Penulis : Lia Sulastri

Pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2019-2024 telah usai dilaksanakan beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 April 2019. Dan kemenangan ini diraih oleh pasangan calon presiden (capres) Joko Widodo dan calon wakil presiden (cawapres) Ma'aruf amin. Pasangan capres dan cawapres ini rencananya akan dilantik sebagai presiden dan wakil presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober 2019.

Namun belum juga pasangan capres dan cawapres terpilih ini dilantik, beberapa partai yang menjadi koalisi pasangan capres dan cawapres ini sudah mulai berebut kursi kekuasaan. Masing-masing partai koalisi meminta "jatahnya" untuk anggota partainya agar dapat duduk di kursi kekuasaan DPR MPR.

Betapa tidak, beberapa partai koalisi merasa bahwa kemenangan yang diraih oleh capres dan cawapres ini adalah berkat usaha dan kerja keras mereka. Maka tidak salah jika mereka meminta "jatah" kursi sebagai pengganti dari apa yang sudah diusahakan.

 Sudah bukan menjadi sesuatu yang tabu di negara yang menggunakan sistem demokrasi kapitalis bahwa pemilihan presiden dan wakil presiden ini menjadi ajang transaksional yang pada akhirnya menjadi ajang "bancakan" bagi beberapa partai untuk saling berebut kursi kekuasaan. Karena dari sinilah segala kebijakan-kebijakan yang akan menguntungkan partai dan kelompok bisa diraih. 

Alih-alih bahwa pemerintah akan membuat kebijakan yang menguntungkan rakyat dan membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik namun pada kenyataannya justru yang diuntungkan adalah partai dan kelompok yang mendukung capres dan cawapres tersebut. Rakyat hanya dijadikan sebagai alat untuk sekedar meraih suara untuk merebut kekuasaan semata, tak lebih dari itu. 

Lalu bagaimana Islam memandang seorang pemimpin?
Pemimpin adalah tanggung jawab. Tujuan dari tanggung jawab itu adalah Iqomatud Din wa siyasatud Dunya bihi yaitu menegakkan agama dan mengatur urusan dunia dengan agama. Maka ketika hadir seorang pemimpin di tengah-tengah rakyat, tugas utama nya adalah menegakkan agama Allah dan mengatur seluruh kehidupan rakyatnya dengan aturan-aturan yang berasal dari Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dengan aturan yang berasal dari Allah dan Rosul-Nya inilah maka kehidupan rakyat akan menjadi lebih baik dan sejahtera. Karena sejatinya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh seorang pemimpin tidaklah akan merugikan rakyatnya. Pemimpin akan meriayah rakyatnya dalam semua aspek kehidupan. Rosulullah Saw bersabda " ada tujuh golongan yang akan dilindungi dalam naungan Nya pada hari tidak ada perlindungan kecuali dari Nya. Dan diantara nya adalah imam yang adil " ( HR. Bukhori Muslim).

Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, seorang pemimpin akan betul-betul bekerja dengan baik dalam periayahan kehidupan negara dan rakyatnya yang sesuai dengan Sunnatulloh dan Sunnah Rosul. Karena Islam adalah agama yang Rahmatan Lil 'aalamiin.
Wallahu 'alam bishshowab.
 
Top