Penulis : Isnawati
                         
Merajut takut kepada Allah S.W.T dalam demokrasi adalah hal yang sulit sebab berbenturan dengan segala macam kepentingan. Sekulerisme Kapitalisme memisahkan kehidupan dari agama menjadi akar semua permasalahan. Kebenaran tergantung pada individu dan golongan, menganggap agama sebatas ritual saja. Agama dianggap racun yang mematikan bagi pengaturan kebijakan bernegara.

Ketika kepemimpinan dilandasi rasa takut kepada Allah secara otomatis akan mengesampingkan segala bentuk kepentingan pribadi dan kepentingan politiknya dalam usaha menomor satukan takut kepada Allah S.W.T, termasuk tidak mengkriminalkan syariat seperti yang baru-baru ini terjadi.

Salah satunya pembubaran ormas tertentu, padahal demokrasi sendiri yang memberikan kebebasan berperilaku dan beraqidah dalam rangka mengaplikasikan rasa takut kepada Allah S.W.T. Inilah bukti sebuah Gimmick takut kepada Allah S.W.T ala demokrasi.

Tanah pertiwi anugerah Illahi jangan ambil sendiri, Tanah pertiwi anugerah Illahi jangan makan sendiri. Aku heran aku heran satu kenyang seribu kelaparan, aku heran aku heran keserakahan diagungkan, aku heran aku heran yang salah dipertahankan, aku heran aku heran yang benar disingkirkan.

Sebait lagu tersebut adalah ungkapan perasaan umat yang dilantunkan oleh Frangky Sahilatua.

Sekulerisme membungkam dan memasung hak-hak minimal umat yang dilindungi konstitusi, akibatnya blunder yang terjebak dalam pusaran masalah tanpa solusi.
Kesederhanaan dalam berucap dan berperilaku membutuhkan kejujuran agar tidak terjebak pada pencitraan. Ucapan takut kepada Allah membutuhkan landasan yang benar dan kuat tentang Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan dalam berbangsa.

Tujuan dari adanya rasa takut kepada Allah S.W.T bagi seorang pemimpin adalah agar mengatur kemaslahatan umat dan menjalankan Syariat sebagai landasan pijakan dalam berbangsa.
Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa " Imamah (pemimpin) merupakan pemegang otoritas Syariat dalam melindungi agama dan mengatur urusan keduniawian."
Seorang pemimpin yang takut kepada Allah S.W.T akan tercermin dari cara menempatkan dirinya sebagai abdi atau pelayan bagi umat. Kebijakan yang dibuatnya mengacu pada kepentingan yang dipimpinnya dengan penuh kesadaran bahwa akan dipertanggung jawabkan kelak diakhirat dengan mengaplikasikan kekuasaan bukanlah alat untuk memuaskan nafsu.

Rasa takut kepada Allah S.W.T harus diwujudkan dalam ucapan dan perbuatan agar rakyat senantiasa merasakan keamanan sebagaimana kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz setelah dibaiat umat. Sesampainya dirumah beliau menangis ketika ditanya istrinya, "mengapa menangis ? saya takut kepada Allah S.W.T karena jika ada satu orang saja yang mati kelaparan karena cara kepemimpinanku maka saya akan ditanya Allah S.W.T.

Takut kepada Allah S.W.T adalah faktor paling penting dan utama untuk dipilih sebagai pemimpim. Jika rasa takut itu sudah tertanam tidak akan ada lagi penyimpangan-penyimpangan yang tanpa solusi dan hal tersebut hanya bisa dinikmati jika menerapkan Islam secara menyeluruh meliputi sosial, budaya, ekonomi dan politik demi terwujudnya Rahmatan Lil Alamin. Wallahu A`lam Bis Aswab.
 
Top