Keluarga Rapuh, Negara Abai



Oleh : Eviyanti
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif

Kepolisian Resor Jakarta Pusat tengah mendalami kejiwaan gadis berusia 15 tahun berinisial N yang diduga membunuh A, anak  berusia 6 tahun. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, saat ini N masih diperiksa "Kami tanya bagaimana perasaan setelah kejadian ini, dia katakan 'saya puas'. Yang bersangkutan akan kami periksa secara psikologi secara mendalam," kata Yusri saat jumpa media di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Sabtu (7/3). Yusri mengatakan kepolisian meminta bantuan dari psikolog untuk mengetahui secara pasti motif pembunuhan. Dari pemeriksaan sampai saat ini N mengaku membunuh karena hasrat yang muncul seketika.

N mengaku puas telah membunuh pada polisi, tak ada penyesalan sedikit pun di raut wajahnya. Padahal dia baru saja melakukan tindakan sadis, yakni membunuh seorang bocah. N menenggelamkan dan mencekik A hingga tewas. N membawa mayat A ke lemari di kamarnya dan tidur seperti biasa. Esok paginya, N berangkat ke sekolah. Di tengah jalan, N berganti baju lalu menuju Polsek Tamansari, Jakarta Pusat dan mengakui perbuatannya. Polisi mendatangi rumah N dan menemukan mayat bocah A di lemari. (detik.com,  08/04/2020) 

Ternyata, N terinspirasi dari film horor. Remaja SMP ini menyukai film Slender Man dan Chucky.

Kasus N membuka mata kita, bahwa para anak remaja sedang bermasalah. Di era digital, para remaja diserang tayangan sampah yang mempromosikan sadisme tanpa sensor dan melalui gawai. Tayangan ini hadir begitu saja di gawai anak-anak, seolah tidak ada pengawas tayangan di negara ini. 

Sungguh berat menjadi remaja di era digital. Kemajuan teknologi dimanfaatkan kapitalisme barat untuk mendulang dolar dari tayangan kekerasan. Tontonan itu telah menjadi tuntunan. Sementara sistem pendidikan demikian sekuler, hingga sekolah didominasi transfer materi, bukan tempat mendidik pribadi anak agar bertakwa.

Kejadian ini tentu bukan salah N semata. Dengan latar belakang keluarga yang broken home, terlebih di sistem kapitalisme sekuler saat ini, besar kemungkinan pecahnya biduk rumah tangga berdampak besar pada perkembangan jiwa sang anak.

Kita sebagai orang tua harus memperhatikan anak-anak kita. Memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, mendampinginya dengan kasih sayang, dan peduli pada perasaannya, adakah hal yang membuatnya sedih atau marah. Juga mengawasi gawai mereka, tayangan apa yang mereka akses, dan selalu berkomunikasi yang baik dengan anak.

Peristiwa ini membuktikan bahwa ketahanan keluarga di negara kita sangat rapuh. Banyak orang tua yang cerai dengan mengabaikan kondisi anak. Kadang yang hidup utuh satu atap pun komunikasi tak berlangsung hangat. Negara juga abai, penguasa sibuk mengundang investasi, tak peduli dengan nasib generasi.

Solusi atas masalah ini tidak bisa diserahkan pada psikolog, polisi, atau bahkan orang tua pelaku. Butuh solusi tuntas yaitu Islam.

Keluarga dikembalikan posisinya sesuai tatanan syariat Islam, bahwa keluarga adalah kepemimpinan terkecil. Ayah bertanggung jawab atas amanah sebagai pemimpin (qawam). Ibu bertanggung jawab atas posisi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm wa robbatul bait). Sedangkan anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan juga wajib taat pada orang tua (selama tidak maksiat).

Dari sisi negara, maka negara akan turut memperhatikan relasi keluarga. Sudahkah  terwujud sakinah ataukah belum. Negara memfasilitasi para anggota keluarga yang konflik untuk dinasihati, dimediasi, dan dihibur.

Khalifah Umar bin Al Khaththab pernah membuat rumah tepung untuk para perempuan yang sedang konflik dengan suami. Di sana mereka makan dan istirahat, hingga hatinya terhibur dan bisa kembali pulang dengan gembira. Khalifah Umar ra juga pernah "memaksa" seorang laki-laki agar bekerja untuk menafkahi keluarganya.
Negara juga menyejahterakan ekonomi masyarakat. Para penguasa Islam terus mengingatkan rakyatnya agar bertakwa. Aneka tayangan di media yang merusak keharmonisan keluarga, konten kekerasan, pornografi, kebebasan bertingkah laku, perselingkuhan, kebohongan, dan lain-lain akan diblokir. Konten media akan diatur agar menjadi media yang sehat bagi generasi.

Dengan adanya khilafah yang menerapkan Islam kafah, akan terwujud keluarga sakinah di seluruh rumah hingga menghasilkan generasi yang sehat jiwa raganya.

Wallaahu a'lam  bishshawaab

Post a Comment

Previous Post Next Post