Oleh : Novia
(aktivis dakwah palembang)
Tepat pada 11 Desember 2019, keputusan presiden India yang telah mengesahkan Undang-undang Kewarganegaraan (Amandemen). Undang-undang baru ini sangat menyudutkan umat Islam, karena telah memberikan hak Kewarganegaraan kepada imigran ilegal non - muslim yang datang dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan. Sementara umat muslim tidak diberi hak atas Kewarganegaraan nya. Mereka akan diberi Kewarganegaraan apabila memenuhi syarat dan diberi waktu minimal 5 tahun untuk tinggal di India. Kemungkinan besar warga muslim di India akan kehilangan Kewarganegaraan nya dengan cepat dan tanpa sebab.
Inilah yang memicu konflik antar agama Hindu dan Islam di New Delhi, India. Undang-undang ini sangat tidak konstitusional, sebab mensyaratkan Kewarganegaraan hanya pada agama saja, khususnya Islam. Kini kondisi di India kian berkecamuk, kisruh antar agama sudah tidak bisa dibendung lagi. Kebrutalan umat Hindu membantai, menganiaya umat islam, bahkan masjid pun dibakar. Setiap orang muslim yg mengenakan pakaian yang berindentitaskan islam pasti akan langsung diserang dengan keji dan brutal. Darah umat islam telah tertumpah ruah, mereka diserang karena keislamannya. Tragedi berdarah ini mendapat sorotan dari berbagai wilayah di dunia, salah satunya Indonesia.
Wakil Sekjen PBNU, Masduki Baidlowi, menjelaskan NU akan meminta kebijakan pemerintah India dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Hal ini menjadi catatan NU karena selama ini RI dan India punya hubungan yang baik. Maka dari itu, menurut dia, sikap RI juga diminta jangan sampai menciderai hubungan dan persahabatan dengan India. (Vivanews.com)
Sungguh miris, padahal sangat penting bagi pemerintah RI untuk minimal mengecam atas tragedi berdarah umat islam di India. Selain mengecam, pemerintah RI juga harus menekan pemerintah India untuk menjamin keamanan kaum Muslim dan memberikan hak - hak yang sama untuk kaum Muslim sebagai agama minoritas di India. Hubungan baik antara Indonesia dan India, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat islam. Namun sayang hubungan baik ini dibuat hanya untuk kepentingan penguasa dan para kapitalis saja, tidak untuk kemaslahatan umat. Tidak ada kepedulian serius dari pemerintah RI untuk membela muslim di India. terjalinnya hubungan baik Indonesia dengan India dikarenkan adanya kepentingan ekspor dagang sawit ke India. Tentu pemerintah RI akan merasa khawatir apabila menyampaikan kecaman secara terang-terangan yang bisa jadi kemungkinan besar akan mengganggu kemitraan dagang strategis dengan India.
Keadaan saat ini telah berhasil membuat hilangnya kepedulian yang serius dari negara - negara yang ada di Dunia atas tragedi berdarah ini. Penyiksaan demi penyiksaan terus terjadi di Negeri-negeri muslim yang terjajah. Bukan hanya di India saja, tapi diberbagai belahan dunia saat ini, Negeri-negeri kaum Muslimin terus dihancurkan. Baik itu di Palestina, Suriah, Rohingya, Uighur, dll.
Sungguh tak ada tempat berlindung bagi kaum Muslimin selain dibawah naungan Khilafah Islamiyah. Adanya sekat - sekat nasionalisme pada setiap negara telah membuat umat islam diseluruh dunia menjadi terpecah - belah. Kini umat membutuhkan Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah sebagai pelindung sejati kaum Muslim.
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدْلٌ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ ، وَإِنْ يَأْمُرُ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ [رواه البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]
Konsep nasionalisme sengaja dibuat oleh penjajah Barat untuk meniadakan Jihad kaum Muslimin dalam membebaskan Negeri-negeri islam yang tengah terjajah.
Namun, tak lama lagi pasti masa yang mulia itu akan segera tiba. seperti apa yang telah dikabarkan Rasulullah SAW.
... ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ
"... Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.”

No comments:
Post a Comment