Oleh: Wulan Eka Sari
Jangan alergi dengan investasi. Karena dengan inilah lapangan kerja terbuka sebesar-sebarnya, ungkap Jokowi dalam penyampaian Visi Indonesia dalam Syukuran Nasional 2019 di Sentul Internasional Convention Center (SICC), Minggu (14/7).
Benarkah investasi dapat menjamin terbukanya lapangan kerja sebenar-benarnya? Memang benar. Adanya investasi dapat membuka lapangan pekerjaan. Namun tidak untuk rakyat Indonesia. melainkan adanya investasi akan memberi peluang derasnya TKA masuk ke Indonesia. Karena para investor mempersyaratkan adanya tenaga kerja asing. 
Selain itu, adanya investasi mereka gunakan untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia secara legal. Mulai dari sektor hulu sampai sektor hilir. Rakyat akhirnya menjadi tamu di negeri sendiri dalam hal pengelolaan sumber daya alam. Maka arah rezim baru melalui investasi semakin mengukuhkan imperialisme.
Dilansir dari pedomanbengkulu.com, 16 Juli 2019 terdapat tujuh bahaya dibalik investasi. Pertama, para investor akan semakin dominan dengan penguasaan capital asing terhadap sumber daya dan asset strategis nasional.
Kedua, para investor akan memegang ‘tampuk produksi’ sejumlah sektor produksi yang strategis dan menguasai hajat hidup rakyat banyak yang akhirnya keuntungan dari aktivitas ekonomi sebagaian besar mengalir keluar melalui kantong perusahaan asing.
Ketiga, meningkatkan konflik perebutan sumber daya antara capital versus rakyat, seperti dalam konflik agrarian yang sering terjadi di negeri ini.
Keempat, investasi asing juga akan berdampak pada menurunnya potensi pendapatan Negara akibat kebijakan pengurangan atau penghapusan pajak bagi korporasi.
Kelima, investasi asing akan mengakibatkan merosotnya kesejahteraan kaum buruh karena kebijakan politik upah murah dan liberalisasi pasar tenaga kerja untuk menarik investasi.

Keenam, investasi akan mengakibatkan meningkatnya penggunaan aparatus kekerasan Negara untuk meredam berbagai gejolak dan protes yang menganggu investasi.
Ketujuh, investasi asing akan menciptakan celah bagi berkembang-baiknya praktek korupsi oleh para pejabat, akibat politik yang hanya melayani kepentingan bisnis.
Tak kalah penting bahaya penjajahan dan bahaya ideologis. Meskipun secara fisik Indonesia telah merdeka. Namun jika kekayaan alam ini dikeruk oleh asing, maka Negara ini belumlah merdeka. Sebab, sebelum Negara Indonesia merdeka mereka melakukan pengerukan sumber daya alam. Sama kondisinya seperti sekarang. Inilah penjajahan gaya baru. Secara ideologis, haluan ekonomi politik negeri ini sudah mengabdi kepada kepentingan Amerika, China, Jepang, dan Eropa.
Dengan berkedok investasi, pemerintah justru menjerumuskan Negara ke dalam kubangan utang dan tergadainnya kemandirian Negara. Dari sini menunjukkan betapa pentingnya membangun Negara ideologis yang kuat, mandiri dan memiliki wibawa untuk membangkitkan umat. Jalan satu-satu untuk dapat bangkit adalah dengan ideologi Islam. Yakni dengan menerapkan Islam secara totalitas dalam naungan Khilafah.

 
Top