Oleh: Ayu Susanti, S.Pd
Cinta kepada Nabi Muhammad saw adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim. Banyak umat muslim pun mengaku bahwa dirinya sangat mencintai sosok Rasul yang bahkan tak pernah dilihatnya. Rasa cinta ini seharunya bisa mendorong seluruh umat muslim untuk mengikuti apapun yang dilakukan oleh Rasul terutama dalam hal kewajiban.
Cinta perlu pembuktian dan pengorbanan, bukan hanya sebatas terucap di lisan saja. Begitupun saat kita mengaku bahwa kita mencintai Rasul, tentu harus ada pembuktian dengan menerima seluruh ajaran Rasul dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh Rasul. Termasuk melihat bagaimana Rasul memimpin suatu kaum, menjalankan suatu pemerintahan dan berstatus sebagai kepala negara yang mengurusi semua urusan rakyat.
Pernyataan yang mengharamkan meniru sistem pemerintahan Rasul rasanya perlu ditinjau kembali kebenarannya. Haram melakukan sesuatu dalam Islam adalah tidak boleh melakukan suatu perbuatan yang bukan berasal dari Al-Qur’an dan hadits. Dari segi batasan dan esensinya, Imam al Ghazali merumuskan haram dengan sesuatu yang dituntut syari' (Allah SWT dan Rasul-Nya) untuk ditinggalkan melalui tuntutan secara pasti dan mengikat. Ini artinya apapun yang Rasul perbuat termasuk menjalankan suatu pemerintahan dan mengurusi semua urusan rakyat berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.
Sistem pemerintahan yang Rasul jalankan tentu berdasarkan tuntunan wahyu. Mengingat Rasul adalah orang yang di ma’sum oleh Allah dan apapun yang Rasul lakukan berdasarkan wahyu. Allah SWT berfirman yang artinya “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm: 3-4).
Rasul mengajarkan dalam menjalankan suatu pemerintahan harus menerapkan semua aturan Islam dalam kehidupan. Sistem pemerintahan dalam bingkai negara Islam (Khilafah) adalah sebuah perintah dari Allah. Di antaranya sabda Rasulullah SAW:
“Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.” [HR Muslim].
Di hadits yang lain Nabi bersabda:
“Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” [HR Muslim].
Sehingga sangat wajar jika kita perlu mengikuti dan meniru Rasul dalam menjalankan sebuah pemerintahan. Pernyataan yang mengatakan haramnya meniru pemerintahan islam merupakan bentuk perbuatan yang dapat mencederai keyakinan umat islam. Bagaimana tidak, justru pemerintahan yang dicontohkah oleh Rasul adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah karena berupaya untuk menjalankan perintah Allah dengan cara menerapkan hukum islam dalam aturan kehidupan.
Kehidupan yang sekuler memaksa kaum muslim untuk berpikir sekuler juga. Pemahaman memisahkan kehidupan dengan agama berdampak pada tidak diaturnya manusia dengan aturan buatan Allah. Sehingga semuanya bebas sesuai pada kehendak manusia itu sendiri. Tidak berhenti sampai disini, manusia pun sudah terbiasa menentang aturan yang Allah turunkan. Ini adalah suatu keberbahayaan yang sangat luar biasa. Mengapa demikian? Karena manusia sudah berubah menjadi seseorang yang sombong yang tidak mau lagi diatur oleh aturan Allah, yang justru sebetulnya aturan Allah itu bisa menyelamatkannya di dunia dan akhirat. Lantas bagaimana mungkin dia bisa selamat di dunia dan akhirat sedangkan dirinya pun tak mau diatur oleh aturan Allah, tak mau juga untuk menerapkan hukum Allah secara total dalam kehidupan bahkan cenderung menentang aturan-Nya.
Oleh karena itu, mengikuti semua ajaran Rasul bukan hanya bukti cinta kita kepadanya saja, namun juga bentuk kesempurnaan keimanan seorang muslim. Karena dia telah berupaya sekuat tenaga untuk menjalankan apa yang Rasul perintahkan. Dengan demikian sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim tidak harus lagi mempertanyakan apalagi menentang ajaran Rasul, justru kita harus berupaya sungguh-sungguh dalam menjalankan Al-Qur’an dan Hadist sebagaimana yang telah Rasul ajarkan.
Wallahu’alam bi-ashowab 
No comments:
Post a Comment