Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Ulama Difitnah

Wednesday, April 24, 2019 | Wednesday, April 24, 2019 WIB Last Updated 2019-04-24T11:01:53Z


Oleh: Yanyan Ketika Ulama Difitnah A.Md
Pengajar di Sekolah Tahfidz & Member Akademi Menulis Kreatif

Kata ulama mempunyai pengertian umum yaitu ahli ilmu, yang mencakup berbagai macam kepakaran, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Tapi yang benar-benar disebut ulama waratsatul anbiya' hanyalah yang memiliki rasa takut kepada Allah.

Allah Swt berfirman:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-Nya hanyalah ulama". (TQS Fathir:28)

Ulama pewaris para nabi, memiliki karakter antara lain: Alim, ilmu akhiratnya mendalam dan luas. Tekun dalam beribadah, tidak tamak dengan kebutuhan duniawi (zuhud). Tawadlu yakni bersikap dan berperilaku sesuai Alquran dan Sunah serta rendah hati. Juga wara' bersikap berhati-hati dalam semua hal. Faham tentang kemaslahatan umat di dunia. Senantiasa beramar ma'ruf nahi munkar, baik kepada penguasa maupun umat. Menjaga dan mencerdaskan umat agar tetap berpegang teguh pada syariat-Nya.

Dilansir oleh Republika.co.id, pada Senin, 15 April 2019, kasus fitnah terhadap mubaligh kenamaan, Ustaz Abdul Somad (UAS), terus berkembang. Teranyar, tidak tampak lagi konten-konten yang tendensius terhadap UAS di akun Twitter @saididu pasca pembajakan.

Ulama yang berani melakukan amar ma'ruf nahi mungkar akan menjadi musuh sistem politik yang menghalalkan segala cara, karena kepentingan mereka diusik. Semua ini dikarenakan sistem demokrasi sekularisme, yang telah mencengkeram dunia saat ini, yang berasaskan sekuler (pemisahan agama dari kehidupan).

Rasulullah Saw bersabda:

"Seseorang itu diberi cobaan menurut agamanya. Jika agamanya kuat maka cobaannya pun akan besar. Jika agamanya lemah maka cobaannya akan menyesuaikan."

Karena itu, ulama tidak luput dari cobaan sebagaimana manusia lainnya. Bahkan cobaan atas mereka bisa lebih berat. Cobaan atas mereka akan lebih menggiurkan jika berupa godaan keduniaan, lebih halus jika berupa tipu daya, dan lebih berat jika berupa kesempitan hidup.

Abu Said al-Khudri ra. dalam riwayat al-Hakim pernah bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya? Dijawab, "Para Nabi." Ia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Dijawab, "Para ulama." Ia bertanya lagi, "Lalu siapa lagi?" Dijawab, Orang-orang shalih."

Yang paling berbahaya dari segala cobaan terhadap mereka adalah cobaan atau fitnah yang mengakibatkan rusaknya agama mereka. Hal itu akan menyebabkan malapetaka bagi umat manusia dan kerusakan dalam skala umum. Sebagai contoh, ulama yang dekat dengan penguasa, membantu kezaliman mereka dan menjadi stempel kekuasaan (ulama su').

Ciri-ciri ulama su' (ulama jahat) adalah setan dari golongan manusia, berhasrat pada harta dan kedudukan dunia. Mereka lebih mengutamakan dunia dibandingkan akhirat. Mereka menakwilkan agama untuk kepentingan dunia. Di dunia mereka tercela dan terhina. Di akhirat mereka merugi (Al Ghazali. Ihya' Ulum ad Din, 3/265).

Ulama difitnah untuk kepentingan politik. Ini bentuk kegagalan sistem demokrasi dalam mengatasi kriminalisasi ulama.

Kekuasaan yang tegak diatas paham demokrasi sekularisme, yang memberlakukan hukum-hukum sekuler buatan manusia, jelas-jelas tidak sejalan dengan hakikat kekuasan dalam perspektif Islam, yakni akidah Islam harus dijadikan sebagai asas kekuasaan.

Ulama sebagai penerang bagi umat tidak layak difitnah. Seharusnya ulama dihormati karena mereka adalah warasatul anbiya.

Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam, maka jalan akan tampak kabur." (HR Ahmad)

Peran ulama bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, lebih dari itu bersama umat, ulama harus berupaya menerapkan akidah dan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya dalam tataran spiritual, moral dan ritual belaka. Karena itu, ulama harus selalu terlibat dalam perjuangan untuk mengubah realitas rusak yang bertentangan dengan warisan nabi. Ulama hendaknya menjadi pengontrol penguasa. Fatwa-fatwanya mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran, bukan malah menjadi sebab malapetaka bagi kaum muslim.

Agama Islam adalah agama yang paripurna. Di dalamnya terdapat solusi bagi seluruh aspek kehidupan.

Umat membutuhkan ulama yang berani menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya. Tidak takut dengan ancaman penguasa dzalim dan hanya takut kepada Allah Swt yang menguasai dan menciptakan dunia ini.
Wallahu a'lam bishshawab.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update