Penulis : Yanyan Supiyanti A.Md
(Pengajar di Sekolah Tahfidz & Member Akademi Menulis Kreatif)

Perempuan diciptakan oleh Allah Ta'ala dengan sebaik-baik bentuk. Perempuan memegang peranan penting dalam mempertahankan keluarga dan melahirkan generasi-generasi pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat Islam.

Dilansir m.detik.com, pada tanggal 8 Maret 2019, International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Pada 2019, balance for better menjadi tema yang diangkat. 

Dalam situs resminya, International Women's Day mengungkapkan alasan kenapa 'balance for better' menjadi tema pada 2019 ini, "Pada 2019 ini ditujukan untuk kesetaraan gender, kesadaran yang lebih besar tentang adanya diskriminasi dan merayakan pencapaian perempuan. 

Hal ini termasuk mengurangi adanya gap pendapatan atau gaji pria dan wanita. Memastikan semua aspek , pemerintahan, liputan media, dunia kerja, kekayaan dan dunia olahraga," demikian penjelasan di situs resmi Hari Perempuan Internasional.

Tema 'balance for better' dipilih sebagai tema Hari Perempuan Internasional pada 2019 ini karena belum terjadinya keseimbangan atau kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam dunia kerja, gap pay atau beda gaji masih terjadi antara pria dan wanita, dimana wanita dibayar lebih rendah dari pria.

Menurut filsuf Yunani, Aristoteles menganggap perempuan sederajat dengan hamba sahaya, sehingga memandang perempuan sebagai manusia tidak merdeka. Filosof Demosthenes, memandang perempuan hanya berfungsi untuk melahirkan anak. Dalam masyarakat  feodalis Eropa, abad ke-18 perempuan pun ditempatkan pada posisi yang sangat rendah, sumber godaan dan kejahatan, tidak memiliki hak dan terpinggirkan. 

Dan banyak pandangan Barat lainnya tentang perempuan yang menunjukkan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah, tak berdaya bahkan tidak layak untuk hidup.

Pandangan yang buruk terhadap perempuan menimbulkan perlakuan buruk pula terhadap perempuan baik di lingkungan domestik maupun publik. Ketika perempuan dianggap sebagai the second sex, maka wajar hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi tidak seimbang, dimana laki-laki seolah raja dan perempuan adalah budaknya. Penindasan terhadap hak-hak perempuan memunculkan simpati yang besar pada sebagian kalangan untuk memperjuangkan nasib mereka, gerakan kesadaran inilah yang kemudian dikenal dengan istilah feminisme. 

Menurut sejarahnya, ide feminisme lahir akibat rasa frustasi dan dendam terhadap peradaban Barat yang dianggap tidak memihak kaum perempuan. Bagi kaum feminis, memperjuangkan kesetaraan gender adalah sebuah keharusan untuk mengangkat nasib perempuan dari keterpurukan dan penindasan.

Dalam kapitalisme, perempuan justru dibebaskan dan setelah itu mereka seolah diberi kebebasan, tapi kebebasan yang dimaksud adalah bebas untuk menjadi budak, yakni sebagai mesin uang dengan upah minimnya, budak nafsu dengan kebebasan berperilakunya, budak belanja dengan sifat konsumtifnya.

Islam tidak memandang perempuan seperti pandangan feminis kapitalis yakni sebagai komoditi ekonomi, melainkan sebagai manusia yang harus dilindungi, dijaga kesucian dan kehormatannya, serta difasilitasi secara finansial oleh kerabat laki-laki mereka ataupun oleh negara sehingga mereka bisa memenuhi peran vital mereka sebagai istri dan ibu, sementara disaat yang sama Islam juga mengizinkan perempuan untuk mencari pekerjaan jika mereka menginginkannya. 

Namun perempuan harus berada dalam kondisi terbebas dari tekanan ekonomi dan sosial dalam bekerja, sehingga tanggung jawab rumah mereka tidak terganggu. Kaum perempuan juga harus terbebas dari kondisi yang menindas mereka berperan ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga untuk keluarga mereka.

Peran mulia yang Islam berikan kepada perempuan yakni sebagai ibu, ummun wa rabbatul bait (ibu pengatur urusan rumah tangga) dan ummu ajyal (ibu pencetak generasi).

Kaum perempuan hanya mulia dengan penerapan aturan Islam, bukan dengan mengokohkan sistem sekuler kapitalisme.

Perempuan hanya akan beroleh kemuliaan hakiki dengan penerapan sistem Islam secara total dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah dengan metode kenabian.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.[]

0 komentar:

 
Top