Oleh : Ari Windarti
Pegiat Dakwah tinggal di Bandung

Dalam ajaran Islam tidak dikenal sekularisme atau pemisahan urusan agama dengan urusan dunia, termasuk pemisahan agama dengan kekuasaan. 
Imam al Ghazali menyatakan " Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap". 
Menurut Imam an Nasafi keberadaan penguasa bertujuan untuk memelihara urusan umat dan menegakkan hukum hukum Islam. 

Islam menjelaskan bahwa ada dua jenis penguasa di muka bumi yang Allah cintai dan yang Allah benci, pemimpin yang Allah cintai adalah pemimpin yang adil. Kelak pada hari kiamat ia akan menjadi insan yang paling di cintai Allah SWT dan memiliki kedudukan yang dekat dengan Nya. 

Selain dicintai Allah SWT pemimpin yang baik pastinya dicintai dan di doakan oleh segenap rakyatnya. 

Kewajiban imam atau penguasa adalah berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan dan menunaikan amanah. 

Inilah dua sifat yang melekat pada pemimpin yang adil. Pertama menjalankan hukum hukum Allah SWT seperti menjaga pelaksanaan ibadah mahdhah umat ( shalat lima waktu , shalat jumat, shaum Ramadhan , zakat dll) mengawasi dan memelihara muamalah agar sesuai syariah islam. 

Kedua menunaikan amanah yang dipikulkan kepada dirinya yakni memelihara urusan umat, menjamin kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan, agar dapat diperoleh warga dengan mudah dan murah. Menyelenggarakan pendidikan kesehatan dan keamanan dan melindungi rakyat dari berbagai ganguan dan ancaman. Para pemimpin adil berhak mendapatkan naungan Allah di akhirat kelak. 

Sabda Nabi SAW . 
Ada tujuh golongan yang berhak mendapatkan naungan Allah di hari yang tiada naungan kecualu naungan Nya. Pemimpin yang adil ( HR Bukhari Muslim ). 

Sebaliknya Nabi saw juga mewanti wanti umat akan kehadiran para pemimpin jahat yang paling jauh kedudukanya dari Nya adalah pemimpin yang jahat (HR at Tirmidzi). 

Para pemimpin macam ini menuai kebencian dan caci maki dari rakyat mereka sebaliknya mereka pun membenci dan mencaci maki rakyatnya. 

Para pemimpin yang jahat ini menyimpang dari hukum hukum Allah, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Serta kerap menghianati amanah. Para pemimpin seperti ini disebut oleh Nabi saw, sebagai imarah as sufaha (para pemimpin dungu ). Para pemimpin ini tidak menggunakan petunjuk Islam dan sunnah Nabi saw . Artinya tidak menjadikan islam sebagai aturan dalam kehidupan. Kerap membohongi umat dan menzalimi umat. Kehadiran pemimpin seperti ini telah diperingatkan Nabi saw sebagai ancaman bagi umat selain Dajjal. 

Kepada kaum Muslim diperintahkan untuk tidak bersekutu dengan pemimpin zalim. 
Jadi mengapa ada pemimpin zalim ?. Ketika agama telah dipisahkan dari kekuasaan tentu tidak ada lagi yang dapat menghentikan syahwat kekuasaan dan keserakahan. Akan beda bila para pemimpin menjadikan akidah Islam sebagai pondasi kehidupan dan kekuasaan. 
Wallahu a' lam bi showab
 
Top