Oleh : Rahmi Surainah, M. Pd, 
Warga Kutai Barat Kaltim

Hasil rembuk puluhan perangkat desa dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tenggarong Seberang, Sebulu, dan Muara Kaman menuntut perbaikan jalan provinsi. Kepala Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, Ismith, menyampaikan hampir seluruh desa di kecamatan tersebut dibelah oleh jalan provinsi dari Tenggarong Seberang-Muara Kaman. Karena itu, pihaknya bersepakat untuk menuntut perbaikan jalan yang dianggap penting tersebut. Dari informasi yang Ismith dapat, jalan tersebut diperkirakan mencapai lebih 90 kilometer. Sebagian titik diakuinya memang sudah ada yang disemen. Namun, masih jauh dari cukup. 

Sebelumnya, puluhan perangkat desa di daerah ini menggelar rembuk. Mereka menuntut janji politik Gubernur Kaltim Isran Noor yang berjanji melakukan perbaikan jika terpilih menjadi Gubernur. “Jadikan saya gubernur, maka akan terealisasilah yang namanya pembangunan infrastruktur yang diperlukan oleh orang banyak. Kalau jalan tol itu diperlukan oleh orang-orang kaya,” ucap Isran Noor dalam video yang diunggah oleh akun media sosial Facebook milik Ismit Shr itu. 

“Kalau jalan raya Sebulu-Muara Kaman itu menjadi prioritas. Paham? Menangkan, buktikan dulu di sini kemenangan saya,” lanjut mantan Bupati Kutai Timur itu. Janji saat kampanye dalam bentuk video berdurasi 31 detik beredar di sejumlah akun media sosial, Gubernur Isran Noor menyampaikan janji politik saat kampanye Pilgub Kaltim 2018.
http://kaltim.prokal.co/read/news/358380-hasil-rembuk-dibawa-ke-gubernur.html

Jalan Hak Rakyat, Kewajiban Penguasa

Jalan merupakan hak rakyat sekaligus kewajiban penguasa untuk memenuhinya. Pembuatan atau perbaikan jalan sering dijadikan janji untuk meraih jalan kekuasaan pada masa kampanye. Calon penguasa "menyuap" masyarakat dengan janji tersebut namun sayang dia lupa akan janjinya setelah menjadi penguasa. Wajar masyarakat menuntut janjinya setelah berkuasa.

Perbaikan jalan rusak seharusnya lebih mendapat perhatian dari pemerintah. Apalagi jika masyarakat sudah lama menanti jalan mulus dan menuntut kepada pemerintah agar merealisasikan janjinya. Jangan sampai penguasa lupa akan janjinya sehingga janji hanya sekedar janji. Padahal, jalan bukan hanya janji saat kampanye raih jalan kekuasaan tetapi memang hak masyarakat dan kewajiban penguasa.

Pembiaran berlanjut penuntutan oleh masyarakat mengindikasikan penguasa telah abai terhadap pelayanan masyarakat. Penguasa dalam era kapitalis sekuler hanya menjadikan jabatan sebagai jalan memenuhi ambisi dan meraih kekuasaan bukan amanah dari masyarakat apalagi Sang pencipta yang harus ditunaikan. Sistem sekulerisme yang diadopsi oleh negara telah melahirkan sistem kehidupan kapitalisme termasuk dalam urusan jalan. Cara pandang kapitalisme pun telah menjadikan penguasa dalam hal pelayanan publik tidak lagi sebagai pengabdian kepada masyarakat. 

Teladan Penguasa dalam Hal Jalan

Dalam urusan jalan, sistem Islam telah memberikan teladan sekaligus solusi karena berasal dari Sang Pencipta sekaligus Pengatur. Rasulullah saw telah mencontohkan sosok pemimpin diikuti oleh para Khalifah sesudahnya. Diantaranya bisa dilihat dari kisah Umar bin Khattab tentang jalan yang berlubang di Irak. 

Amirul mukminin, Umar bin Khattab yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis dan kelihatan sangat terpukul. Informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Irak telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlubang. 

Melihat kesedihan Khalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” Dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab berkata: “Apakah engkau sanggup menjawab dihadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”

Dalam redaksi lain Umar bin Khattab berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, “Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin dalam hal jalan. Betapa pemimpin sangat peduli terhadap keledai yang terperosok karena jalan rusak. Apalagi jika jalan rusak memakan korban manusia, tentu hal demikian tidak akan terjadi. Pemimpin ideal seperti Umar bin Khattab akan lahir ketika dia taat pada aturan Allah dan mengemban amanah semata karena Allah dengan menerapkan Syariah Islam kaffah.
Wallahu a’lam...
 
Top