Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kampus Merdeka, Intelektual Muda Bersuara

Monday, February 03, 2020 | Monday, February 03, 2020 WIB Last Updated 2020-02-03T15:18:48Z
By ; Afriana Wahyu Lestari 
(Pemerhati Generasi)

Suksesnya keluarga ada ditangan ibunya, orang tuanya 
Sedangkan suksesnya suatu peradaban terletak pada generasi mudanya, ya para intelektual muda yang menjadi tumpuan untuk masa depan bangsa. 

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membuat kebijakan baru untuk perguruan tinggi yaitu empat program yang bertajuk "Kampus Merdeka".

"Perguruan tinggi di Indonesia harus menjadi ujung tombak yg bergerak tercepat, karena dia begitu dekat dengan dunia pekerjaan, dia harus yang berinovasi tercepat dari semua unit pendidikan," ujar Nadiem di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (tempo.co)

Empat program kampus merdeka antara lain perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dibebaskan membuka prodi baru dengan syarat memiliki akreditas A/B, mengadakan kerja sama mitra perusahaan, Akreditas kampus yang dapat diperbaharui sewaktu waktu dengan ketentuan paling cepat 2 tahun, setiap PTN boleh menjadi BH(badan hukum) tanpa ada akreditasi minimum, penambahan masa          magang mahasiswa S1 menjadi tiga semester, 2 semester perkuliahan memberikan pengalaman mahasiswa di dunia kerja, sedangkan satu semester dilaksanakan di luar prodi. 
(https://kbrid/nasional/01-2020/kebijakan__kampus_merdeka___perusahaan_bisa_ikut_susun_kurikulum/102068.html)

Sebagaimana yang tertuang dalam kebijakan kampus merdeka, mereka yang mampu mengenyam pendidikan lantas dibuatkan regulasi yang memampukan mereka untuk merintis bisnis melalui program magang tiga semester. 

Selain menunjukkan bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi kita hanya menghasilkan lulusan bermental pekerja, kebijakan ini sekali lagi menunjukkan bahwa rakyat dibiarkan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sehingga nampak bahwa saat ini negara hanya berperan sebagai fasilitator antara rakyat dan korporasi, lalu absen dalam mengurusi rakyatnya. 

Fenomena ini menjadi bukti bahwa negara lepas tangan dari pembiayaan PT dan sekaligus menyesatkan arah  orientasi PT. Ditambah pernyataan sejenis dari wapres, menegaskan bahwa orientasi pembangunan pendidikan tinggi bukanlah untuk menghasilkan intelektual yang menjadi tulang punggung perubahan menuju kemajuan dan menyelesaikan masalah masyarakat dengan ilmu dan inovasinya bagi kepentingan publik, namun PT hanya menjadi mesin pencetak tenaga terampil bagi kepentingan industri/kapitalis. Maka slogan Tri Dharma  PT untuk melakukan pengabdian masyarakat telah berganti wajah menjadi pengabdian bagi kaum kapitalis dan industri.

Sehingga menjadi penting, untuk mengkritisi kebijakan tersebut, karena bukannya akan mencetak SDM handal menghadapi tantangan di masa mendatang sebagaimana visi misi kampus merdeka, yang ada justru intelektual yang dihasilkan dari kebijakan ini hanya akan menjadi intelektual bermental pekerja yang menghambakan ilmunya pada korporasi. 
Dengan di iming imingi gaji yang tinggi dari perusahan, alih-alih mengabdi untuk negeri, lulusan intelektual mahasiswa dilatih terampil menjadi budak industri.

Intelektual muda seolah dipersiapkan untuk kebutuhan industri, bukan lagi untuk mengasah kemampuan diri akan tetapi kebutuhan pasar yang tinggi menuntut para intelektual terus mengenyam pendidikan yang berkiblat ke barat. 

Lantas, jika ini hal ini terus berlanjut, kapan kita bisa mandiri untuk memajukan peradaban negeri? Jika pemuda pemudinya saja selalu bergantung dengan industri industri asing. Apakah rela jika para intelektual muda hanya akan dijadikan budak perusahaan yang hanya memikirkan urusan pribadi mereka dan abai terhadap permasalahan umat?

Tentulah bukan ini solusi untuk pendidikan di negeri ini
Dalam teori Ibnu Khaldun peradaban adalah ilmu pengetahuan. Beliau mengungkapkan bahwa “tanda wujudnya suatu peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan”. Bahkan, maju dan mundurnya suatu peradaban tergantung pada berkembang atau tidaknya ilmu pengetahuan.

Jika ditinjau di masa keemasan Islam terdahulu, pendidikan dalam Islam iyalah pendidikan berlandaskan aqidah Islam sehingga ilmu yang didapat kaya akan tsaqofah Islam.

Islam mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan mumpuni, yang tidak hanya intelektual saja namun juga paham agama. Seperti halnya Ibnu Sina dan Al Battani yang ahli dalam bidang kedokteran dan trigonometri.

Seperti yang dikenal intelektual muslimah bernama Mariam al-Asturlabi. Beliau berhasil merancang pembuatan kompas hanya karena tak ingin kehilangan arah kiblat ketika mengadakan perjalanan jauh. Penemuan beliau menjadi sumber bagi pengembangan di masa berikutnya. 

Inilah saatnya, intelektual muslim menyadari bahwa mereka adalah bagian dari umat yang terbaik, yang harus menghadirkan karya-karya terbaik.
output sesungguhnya dari pendidikan dalam Islam, melaksanakan apa yang Allah SWT perintahkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sekuat tenaga inilah tujuan utama. Sebab, jika seseorang sudah memiliki sifat taqwa, berarti pendidikan terhadapnya telah berhasil. Wallahua`lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update