Oleh : Linda Pusparini
(Ibu Rumah Tangga)
Baru saja kita memasuki awal tahun 2020. Namun kado pahit sudah menanti dengan adanya musibah banjir yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia tak terkecuali wilayah Ibukota yakni Jakarta. Banjir memang sudah menjadi bencana tahunan. Salah satu faktornya adalah curah hujan yang tinggi. Namun kita tidak bisa menyalahkan hujan begitu saja karena hujan adalah berkah yang diturunkan oleh Allah SWT.
Hujan yang mengguyur Jabodetabek pada penghujung tahun 2018 telah tenggelamkan kota Jakarta. Hingga jumat pagi, korban meninggal berjumlah 31 orang, sebanyak 31.000 orang mengungsi akibat rumah yang terendam air. Jika diuangkan maka total kerugian banjir Jakarta awal tahun 2020 sekitar 960miliar. Kerugian ini terdiri dari kerusakan rumah,mobil,dan barang berharga masyarakat yang rusak diterjang banjir. (Kompas.com, Jumat 3 Januari 2020).
Bukan hanya Jabodetabek, bencana banjir juga melanda pulau Kalimantan persisnya di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Diketahui banjir terjadi akibat sungai Raya Belanti yang meluap pascahujan, hingga menggenangi Jalan Pantai Belanti, Kecamatan Binuang, dan menyebabkan 30 rumah warga yang dihuni 118 jiwa terdampak.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi yang lebih parah bisa terjadi, mengingat puncak musim hujan diperkirakan baru akan dimulai pada rentang Febuari hingga Maret mendatang.https://www.muslimahnews.com/2020/01/02.
Peristiwa bencana yang seringkali melanda Indonesia seharusnya dapat dijadikan bahan introspeksi diri. Karena bisa jadi bencana yang terjadi merupakan bagian dari teguran dan azab sang Kuasa pada manusia yang lalai dalam menjalankan segala perintah dan laranganNya. Dan bisa jadi manusialah yang menyebabkan kerusakan itu sendiri sehingga menimbulkan berbagai macam bencana khususnya banjir yang saat ini tengah berlangsung. Hal ini sesuai firman Allah SWT :
"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Agar Allah merasakan sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali."( QS. Ar-Rum :41)
Ditambah lagi secara keseluruhan negeri ini ditata dengan spirit kapitalisme yang mana mengeruk keuntungan dan kekayaan lalu menggadaikan hajat hidup publik seperti ruang hijau, kawasan resapan air dsb. Bahkan atas nama aneka pajak dan devisa, kepemilikan umum seperti hutan, danau, pantai pun dapat dimiliki oleh pemilik modal. Pembukaan lahan juga seringkali dilakukan tanpa memperhatikan AMDAL sehingga tata kota yang dihasilkan pun tidak rasional dan mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Telebih semakin banyaknya pembangunan infrastruktur mengakibatkan daya serap berkurang. Inilah konsekuensi kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang tidak pernah berpihak pada rakyat.
Hal ini sangat jauh berbeda dengan Islam yang mana menjamin pembangunan dengan selalu menjaga keseimbangan lingkungan. Ekonomi dalam Islam tidak tersentralisasi dan berorientasi pada pertumbuhan, melainkan berorientasi pada distribusi. Sehingga, aktivitas ekonomi merata. Sedangkan kepemilikan umum diambil alih oleh negara dan hasilnya akan diberikan untuk rakyat.
Maka saat ini sudah selayaknya kita kembali kepada petunjuk Allah SWT dengan penerapan aturan Allah secara totalitas agar negeri ini terhindar dari bencana yang mana bersumber dari kemaksiatan manusia. Sudah saatnya kita bertaubat dan meninggalkan sistem kufur ini dan kembali pada Syariat Islam yang mulia.

No comments:
Post a Comment