Oleh : Candra Windiantika
Bencana banjir menjadi pembuka diawal tahun 2020. Sejak 1 januari 2020 setelah tahun baru, banjir melanda wilayah Jabodetabek. Tidak hanya menggenang wilayah jabodetabek, banjir juga menggenang berbagai wilayah di pulau jawa dan berbagai daerah lainnya. Tentunya musibah ini banyak menimbulkan kerugian. Baik kerugian materil maupun non materil. Menurut rekapitulasi data BNPB, per tanggal 4 januari 2020 total pengungsi di wilayah jabodetabek dan kabupaten lebak sebanyak 92.261 jiwa, 60 korban meninggal dunia dan dua orang dinyatakan hilang. (bbc.com, 5/01/2020)
Selain banjir, sejumlah bencana alam pun turut menerjang wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang tahun 2019 sejak tanggal 1 januari hingga 23 desember terjadi 3.721 bencana yang meliputi kebakaran hutan dan lahan, banjir, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, gelombang pasang, erupsi gunung berapi dan didominasi oleh puting beliung.(Kompas.com,23/12/2019)
Sejatinya musibah yang menimpa merupakan qadha' (ketentuan) dari Allah SWT. Hal yang tidak mungkin untuk dicegah maupun ditolak. Maka sudah seharusnya hal ini dapat diterima dengan ikhlas dan sabar. Bagi kaum Mukmin, qadha' ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firmanNya :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar(TQS al Baqarah[2]:155).
Musibah adalah bentuk ujian dari Allah SWT dan sebagai wasilah untuk menghapuskan sebagian dosa. Selain itu, musibah juga dapat menimpa karena dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan oleh manusia. Misalnya saja kebakaran hutan yang menimpa beberapa waktu lalu karena faktor kesengajaan yang dilakukan oleh perusahaan. Banjir yang terjadi juga karena pembangunan ala kapitalisme yang mengabaikan Amdal, membuang sampah sembarangan di sungai, beralih fungsinya tanah yang seharusnya menjadi tempat resapan air justru berubah menjadi pemukiman. Dan masih ada banyak lagi bencana yang terjadi akibat ulah tangan manusia.
Namun, nampaknya musibah yang melanda tidak dijadikan pelajaran bagi sebagian orang. Karena hanya menimbulkan duka kala musibah melanda dan setelahnya seperti tidak berbekas apa-apa. Para pemimpin dalam sistem kapitalisme tidak juga terketuk hatinya untuk menerapkan hukum hukum Allah. Para ulama juga merasa nyaman atas hukum kufur yang diterapkan. Sedangkan masyarakat masih acuh tak acuh, semua dianggap baik-baik saja selama keluarga masih hidup selamat.
Bencana merupakan bukti kemahakuasaan Allah. Membuka mata kita, bahwa kita sebagai makhluk sangat lemah dihadapan Allah. Sehingga musibah yang datang seharusnya menjadi teguran agar kita melakukan muhasabah (intropeksi diri). Sejauh mana kita sudah melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan larangan-Nya. Dengan itu pula kita akan terdorong untuk menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah. Karena Ketakwaan akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (TQS al A'raf[7]: 96).

No comments:
Post a Comment