Oleh: Siti Maisaroh
“Orang kreatif termotivasi oleh hasrat untuk berprestasi, bukan nafsu untuk mengalahkan orang lain.” – Ayn Rand. Yah, kreatifitas adalah prestasi yang harus terus didukung dan dikembangkan. Seperti yang dilakukan oleh Munirwan, tangannya yang ulet dan terampil telah menghasilkan penemuan baru yakni benih padi IF8 dan telah menjadi ikon daerah Aceh Utara dalam bursa inovasi desa tingkat nasional 2018 lalu.
Namun, Munirwan, Kepala Desa Meunasah Rayeuk, kecamatan Nisam, Aceh Utara telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena diduga memproduksi dan mengedarkan benih padi unggulan, yaitu bibit padi jenis IF8 yang disebut belum tersertifikasi atau berlebel. Kasus ini diadukan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. (desapedia.id 26/7/2019)
Padahal, setiap orang pasti ingin menggoreskan prestasi dan apresiasi atas karyanya. Juga halnya Munirwan. Namun sayang, nasibnya justru malang dan harus berurusan dengan jeruji besi.
Memang banyak anak bangsa yang prestasinya membanggakan hingga menembus batas Negara. Populer hingga ke penjuru dunia. Tetapi sayangnya, tidak mendapatkan ruang di negeri sendiri.
Beberapa media seperti televisi, terus-menerus memberitakan harga kebutuhan ekonomi yang terus melunjak, bencana dan musibah, kriminal dan kejahatan, dan berita lain tentang kemelut permasalahan negeri ini. Hanya menyisakan kesan kalau negeri ini susah dan banyak masalah. Padahal, dibalik itu ada sesuatu yang harus diperlihatkan kepada seluruh publik, yaitu prestasi anak bangsa.
Adalah Chris Lesmana pria yang mampu berbicara banyak di dunia desain otomotif dunia. Salah satu karyanya yaitu, VW New Beetle yang lebih dikenal sebagai mobil kodok di Indonesia. Semua desain Chris sudah terdaftar di lembaga paten Amerika Serikat. Juga ada Ricky Elson, pembuat mobil listrik ini tidak mendapat tempat di Indonesia. Sekian lama ia menunggu izin mobil listrik dengan nama Selo dan Gendhis, namun izinpun tak kunjung keluar. Akhirnya ia memilih untuk kembali ke Jepang, karena terkesan telah digantung oleh Kementrian Riset dan Teknologi negeri ini. Dan masih banyak lagi prestasi anak bangsa yang dipandang sebelah mata oleh pemerintah negeri ini, tapi justru didukung oleh asing.
Ada juga Warsito P. Taruno si pencipta mesin pembunuh kanker. Terobosannya di dunia kesehatan cukup gemilang, karena alat yang ia ciptakan berbasis energy rendah. Sayangnya, produk Warsito tidak bisa diproduksi massal di Indonesia karena tidak mendapat izin dari lembaga kesehatan Indonesia. Akhirnya Justru Jepang yang regular memesan produk buatannya. Masih banyak lagi anak bangsa lainnya yang berprestasi namun tidak mendapat ruang di negeri sendiri.
Bila sudah seperti ini, terkesan Negara telah membunuh bibit-bibit para generasi yang berpotensi dengan segudang prestasi.
MENGABULKAN PERMINTAAN KOORPORASI
Tak lama lagi, Indonesia akan masuk ke era elektrifikasi kendaraan. Aturannya saat ini sedang menunggu teken dari Presiden Jokowi. Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto mengatakan, Peraturan Presiden atau Perpres tentang mobil listrik tetap akan mengakomodir produk impor secara utuh atau completely buit up, selama periode tertentu. “Untuk tahap awal, diberikan kesempatan untuk lakukan impor dalam bentuk CBU. Tapi, dalam periode tertentu. Karena, dalam waktu tiga tahun sudah diminta untuk kandungan lokal 35 persen,” ujarnya di Jakarta, Rabu 7 Agustus 2019. (Sumber: VIVA.CO.ID)
Ternyata, dibalik tidak pedulinya Negara pada prestasi anak bangsanya sendiri. Para penguasa justru tengah merancangkan program impor. Padahal, ini justru mempertontonkan ketidak mandirian negeri ini dalam berteknologi sebagai Negara yang sedang berkembang.
Juga pada pengadaan benih padi. Jika hal ini dibiarkan atau didukung oleh Negara, maka akan mengancam eksistensi beras impor yang selama ini pemerintah programkan. Tentu ini merugikan para kapital asing yang menaruh kepentingan.
Namun, ini adalah hal wajar. Karena system Kapitalisme yang mencengkram negeri ini lah yang membuat para penguasa tunduk dan terikat pada kepentingan asing. Walau harus mengorbankan harga diri bangsanya dan membunuh prestasi generasinya.
ISLAM PUNYA HARAPAN GEMILANG
Islam pernah megalami kejayaan pada era 780 M-1258 M pada masa ini parailmuan memberikan banyak kontribusi di bidang ilmu pegetahuan. Banyak karya yang diciptakan pada masa ini. Misalnya, Ibnu Sina, beliau adalah seorang ahli medis dari Persia yang menulis buku The Canon Of Medicine. Buku yang ia tulis menjadi pedoman mahasiswa kedokteran di Eropa hinga tahun 1600 an. Ada juga Jabir Ibn –Hayyan, beliau adalah ilmuan dari Iran yang ahli di bidang kimia. Dia adalah orang pertama yang mengidentifikasi zat yang bisa melarutkan emas. Jabir juga orang pertama yang menemukan asam sulfat, klorida dan nitrat. Kontribusi lainnya adalah pada penemuan alkali, dan masih banyak lagi ilmuan Muslim yang lainnya.
Mereka semua ada di era kejayaan Islam dalam naungan khilafah. Dimana Negara memberi dukungan serta fasilitas memadai untuk mengembangkan prestasi mereka. Negara juga tidak membebani rakyatnya yang ingin berkreatifitas dengan kerumitan aturan sertifikat seperti sekarang.
Sehingga putra dan putri bangsa banyak yang berlomba-lomba mengembangkan keilmuannya. Karena Islam mengajarkan betapa pentingnya memiliki ilmu, sebagaimana dalam Al Qur’an surah Al Mujadilah ayat 11, “….niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Khilafah sebagai Negara yang menerapkan seluruh hukum-hukum Islam akan memfasilitasi sehingga tercipta putra dan putrid bangsa yang berilmu dan bertakwa. Sehingga ilmunya bisa bermanfaat bagi bangsa dan negaranya dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Waallahu a’lamu bishowab.
