam situasi pandemi, mungkin semarak tarawih, tadarus, dan i'tikaf di masjid tidak bisa ditemukan di daerah yang termasuk zona merah. Tapi untuk kawasan yang lain tentu masih mungkin dilakukan dengan memperhatikan kehati-hatian. Syiar Islam tetap bisa dilakukan dengan menggunakan strategi yang berbeda dari biasanya. Media komunikasi audio, video, cetak, adalah alternatif untuk dimaksimalkan demi semaraknya syiar Islam di bulan Ramadhan.

Sudah saatnya momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk meningkatkan iman dan amal ibadah kepada Allah. Ramadhan di mana Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, menjadi ajang taubat nasuha bagi seluruh umat Islam. Ramadhan, saat Allah melipatgandakan pahala amal shalih, harus mendorong umat muslim memperbanyak kedekatan kepada Allah. 

Pandemi tak boleh mengurangi keistimewaan Ramadhan. Ketakutan akan menyebarnya wabah coronavirus tak boleh mengurangi ibadah di bulan suci ini. Justru dengan kemuliaan Ramadhan, terpanjat doa agar pandemi corona ini segera berakhir. Ramadhan adalah momen untuk segera bertaubat, mencampakkan hukum kufur yang selama ini jadi pengatur, kembali kepada Allah dengan tunduk kepada syariatNya. Wallahu a'lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update