![]() |
| Foto Ilustrasi |
Penulis : Mia Fitriah
Apakah demostrasi seperti ini? Dari merusak sejumlah fasilitas umum dan perkantoran di sekitar lokasi kejadian hingga memblokade jalan dan melempari warga dengan batu.
"Ada korban dari warga, mengalami luka akibat lemparan batu. Untuk jumlahnya berapa, masih kita identifikasi. Korban sudah kami bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis," ungkap Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri kepada detikcom, Kamis (15/8/2019).
Tiga orang personel kepolisian menjadi korban luka-luka dalam aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Manokwari, Papua, Senin (19/8/2019)
Demo merupakan salah satu wujud dari penyampaian aspirasi masyarakat yang dapat berwujud tulisan, unjuk rasa, dan lain-lain. Jadi bukan merupakan aksi protes yang dilakukan dengan memecahkan kaca, melempar batu ke kantor hingga merugikan masyarakat sekitar.
Janganlah masalah selalu direspon dengan keras dan merusak, tidak kah kita belajar dari akibat masalalu, kapan bisa berfikir modern jika selalu suka main rusak bakar dan teriak.
Demonstrasi menjadi lokomotif yang digemari rakyat secara umum sebagai sarana dalam memprotes (amar makruf nahi munkar) terhadap berbagai problematika publik.
Islam sendiri membolehkan itu aksi asalkan tidak dengan bentuk kezholiman.
Sebagai bentuk amar ma’ruf, kritik dan upaya perbaikan juga harus dilakukan secara baik
Perbedaan adalah sunnatullah, kemajemukan sudah taken for granted,realitas yang harus diterima dan disikapi secara arif dan bijaksana. Bahkan Allah menjadikan perbedaan tersebut adalah rahmat
Tetapi perbedaan tersebut kadang tidak kita sikapi dengan bijak dan toleran. Kejadian kemarin Massa di Manokwari, Papua Barat, mengamuk dan melakukan pembakaran di kompleks kantor gubernur, ini sangat disayangkan.
Kejadian yg berasal dari perbedaan suku dan budaya jelas memperkuat sinyal konflik tersebut.
mayoritas kita kadang belum secara utuh menerima dan mengayomi minoritas. Dan minoritas
seringnya berprasangka buruk kepada mayoritas.
interaksi intens antara warga bisa menghilanhkan prasangka, apabila warga asli dan pendatang sama-sama berupaya untuk membangun interaksi yang intens.
"Masyarakat lokal harus menerima dan masyarakat Papua harus mampu membangun komunikasi," ujar Hotman Siahaan.
Munculnya kisruh akhir-akhir ini menjadi kehawatiran bersama dan menjadi tugas kita untuk tidak mmperkeruh suasana dengn menyebarkan berita2 bohong biarkan negara lbih agresif mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketika kita melihat sejarah Rasulullah hijrah ke madinah yg multikultural, langkah pertama Rasulullah adalah mmbangun stabilitas kaumnya, baik dari fasilitas seperti membangun masjid dan mempersatukan kaum Muhajirin dan Ansor.
Kemudian setelah itu Rasulullah membuat mmbuat stabilitas diluar kaumnya; perjanjian dengan seluruh penduduk Madinah yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah. Dalam Piagam Madinah itu semua golongan diakui eksistensinya, tidak boleh diganggu oleh siapapun. Ketika itu mereka bersepakat menjadikan Nabi Muhammad sebagi pemimpin mereka dan berjanji bersama-sama menjaga Madinah dari segala macam bentuk rongrongan dan intimidasi dari pihak luar. Mereka mendirikan pasar, pusat interaksi masyarakat, dan segala macam bentuk kesejahtraan warga Madinah.
Nabi Muhammad sebagai pemimpin ketika itu menjunjung tinggi nilai keadilan.
KH Hasyim Muzadi pernah mengatakan “Indonesia itu mirip dengan kondisi yang terjadi pada masa Rasulullah, karena Indonesia bukan negara agama seperti Vatikan dan Timur Tengah, dan Indonesia bukan negara sekuler seperti AS dan Eropa, namun Indonesia negara Pancasila atau daulah salam (negara bangsa) yang menjadikan agama sebagai inspirasi kenegaraan.
Piagam Madinah tidak hanya sebuah perjanjian antarumat Islam tetapi dengan seluruh penduduk Madinah yang heterogen dan multikultural ketika itu.
Karena tidak mungkin menciptakan tatanan global tanpa prinsip-prinsip keadilan, kerjasama, toleransi, dll seperti yang terkandung dalam Piagam Madinah tersebut.
Yuk kita kembali mencontoh sebuah karya besar Nabi dlm mempersatukan perbedaan.

No comments:
Post a Comment