Oleh: Sumiati
Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif
Geliat umat Islam saat ini makin tampak, kesadaran akan pentingnya perubahan hakiki begitu dirindukan. Berbagai aktivitas mengarah ke sana. Masyarakat sudah jemu dengan sistem yang tak kunjung berhasil menjadi solusi masalah umat.
Setiap momen hari besar Islam kerap menjadi pilihan umat untuk mendakwahkan Islam di negeri ini. Umat secara keseluruhan merasa saling memiliki, membutuhkan dalam kebersamaan, berjuang bersama untuk Islam. Saling melengkapi dan mendukung hingga terwujud ukhuwah yang kokoh.
Begitupun bagi Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Front Pembela Islam (FPI) serta beberapa ormas Islam lainnya telah berhasil menggelar Parade Tauhid Indonesia di Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Sabtu (28/9/2019). Rute yang ditempuh yakni dari Senayan menuju Monas.
Berdasarkan poster berisi imbauan yang diterima CNN Indonesia.com, acara tersebut bertajuk Tauhid untuk Selamatkan Negeri, Tausiyah, Pawai Bendera Tauhid dan Doa untuk Negeri. Parade dimulai pada pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.
Ketua PA 212 Slamet Ma'arif mengatakan ada beberapa aspirasi yang disampaikan dalam acara tersebut. Salah satunya menuntut kepulangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab. "Tolak kebangkitan PKI, persatuan umat Islam, dan pulangkan Habib Rizieq Shihab," tutur Slamet saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (24/9/2019).
Slamet yang juga juru bicara FPI itu, sebelumnya tidak mampu menduga berapa banyak massa yang hendak hadir dalam acara Parade Tauhid. Dia hanya mengatakan bahwa target peserta sebanyak 50 ribu orang dari berbagai daerah.
Slamet kembali menampik Parade Tauhid Indonesia diinisiasi oleh PA 212. Dia menegaskan bahwa acara ini bukan hasil inisiasi satu kelompok saja, melainkan atas kesepakatan bersama.
Dia pun tidak menjawab tegas apakah akan menyuarakan kritik terhadap Revisi KUHP, UU KPK dan RUU lainnya yang sejauh ini kerap dikritik sejumlah pihak, hingga gelombang protes dari mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah juga menyuarakan hal tersebut.
Slamet hanya mengatakan Parade Tauhid Indonesia menyampaikan aspirasi seperti menolak kebangkitan PKI dan pemulangan Rizieq Shihab.
Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad al-Khaththath juga mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam Parade Tauhid Indonesia pada Sabtu (28/9/2019). Dia menyampaikan itu melalui video yang disebar di media sosial.
"Mari ikut Parade Tauhid Indonesia bersama jutaan umat Islam yang ingin menyatakan syukur atas kemerdekaan Indonesia dengan bertauhid," tutur Al Khaththath.
Parade tauhid tentu harus diapresiasi. Aktivitas yang berkaitan dengan keislaman sangat positif untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Islam kegiatannya memang harus yang demikian. Hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mendakwahkan Islam agar mampu menjadi opini umum.
Namun sesungguhnya umat jangan hanya digiring untuk melakukan seremonial semata. Lebih dari itu mereka tentu harus dibina hingga sadar akan hakikatnya sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah Swt. Lantas memunculkan jawaban atas pertanyaan mendasar mulai dari manusia berasal dari mana, di dunia untuk apa, dan akan kembali kemana.
Berikut dalam kehidupan harus dibina mengapa ada masalah tertentu, awalnya bagaimana, lahir masalah itu dari mana.
Kemudian memosisikan diri dalam proses perubahan yang disadarinya dan akhirnya mampu bersikap ideal. Hal ini akan menghantarkan kepada pemahaman akan alur perubahan yang tepat sesuai dengan fitrahnya manusia yang Allah Swt perintahkan melalui firman-Nya.
Jika melihat kondisi umat saat ini, pada umumnya mereka sudah mulai tahu dan merasakan buruknya sistem. Namun umat belum memahami bahwa berbagai kerusakan yang ada merupakan buah dari sistem yang berlaku di negeri ini. Lebih tidak mengerti lagi ketika masuk pada pembahasan bagaimana solusi yang harus diambil untuk menyelesaikan semua problematika dan kerusakan yang terjadi.
Sejak awal bahwa Islam datang untuk menjadi solusi atas problematika umat. Kondisi saat itu di Mekah sudah sangat jauh dari peradaban yang benar. Perzinaan, perjudian, riba, minuman keras, pembunuhan terhadap anak perempuan, semua itu terjadi demikian lumrah. Lantas Islam datang untuk menghentikannya. Mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai hamba Allah. Diatur hanya dengan aturan yang Allah desain. Hingga akhirnya Rasulullah Saw dan para sahabat hijrah ke Madinah, negara yang siap melanjutkan kehidupan Islam kaffah.
Begitupun di negeri tercinta ini, berbagai masalah sesungguhnya lahir sebagai dampak dari diterapkannya sistem buatan manusia yakni kapitalisme. Maka yang terbaik adalah mengembalikan Indonesia kepada fitrahnya, yaitu mengemban dakwah Islam yang diterapkan oleh negara. Hal ini demikian urgen untuk diwujudkan dalam upaya membentuk Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur dalam institusi yang diwariskan Rasulullah Saw yakni Daulah Khilafah 'ala Minhajj an-Nubuwah.
Wallaahu a'lam bish-shawab

No comments:
Post a Comment