Jualan Isu Teroriame

By : Salasiah, S.Pd
(Praktisi Pendidikan & Owner Rufidz Ahmad)

Pernyataan-pernyataan yang muncul setelah peristiwa penyerangan pejabat setingkat menteri yang secara cepat diindikasi mengarah pada terorisme yang selama ini diindikasikan bahkan ditunjukan si menteri kepada Islam tentu sungguh naïf.  

Jualan isu terorisme yang dimotori oleh George W. Bush ketika dengan pongah mengungkapkan pernyataannya setelah peristiwa bahwa crusade (perang salib) belum berakhir. Afganistan dengan rezim yang berkuasa saat itu adalah negara pertama yang dianggap sebagai teroris. Tak ayal  Invasi militer pun dikerahkan oleh AS ke Afganistan, yang tidak pernah terpikir untuk dilakukannya kepada Israel yang meneror Palestina berpuluh tahun.

Ambsisi sprit Bush menjamah Irak dengan alasan Irak menyimpan senjata WSD pemusnah massal.  Sampai saat hari pun AS belum bisa membuktikan adanya senjata pemusnah massal yang dituduhkan, yang pasti terjadi adalah mereka menjebak rakyat Irak dalam konflik bersenjata yang membawa penderitaan bagi sipil Irak. Bahkan dalam penyelidikan yang terbuka dan akuntabel, tidak ada bukti hubungan antara Al-Qaeda dan peristiwa 11 september.  Namun ketika tuduhan mereka tidak terbukti, ternyata tidak menyurutkan kebencian mereka yang terpendam terhadap Islam.

Pelecehan pun tidak henti ditebarkan. Mulai dari tulisan jurnalis Nigeria, Isioma Daniel tentang Rasul dan Miss world. Film ‘dokumenter’ garapan produser film asal Belanda, Theo Van Gogh, sengaja dirilis untuk menghinan Islam dan Muhammad. Al-Qur’an pun dimasukkan ke WC dipenjara rahasia Amerika di Guantanamo-Kuba  oleh serdadu AS.

Pelecehan pun berlanjut dengan penerbitan kartun-kartun yang menghina Rasulullah SAW oleh Koran Jyllands-Posten. Dalam kartun itu Rasulullah Muhammad SAW digambarkan sebagai seorang Badui yang membawa pedang dan menenteng ‘bom’, diapit oleh dua orang perempuan bercadar hitam di sebelah kiri dan kanannya. Bahkan dalam salah satu kartun itu Rasulullah digambarkan  sebagai orang yang bersorban, yang disorbannya terselip bom. Gambar-gambar itu diterbitkan pada bulan September. Sekalipun menuai protes, gambar-gambar tersebut terus dicetak ulang diberbagai Negara. Mereka menyatakan “ini bagian dari upaya ambil bagian dalam pertempuran antara agama (baca : Islam) dalam kebebasan berekspresi”.

Setelah jualan terorisme menjadi isu dengan dibentuknya unit-unit satuan anti terorisme di setiap negara dunia, yang bergantung kepada AS, jaringan yang berafiliasi terhadap terorisme pun di redam, karena tidak  begitu diperlukan lagi untuk membangun isu kebencian terhadap Islam. Tunggangan opini terhadap jaringan al-Qaeda sebagai perlawanan kaum muslim yang paling keras dan jelas melakukan perlawanan terhadap Negara adidaya yang mendukung agresi Israel terhadap Palestina pun lenyap semenjak media memberitakan wafatnya sang komandan Osama Bin Laden.

Terorisme sebagai wujud serangan penghancuran yang dilakukan oleh kaum muslim sudah terbantahkan dunia setelah Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyebutkan aksi brutal yang dilakukan oleh  Brenton Tarrant di dua  masjid  di Selandia Baru  saat umat Islam menyiapkan diri melaksanakan shalat Jum’at, sebagai serangan teroris (Cordova Media, 15/3). Di Indonesia, isu terorisme sudah menjadi warta yang hambar. Counter massif yang dilakukan oleh penggiat dakwah ideologis menguak logika terorisme. Isu terorisme hanyalah bentuk topeng kebencian terhadap Ideologi Islam dan tameng penjajahan terhadap sumber daya alam yang menggiurkan, anugerah Allah SWT sang pencipta kepada bumi pijakan umat muslim.

Kelompok ISIS sendiri muncul sebagai pengganti kelompok Al-Qaeda. ISIS dicirikan sebagai perjuangan kepemimpinan khilafah oleh kelompoknya. Munculnya kelompok ISIS diindikasikan setelah intelegen adidaya memprediksi kebangkitan ideologi Islam akan segera hadir yang dalam sejarah Rasulullah terkenal dengan bentuk khilafah. Sehingga ISIS ditengarai adalah sebagai kelompok bentukan lanjutan untuk menyudutkan ideologi Islam yang akan hadir, sehingga perlu pencitraburukkan ide khilafah. Mantan pegawai  Badan Keamanan Nasioanal (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State  of Iraq and Syria (ISIS) merupakan organisasi bentukan dari kerjasama intelejen tiga Negara (Inggris, AS dan Mossad Israel), (Republika.co.id, 01/08/2014)

Dua pelaku Syaril Alamsyah alias Abu Rara tinggal di sebuah rumah kontrakan di kampung Sawah, Desa Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten Mulyadi Ketua RT  4 RW 1: pelaku penusukan tidak ikut pengajian, shalat jum’at juga tidak pernah (eramuslim.com, 13/10/2019). Maka yang terbaca hanyalah afiliasi ujaran kebencian terhadap kaum muslim dan ajaran Islam kaffah. Wallahu’alam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post