Oleh : IROHIMA
Lagi lagi dunia pendidikan kita kembali terguncang, kekerasan yang dilakukan para pelaku pendidikan terulang lagi. Belum lama rasanya kasus kekerasan yang berujung kematian terjadi, kini kita kembali dikejutkan oleh tewasnya seorang guru di Manado akibat ditikam oleh muridnya sendiri.
Adalah Alexander warupangkey (54) guru SMK Ichtus, Manado Sulawesi Utara tewas ditikam setelah sebelumnya sempat mendapat penanganan medis. Alexander harus kehilangan nyawa hanya karena menjalankan tugas sebagai seorang guru yang peduli pada anak didiknya, namun apa dikata, teguran dan perhatian nya berbuah malapetaka.Sang murid tak sekalipun mengindahkannya, malah tega menghabisi gurunya.
Fenomena kekerasan di lembaga pendidikan yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua siswa kerap terjadi berulang kali. menurut data KPAI (Komisi perlindungan anak Indonesia) sejak Januari hingga Oktobe 2019 telah tercatat sebanyak 127 kasus kekerasan yang terdiri dari kekerasan fisik,psikis dan seksual. Rinciannya meliputi 17 kasus kekerasan seksual dengan korban 89 anak yang terdiri dari 55 anak perempuan dan 34 anak laki laki dengan pelaku mayoritas guru 88% ( guru olah raga 6 orang,guru agama 2 orang, guru kesenian, komputer, IPS, masing masing 1 orang, dan guru SD 4 orang ) serta kepala sekolah 22 %. Dari 17 kasus yang ada, 11 Kasus terjadi di jenjang SD, 4 kasus di SMP,2 di SMA.
Sedangkan kasus kekerasan fisik, ada 21 kasus yang terdiri dari 7 kasus di level SD, 5 kasus di SMP, 3 kasus di SMA, dan 4 kasus di SMK. Korban mencapai 65 anak, guru sebagai korban kekerasan ada 4 orang. Pelaku kekerasan yang dilakukan guru dan kepala sekolah berjumlah 8 orang, orang tua siswa 3 orang, dan pelaku siswa 37 orang.
Tingginya jumlah kasus kekerasan di lembaga pendidikan sangat memprihatinkan, kasus - kasus serupa yang terjadi berulang kali menandakan bahwa upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan selama ini tak berhasil dalam menuntaskan permasalahan kekerasan dalam lembaga pendidikan. Solusi yang dikemukakan juga cenderung tak pernah menyentuh akar masalah.
Maraknya kekerasan di lingkungan sekolah merupakan salah satu dampak dari perubahan struktur dan perubahan nilai - nilai yang ada disekolah serta perubahan konsep pendidikan yang diterapkan. Nilai nilai yang terkonstruksi secara budaya, yang dihasilkan dari kondisi sosial, ekonomi dan politik dimana setiap kebijakan yang diterapkan disetiap era akan mempengaruhi kurikulum yang terangkum dalam visi dan misi pendidikan yang menekankan pada proses dan kualitas atau pada hasil dan kuantitas.
Sudah umum kita ketahui konsep pendidikan di negeri ini merupakan konsep pendidikan yang sekuler, jauh dari nilai nilai agama. Dan konsep sekulerisasi pendidikan yang mengembangkan nilai - nilai kebebasan dan hanya berorientasi pada materi ini berdampak sangat luar biasa pada umat khususnya generasi - genarasi muda. Generasi muda sekarang cenderung mengadopsi cara berpikir ilmiah sekuler dan metode ilmiah barat yang membuat mereka semakin jauh dari islam dan terpisah dari umat.
Ada tiga kerusakan yang terjadi pada negeri negeri muslim seperti di indonesia, yaitu menyusupnya tujuan pendidikan asing sebagai agenda penjajahan, kapitalisasi dan komersialisasi pendidikan, serta profesionalisme, keahlian individu, serta kepuasan intelektual.
Tujuan pendidikan sekuler yang yang hanya berorientasi pada materi juga mempengaruhi output yang dihasilkan. Output yang dihasilkan dari konsep ini hanya akan berupa generasi bermental pekerja atau buruh. Ditambah lagi dengan himbauan Presiden pada mendikbud baru Nadiem Makarim untuk menyiapkan SDM yang siap kerja dan usaha namun tanpa memperhatikan nilai - nilai agama yang harusnya dijadikan salah satu faktor penting untuk membangun karakter para penerus bangsa. Program pendidikan karakter dan gerakan 6 literasi dasar pemerintah yang terdiri dari literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, literasi kebudayaan dan kewargaan yang dimaksudkan untuk persiapan dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 sejatinya bukanlah solusi yang tepat dalam menyiapkan generasi emas. Tak ada peran agama ditempatkan dalam program itu, padahal kemampuan intelektual tanpa diimbangi kecerdasan spiritual akan timpang. Hanya akan melahirkan generasi yang mungkin cerdas namun miskin moral dan akhlaq. Sebuah peradaban yang tinggi tidak ditentukan oleh kecerdasan inteletual semata, namun juga kecerdasan spiritual, emosional dan sosial. Sangat tampak sekali adanya usaha sekularisasi pendidikan, dimana agama tak dijadikan sebagai salah satu bagian yang berperan penting dalam membentuk generasi. Dan ini semakin menjauhkan umat dan khususnya generasi pada agama.
Pendidikan dalam islam merupakan salah satu kebutuhan dasar dan juga hak asasi yang harus dikecap oleh rakyat. Dalam Islam negara yang berkewajiban mengatur segala aspek yang berkaitan dengan sistem pendidikan.
Pendidikan dalam islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan, Allah SWT telah menyusun landasan pendidikan yang jelas bagi seluruh manusia melalui syariat islam. Konsep pendidikan dalam Islam juga memiliki tujuan, sasaran dan target yang jelas. Tujuan pendidikan dalam islam adalah membentuk manusia yang berkepribadian islam, menguasai pemikiran islam, menguasai ilmu terapan, dan mempunyai keterampilan yang tepat guna, intinya menjadikan manusia itu tak hanya intelek tapi juga beriman dan bertaqwa. Dengan membentuk generasi dengan kecerdasan inteletual yang diimbangi dengan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial tentu masalah kekerasan dalam lembaga pendidikan akan dapat teratasi. Jelas sekali agama merupakan unsur utama dalam membentuk seseorang. Konsep pendidikan dalam islam telah terbukti melahirkan output yang tak hanya berkualitas tapi juga beriman dan bertaqwa serta bermental pemimpin bukan yang dipimpin.
Sejarah telah mencatat, betapa sistem pendidikan islam mencapai zaman keemasan saat syariat Islam benar benar diterapkan, lihatlah Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Abu Qasim Al Zahrawi, Abbas ibnu Firna, Imam Syafei, Imam Maliki, Imam Hambali serta Imam Hanafi dan lain sebagainya adalah contoh output yang dihasilkan dari sistem pendidikan islam. Jauh sekali dengan output yang dihasilkan dari sistem pendidikan sekuler yang terbukti gagal dalam mencetak generasi yang berkualitas, banyaknya kasus kekerasan di dunia pendidikan, serta hilangnya respect terhadap guru, juga para pelaku yang terkait dalam pendidikan yang miskin moral dan akhlaq adalah bukti bahwa sistem ini harus sudah kita tinggalkan. Saatnya kembali pada islam yang sangat memperhatikan kualitas dan akan mencetak generasi yang cerdas, bershaksiyah islam dan bernafsiyah islam serta tangguh dalam menghadapi berbagai rintangan yang akan datang.
Wallahualam Bishawab

No comments:
Post a Comment